Lailatul Mas’udah
Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pluralisme dalam Al Quran Lailatul Mas’udah
Jurnal Studi Islam Lintas Negara (Journal of Cross-Border Islamic Studies) Vol. 5 No. 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAI Sultan Muhammad Syafiuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/cbjis.v5i1.2120

Abstract

Plural juga berasal dari bahasa ingris Plural yang berarti jamak atau lebih dari satu. Dalam kajian filosofis, pluralisme diberi makna sebagai doktrin bahwa subtansi hakiki itu tidak satu (monoisme), tidak dua (dualisme), akan tetapi banyak (jamak). Dalam al-qur’an kalimat yang menunukkan adanya kemajemukan dapat dilihat dari berbagai bentuk, beberapa diantaranya adalah kemajemukan suku bangsa, agama, partai atau golongan. Dalam hal ini penulis berpedoman pada kitab Mu’jam Mufahras li Alfād ẓ Al-Qur’ān Al-Karīm dan Mu’jam Al-Mau ḍ ū’i li Ᾱyat Al-Qur’ᾱn Al-Kar ῑ m. Dari kitab Mu’jam Mufahras li Alfād ẓ Al-Qur’ān Al karim. Penelitian ini merupakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan mempelajari literatur seperti kitab kuning atau buku-buku serta karya-karya ilmiah yang menuju pada keterangan yang dibahas sebagai sumber data. Adapun teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif adalah metode yang mana memaparkan data dan memberikan penjelasan secara mendalam mengenai sebuah data. Metode ini untuk menyelidiki dengan menuturkan data, kemudahan menjelaskan data tersebut. Hasil dari penelitian yang berkaitan dengan pluralisme salah satu di antaranya adalah , Pluralisme menunjukkan kepada wahana untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan secara jujur, terbuka. Pluralisme harus pada posisi yang porposional. Pluralisme harus pada posisi yang netral, tidak memihak dan objektif. Dan terakhir Pluralisme menunjukkan adanya perasaan kepemilikan bersama , untuk kepentingan bersama dan diupayakan bersama. Karakteristik seperti ini merupakan puncak dari kesadaran bahwa sebenarnya pluralisme merupakan manifestasi jati diri kita
Interpretasi Surah Al-Baqarah Ayat 234 Tentang Iddah Perempuan yang Meninggal Suaminya: Pendekatan Tafsir Ahkam dan Psikologi Lailatul Rif'ah; Lailatul Mas’udah
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 3 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the concept of ʿiddah for women whose husbands have passed away based on Qur’anic exegesis of QS. al-Baqarah [2]: 234 by integrating the perspectives of tafsīr aḥkām and grief psychology. Employing a qualitative library research design, the study analyzes classical and contemporary Qur’anic commentaries alongside relevant psychological theories on bereavement. The findings indicate that the prescribed ʿiddah period of four months and ten days constitutes a binding legal injunction aimed at safeguarding lineage, preserving women’s dignity, and honoring the sanctity of marriage. However, various social restrictions imposed on women during ʿiddah in contemporary practice are not entirely grounded in the Qur’anic text but are largely shaped by cultural constructions and historical interpretations. From a psychological perspective, ʿiddah functions as a transitional phase that facilitates emotional adjustment, identity reconstruction, and psychological stabilization following spousal loss. This study argues that ʿiddah should be understood as a holistic Qur’anic injunction encompassing legal, social, and psychological dimensions, and thus requires contextual interpretation to ensure a more just, humane, and relevant application in the lives of contemporary Muslim women.