Muhammad Arif Nasution
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Program Pascasarjana, Universitas Bosowa

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengendalian Konversi Penggunaan Lahan Wilayah Pesisir Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Basri Basri; Kamran Aksa; Muhammad Arif Nasution
Urban and Regional Studies Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v5i2.2624

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan terjadinya Konversi Penggunaan Lahan wilayah Pesisir Kecamatan Labakkang serta mengetahui pengaruh ekonomi terhadap masyarakat Jenis penelitian ini Diskriktif Kuantitatif dengan Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, survey instansi, wawancara, Koesioner dan dokumentasi kemudian diproses menggunakan metode analisis Deskriptif Kualitatif dan Kuantitatif (chi - Kuadrat dan analisis Diskriktif Kualitatif). analisis Chi-kuadrat analis ini di gunakan untuk mengetahui faktor mana yang paling berpengaruh terhadap perubahan pemanfaatan Lahan serta diskriktif kualitatif di gunakan untuk menguraikan terkait bagaimana pengaruh ekonomi masyarakat terhadap konversi penggunaan lahan Dari 5 variabel proses analisis Chi-kuadrat diperoleh 2 faktor yang menyebabkan terjadinya Konversi Penggunaan lahan yaitu Produktivitas Lahan dan Tingkat ekonomi dimana sangat berpengaruh kuat terhadap perubahan pemanfatan Lahan di wilayah pesisir labakkang Arahan pengendalian pemanfaatan lahan Perlu adanya Aturan zonasi yang efektif,Aturan per izinan, Aturan jual beli lahan yang di terapkan, serta Sentralisasi penguasaan lahan. Land Use Conversion Control of the Labakang Coastal Area, Pangkajene Islands Regency. supervised by Kamran Aksa and Muh Arif Nasution This study aims to determine what factors cause Land Use Conversion in the Coastal Area of Labakkang District and to determine the economic impact on society. This type of research is Quantitative Discrimination with data collection methods using observation methods, agency surveys, interviews, questionnaires, and documentation, then processed using Descriptive Qualitative and Quantitative analysis methods (chi - Square and Qualitative Discriminatory analysis). Chi-square analysis determines which factors influence land use change most, and discrete qualitative analysis describes how the community's economic influence influences land use conversion. Of the 5 variables of the Chi-square analysis process, 2 factors were obtained that led to land use conversion, namely land productivity and economic level, which strongly influenced changes in land use in the coastal area of Labakkang. Directions for controlling land use There is a need for effective zoning regulations, permit regulations, applied land sale and purchase regulations, and centralization of land tenure.
Pengendalian Pemanfaatan Ruang Lahan Pertanian Berbasis Berkelanjutan Ketahanan Pangan Di Kabupaten Soppeng Irfani Darma Haris; Muhammad Arif Nasution; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v5i2.2704

