Nindyo Suwarno
Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, dan Magister Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN ZONASI PENGEMBANGAN KAWASAN PUSAKA. STUDI KASUS: SITUS SANGIRAN, SRAGEN (Zoning Study of Heritage Site Development Case Study: Sangiran Site, Sragen) Wiendu Nuryanti; Nindyo Suwarno
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2008): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18683

Abstract

ABSTRAKSebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) yang ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 5 Desember 1996, Situs Sangiran merupakan bagian penting dalam sejarah manusia di dunia. Sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Nomor 0701011977), situs tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya (Widianto, et al.,1996). Penelitian ini memiliki dua tujuan utama: (1) menyusun konsepsi dasar pelestarian, dan (2) menyusun arahan desain (guidelines) pelestarian Situs Sangiran. Permasalahan utama dari kajian ini adalah perubahan lahan karena faktor alam dan aktivitas manusia (pertanian, pembangunan, penambangan), ancaman pencurian, penggelapan, dan jual beli fosil, rendahnya partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian Situs Sangiran, dan belum adanya panduan/arahan pelestarian dan pemanfaatan wisata yang jelas. Dengan metoda kualitatif naturalistik, dihasilkan konsepsi (prinsip) dasar pelestarian Situs Sangiran Sragen, dalanr masing-masing zona (zona I -3) sesuai dengan potensi tiap zona yang perlu dilestarikan dan dikernbangkan. Analisis yang digunakan dalam hal ini adalah analisis makro, meso, dan mikro. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa dalam merencanakan pelestarian Situs Sangiran, hal terpenting adalah mentaati zonasi dasar situs, di mana setiap zona akan merniliki guidelines  tersendiri. Guidelines terdiri atas pengembangan produk (Klaster Ngebung, Bukuran, Dayu), street furniture, serta pemberdayaan masyarakat. ABSTRACT UNESCO has established Sangiran Site as a World Culture Heritage in December 5th 1996. Its present is important to the history of mankind in the world. Widianto, et al., 1996, stated that Sangiran site has become a Cultural Site regarding to the declaration of Minister of Culture and Education (No. 070/0/1977). This Research has two main purposes, (1) to arrange a conception of basic preservation, and (2) to arrange a design guidelines of Sangiran Site Preservation. There are several major issues in this research; natural factor and human activities (agriculture, development, and mining), criminal threats, corruption, illegal trading, the lack of  participations in order to preserve the Sangiran Site, and there is no basic preservation guidelines for tourism activities in Sangiran. Basic preservation conception of Sangiran Site is created with Naturalistic Qualitative Method at each zone of this site that appropriate to each potential zone and need to be developed and preserved. This research use macro, meso, and micro analysis. Conclusion has been made from this research. The most important thing to plan Sangiran Site preservation is obeying the site basic zone guidelines, because every zone has its own characteristics. The guidelines of development plan in Sangiran Site consist of Product Development (Ngebung, Bukuran, and Dayu cluster), street furniture, and community empowerment.
MODEL PENGEMBANGAN TATA RUANG KAWASAN OBJEK WISATA AIR STUDI KASUS: OBJEK WISATA AIR JOLOTUNDO, KLATEN (Models of Land Use Development in Water Tourism Area Case Study: Jolotundo Water Recreation, Klaten) Nindyo Suwarno
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2009): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18688

Abstract

ABSTRAKKajian ini bertujuan untuk mengembangkan potensi kepariwisataan dan konservasi lingkungan di Objek Wisata Jolotundo, Kabupaten Klaten, sehingga dapat tumbuh dan berkembang sebagai kawasan tujuan wisata yang kompetitif dan mempunyai peran strategis dalam pengembangan kepariwisataan di Klaten. Permasalahan yang ada di Objek Wisata Jolotundo adalah karena belum maksimalnya penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, belum adanya penataan ruang yang harmonis antara fungsi rekreasi dan fungsi preservasi lingkungan, serta kurangnya diversifikasi atraksi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan paradigma naturalistik. Sedangkan pendekatan yang digunakan meliputi pendekatan perencanaan pariwisata terpadu (integrated tourism development), keterpaduan supply dan demand pariwisata, preservasi konservasi, dan ekowisata. Berdasarkan hasil kajian ini, dapat disimpulkan bahwa perancangan Kawasan Jolotundo harus mengacu pada prinsip integrasi antara fungsi preservasi dengan fungsi rekreasi. dan menciptakan linkage dengan lokasi pemandian. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep perancangan Kawasan Jolotundo diharapkan dapat melibatkan elemen air dan partisipasi masyarakat. ABSTRACTThe purpose of this research is to develop tourism potential and environment conservation of Jolotundo tourism destination, Klaten Municipality, so it can grow and develop as a competitive tourism destination with strategic role in Klaten tourism development. The problem of Jolotundo tourism destination especially related to the lack of sustainable resources use, disharmony land use planning between recreational and preservation function, and the lack of attraction diversification. The method of this research is qualitative approach with naturalistic paradigm, which are integrated tourism development, appropriate supply and demand, preservation- conservation  and ecotourism. The result of this research reveals the model of  Jolotundo planning which has to refer to integration principal between preservation, conservation and recreational function, and to built linkage with spring area. In the next development, Jolotundo planning will involve water element and community participation.