Arus Foreign Terrorist Fighters (FTF) memicu kekhawatiran dunia, termasuk negara-negara di Asia Tenggara. Pada tahun 2017, Indonesia mengajukan inisiatif “Our Eyes” untuk menciptakan sebuah wadah bagi negara-negara ASEAN untuk bertukar informasi intelijen guna memberantas kegiatan terorisme transnasional. Inisiatif tersebut kemudian diubah menjadi “ASEAN Our Eyes” (AOE). Tetapi, beberapa tahun setelah dibentuknya inisiatif tersebut, terjadi peristiwa pengeboman gereja di Jolo, Filipina. Inisiden tersebut menunjukkan hambatan untuk mengimplementasikan inisiatif AOE. Pelaku diidentifikasi sebagai Warga Negara Indonesia yang berhasil masuk ke Filipina berkat bantuan jaringan teroris lokal di Filipina. Idealnya, inisiatif AOE dapat mencegah serangan tersebut. Artikel ini akan mendiskusikan dinamika domestik di Indonesia dan Filipina mengingat pentingnya memahami dinamika lokal nasional sebelum menilai efektivitas dari sebuah inisiatif di tingkat kawasan. Kajian ini menggunakan konsep resistansi birokrasi untuk memahami karakeristik dari organisasi intelijen di kedua negara. Tulisan ini mengidentifikasi potensi kebocoran informasi dan budaya patron-klien yang menghambat pertukaran informasi intelijen antar organisasi intelijen. Sulit untuk mengharapkan terciptanya sebuah pusat data intelijen terintegrasi di tingkat kawasan apabila proses pertukaran informasi tidak terjadi di tingkat nasional atau lokal.