Artikel ini dimaksudkan untuk memaparkan upaya mengintensifkan pelaksanaan manajemen mutu pendidikan dengan mengimplementasikan McKinsey’s kerangka kerja 7S. Mutu menjadi aspek terpenting dalam setiap lembaga pendidikan, dimana mutu diyakini sebagai modal utama dalam menghadapi persaingan. Oleh sebab itu, mengelola sebuah Lembaga pendidikan haruslah secara komprehensif dan terintegrasi. Hal tersebut tidak terlepas dari bagaimana sebuah lembaga mengelola mutu itu. Pengelolaan manajemen mutu pada dasarnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten dan mencapai peningkatan secara terus-menerus dalam setiap aspek aktivitas lembaga pendidikan. Pada dasarnya manajemen mutu berusaha meningkatkan mutu pekerjaan, produktivitas dan efisiensi melalui perbaikan kinerja baik internal maupun eksternal. Mutu dari pendidikan dapat diketahui dari pemenuhan delapan standar pendidikan yang harus dipenuhi oleh sekolah. Delapan standar pendidikan tersebut meliputi, standar isi (pelaksanaan dan pengembangan kurikulum), standar proses, standar penilaian, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan elemen di institusi pendidikan,standar pembiayaan pendidikan, standar sarana dan prasarana pendidikan.Oleh karena itu , Salah satu usaha yang relatif baru di sekolah adalah model yang diterapkan pada kerangka kerja 7S McKinsey.Model kerangka kerja 7S McKinsey mempromosikan manajemen berbasis nilai yang memiliki unsur unsur keras dan unsur lunak. Elemen keras meliputi: strategi, struktur, dan sistem, sedangkan elemen perangkat lunak meliputi: nilai, keterampilan, gaya, dan staf. Kedua unsur-unsur tersebut terintegrasi dalam pelaksanaan yang sangat penting bagi Pendidikan agar manajemen mutu pendidikan sekolah dapat berhasil sesuai harapan