Fandi Alfiansyah Siregar
Universitas Dharmawangsa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

METHODS OF COMMUNICATION IN THE FAMILY: (HISTORY ABOUT COMMUNICATION BETWEEN CHILDREN AND ETHICAL CULTIVATION FOR CHILDREN) THE CHILDREN) Fandi Alfiansyah Siregar; Aisyah Rambe; Rafiqah Yusna Siregar
Dharmawangsa: International Journal of the Social Sciences, Education and Humanitis Vol 4, No 1 (2023): Social Sciences, Education and Humanities
Publisher : Universitas Dharmawangsa Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/ijsseh.v4i1.3522

Abstract

ABSTRACT  The study aims to examine how the communication between children within the family relates to the cultivation of morals for them. The theory considered relevant and used in this study is Family Communication. In contrast, the research method applied in this research using a qualitative descriptive approach. This research also uses content analysis techniques from the group of hadiths that the researchers use to then be analyzed with the focus of family communication research in order to implant ethics for children. The data collection technique is carried out in two stages, namely the study of libraries and documentation. The results of research show that the ethics of communication in Islam are built on the guidance that is indicated by the Qur’an and the Sunnah. Islam teaches to communicate with full civilization, respect, respect for the person who speaks, and so on. When speaking to others, Islam gives a clear foundation on how to speak. When ethics is associated with family communication, then ethics becomes the basis of policy in family communication. Ethics provides a moral foundation in building a susila system against all attitudes and behaviors of individuals or groups in communication. Thus, without ethics communication is judged unethical. The moral behavior of children is reflected in the ethics of communication from their families.The morality of children depends on communication within the family. Keywords: Family Communication, Hadith and Morality
penting nya sikap toleransi di lingkungan kampus Alya Amnindia Putri; Mallika Febri Gunadi; Nanda Alisa Putri; Ulfa Tresya Br Situmorang; Fandi Alfiansyah Siregar
Jurnal Publik Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jpr.v13i1.8905

Abstract

Langkah awal dalam memahami dinamika sosial di ruang lingkup perguruan tinggi harus dimulai dari pengakuan terhadap realitas keberagaman itu sendiri. Kampus, seperti halnya Universitas Dharmawangsa yang terletak di Kota Medan, merupakan sebuah ruang publik yang mempertemukan ratusan bahkan ribuan anak muda dari berbagai penjuru dengan latar belakang yang sangat heterogen. Mahasiswa yang masuk ke lingkungan ini tidak datang dengan kepala kosong; mereka membawa serta identitas kulturalnya masing-masing, mulai dari perbedaan suku bangsa, agama, budaya lokal, bahasa daerah, hingga pola pikir yang terbentuk dari lingkungan asal mereka. Keberagaman ini di satu sisi merupakan aset intelektual yang sangat berharga karena mampu memperkaya perspektif dalam ruang-ruang diskusi akademis. Namun, di sisi lain, jika perbedaan yang mencolok ini tidak dibarengi dengan kedewasaan bersikap, maka lingkungan kampus akan sangat rentan terhadap gesekan sosial, konflik horizontal, ataupun pengotak-ngotakan pergaulan. Oleh karena itu, kehadiran sikap toleransi yang bisa muncul akibat salah paham antarkelompok, kajian ini sengaja diangkat dengan fokus utama untuk menguliti seberapa penting sebenarnya penerapan sikap toleransi tersebut di dalam ekosistem kampus. Artikel ini dirancang dengan tujuan utama untuk menjelaskan secara gamblang mengenai urgensi nilai-nilai tenggang rasa di kalangan mahasiswa, sekaligus memetakan apa saja dampak nyata yang ditimbulkannya terhadap kualitas hubungan sosial antar-mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemahaman yang mendalam mengenai fungsi toleransi, diharapkan mahasiswa tidak hanya mengejar pencapaian indeks prestasi kumulatif yang tinggi secara egois, melainkan juga mampu menumbuhkan kecerdasan emosional dan sosial mereka. Kampus harus diposisikan sebagai laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar menjadi warga negara yang inklusif, terbuka, dan siap hidup berdampingan secara damai di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Untuk membedah fenomena ini secara objektif dan memiliki landasan teoretis yang kuat, penulisan artikel ini sepenuhnya mengandalkan metode studi pustaka (library research). Pendekatan ini dilakukan dengan cara memburu, mengumpulkan, menyaring, dan menganalisis berbagai sumber data sekunder yang relevan dengan topik yang dikaji. Bahan-bahan literatur tersebut didapatkan dari buku-buku teks akademik yang otoritatif, artikel-artikel jurnal ilmiah bereputasi hasil penelitian terdahulu, serta berbagai lembaran peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Beberapa regulasi utama yang dijadikan pisau analisis dalam kajian ini antara lain mencakup nilai-nilai dasar di dalam Pancasila, jaminan kebebasan beragama dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta amanat yang tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Semua sumber literatur ini kemudian dibaca secara kritis, dicatat poin-poin pentingnya, lalu dikontekstualisasikan dengan realitas perilaku sosial mahasiswa di lingkungan kampus saat ini. Penerapan sikap tenggang rasa ini bukan hanya penting untuk kenyamanan belajar di kelas, melainkan juga merupakan bentuk manifestasi langsung dari pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dan pencapaian tujuan luhur pendidikan nasional. Oleh karena itu, direkomendasikan agar pihak pengelola perguruan tinggi, dosen, dan organisasi kemahasiswaan secara kolektif terus menggalakkan program-program yang inklusif demi menumbuhkan ruang akademis yang sehat, aman, dan mencerminkan karakter bangsa yang beradab