Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Media Pendidikan Politik: Analisis Perspektif Pemuda dan Alternatifnya dalam Konteks Covid-19 Oki Anggara; Agus Rendra
SAP (Susunan Artikel Pendidikan) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/sap.v8i1.16081

Abstract

This article aims at finding and figuring out what political education media is interesting and needed for youth so that the substance and function of political education can run as optimally as possible. The COVID-19 pandemic that has occurred in recent years has had a significant impact on the implementation of political education as a logical consequence of limiting activities outside home. The media used before the pandemic was not optimal in building political understanding. This makes the community (including youth) need other alternatives that are suitable for pandemic conditions. This study uses mixed methods with a sequential explanatory strategy. The participants in this study were youth, practitioners and experts. Quantitative data analysis was carried out using descriptive and qualitative statistics using the Miles and Huberman model analysis. The research findings showed that political education was seen as something related to state affairs by today's youth. In the context of the COVID-19 pandemic, political education media that is seen as interesting and needed for youth is indirect political education media, such as social media which contains interesting, interactive, up-to-date, and light audio-visual content so that it can reach many youth widely and more desirable. In addition, Korean drama is seen as an alternative media for political education.
Penanaman Nilai-Nilai Kebhinekaan Melalui Pendidikan Agama: Studi Kasus di SMAN 1 Silat Hilir Umi Khoerunisa; Zulkifli; Oki Anggara
Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan (JUPANK) Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan (JUPANK)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jupank.v6i1.9601

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kasus diskriminasi dan perundungan yang sering terjadi di Indonesia karena perbedaan latar belakang. Contohnya peristiwa sampit, perundungan yang dialami siswa kelas dua SDN Jomin Barat 2 Cikampek pada tahun 2023 sebab berbeda keyakinan, dan perilaku siswa di SMAN 1 Silat Hilir yang masih membedakan teman berdasarkan latar belakang suku saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Dalam hal ini pendidikan agama dapat menjadi salah satu alternatif untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan mencegah perilaku-perilaku tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penanaman nilai-nilai kebhinekaan di SMAN 1 Silat Hilir melalui guru Pendidikan Agama Islam, guru Pendidikan Agama Katholik, guru Pendidikan Agama Kristen, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini berlokasi di SMAN 1 Silat Hilir menggunakan metode berupa pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: wawancara semi terstruktur dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling, observasi non partisipan, dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa pengumpulan data mentah, reduksi data, penyajian data (data display), serta penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa guru pendidikan agama (Islam, Katholik, Kristen) menanamkan nilai kebhinekaan melalui dua langkah yaitu: a) melalui pembelajaran pendidikan agama di kelas seperti; melakukan integrasi nilai kebhinekaan pada materi pelajaran agama, menggunakan pendekatan kontekstual dalam menyampaikan materi pelajaran (guru PAI tidak menggunakan ini), dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif. b) melalui kegiatan di sekolah. Dampak terhadap sikap, perilaku, pola pikir, dan cara siswa berkomunikasi juga sudah mulai menunjukan perkembangan positif, namun masih terdapat beberapa siswa Islam yang kurang toleran pada awal masa studi, tetapi dapat diminimalisir seiring berjalanya waktu. Kemudian faktor pendukung dan penghambatnya dapat dikategorikan menjadi dua macam yakni faktor internal dan eksternal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa SMAN 1 Silat Hilir telah menanamkan nilai-nilai kebhinekaan melalui pendidikan agama yang tampak dari adanya kemajuan dalam pembentukan karakter siswa, Meskipun demikian, proses tersebut masih memerlukan perhatian dan penguatan secara berkelanjutan terutama pada awal masa studi (kelas X). Kata Kunci: Penanaman Nilai, Nilai-Nilai Kebhinekaan, Pendidikan Agama, Toleransi