Abstract

Untuk mengendalikan perubahan penggunaan lahan pertanian, melalui Undang Undang RI Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, diharapkan dapat mendorong ketersediaan lahan pertanian untuk menjaga kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan. Prinsipnya pada dasarnya adalah implementasi kebijakan yang merupakan suatu cara agar sebuah kebijakan dapat tercapai tujuannya. Dalam penerapannya, ada beberapa pilihan langkah, salahsatunya adalah langsung mengimplementasikan dalam bentuk program, dan melalui formulasi kebijakan turunan dari kebijakan publik tersebut (Nugroho, 2006). beberapa model implementasi kebijakan berdasarkan pandangan dari beberapa tokoh, dimana model-model tersebut dalam prosesnya mengacu pada dua perspektif yaitu pendekatan top down maupun bottom up. Tipe penelitian adalah deskriptif dengan metode gabungan (mixed methods). Menurut Sarwono (2011), yang dimaksud dengan mixed method adalah menggunakan dua atau lebih metode yang diambil dari dua pendekatan yang berbeda yaitu pendekatan kuantitatif atau kualitatif. Adapun Implementasi kebijakan perlindungan lahan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Soppeng baru sampai pada proses identifikasi lahan, Sedangkan Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi adalah sosialisasi, petugas, dana, respon implementor, pemahaman terhadap kebijakan, peraturan pendukung, SOP, koordinasi antar instansi, tingkat pendidikan, usia, kepemilikan lahan, alasan konversi, dukungan publik dan komitmen pelaksana, menunjukkan hasil yang tidak signifikan, karena implementasi Undang-Undang No 41 Tahun 2009 berlaku secara nasional. To control the conversion of agricultural land, through Republic of Indonesia Law Number 41 of 2009 concerning Protection of Sustainable Food Agricultural Land, it is hoped that it can encourage the availability of agricultural land to maintain self-sufficiency, food security and sovereignty. In principle, policy implementation is a way for a policy to achieve its goals. In implementing a policy, there are two choices of steps, namely directly implementing it in the form of a program and through a derivative policy formulation of the public policy (Nugroho, 2006). several models of policy implementation based on the views of several figures, in which these models in the process refer to two perspectives, namely the top down and bottom up approaches. This type of research is descriptive with mixed methods. According to Sarwono (2011), what is meant by a mixed method is using two or more methods taken from two different approaches, namely a quantitative or qualitative approach.The implementation of sustainable agricultural land protection policies in Soppeng Regency has only reached the land identification process, while the factors that influence implementation are socialization, officers, funds, implementor responses, understanding of policies, supporting regulations, SOPs, coordination between agencies, level of education, age, land ownership, reasons for conversion, public support and implementing commitment, show insignificant results, because the implementation of Law No. 41 of 2009 applies nationally.
Optimalisasi Pengembangan Kawasan Obyek wisata Benteng Alla Desa Benteng Alla Utara, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang Nur Reski; Syafri Syafri; Muhammad Arif Nasution
Urban and Regional Studies Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v5i2.2726

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengembangan kawasan obyek wisata Benteng Alla sesuai dengan historical kawasan dan untuk mengidentifikasi potensi dan daya tarik yang dapat dikembangkan dalam mengoptimalkan pengembangan kawasan obyek wisata Benteng Alla. metode analisis yang digunakan yaitu: Metode Analisis Deskriptif Kualitatif dan Metode Analisis Pembobotan menggunakan Indeks bobot Kualitatif dan Kuantitatif pengembangan kawasan wisata dengan melihat potensi kawasan wisata melalui variabel yang akan diteliti. seperti kondisi fisik, aksesibilitas, sosial budaya masyarakat, sarana dan prasarana obyek wisata, dan atraksi wisata. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa kawasan obyek wisata Benteng Alla dapat dkembangkan sebagai obyek wisata sejarah, dan obyek wisata penunjang lainnya yang dapat menunjang keberadaan obyek wisata untuk mengembangkan kawasan obyek wisata Benteng Alla dalam kaitannya dengan historikal kawasan maka perlu adanya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan situs sejarah Benteng Alla. Dalam mengoptimalkan potensi dan daya yang dimiliki kawasan obyek wisata Benteng Alla maka Pengembangan obyek wisata dilakukan melalui penataan kawasan dengan membagi atas 2 zona yaitu zona 1 (zona konservasi) dan zona 2 (zona pemamfaatan). The purpose of this study is to determine the development of the Alla Fortress tourist area in accordance with the historical area and to identify the potential and attractiveness that can be developed in optimizing the development of the Alla Fortress tourist area. The analytical methods used are: Qualitative Descriptive Analysis Method and Weighting Analysis Method using Qualitative and Quantitative weight indexes for the development of tourist areas by looking at the potential of tourist areas through the variables to be studied. such as physical conditions, accessibility, social culture of the community, tourist facilities and infrastructure, and tourist attractions. Based on the results of the analysis and discussion, it can be concluded that the Alla Fortress tourist area can be developed as a historical tourism object, and other supporting tourism objects that can support the existence of tourism objects. the surroundings of the historical site of the Alla Fort. In optimizing the potential and power of the Fort Alla tourism object area, the development of tourism objects is carried out through structuring the area by dividing into 2 zones, namely zone 1 (conservation zone) and zone 2 (use zone).