This Author published in this journals
All Journal Ebers Papyrus
Tjie Haming Setiadi
Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Colles Fracture Tjie Haming Setiadi
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 1 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pergelangan tangan merupakan bagian panting yang menghubungkan lengan bawah dengan tangan dan membentuk dasar dari tangan. Cedera apa pun yang terjadi padanya akan menurunkan bahkan dapat meniadakan fungsi dasar dari tangan tersebut. Fraktur Colles merupakan fraktur pergelangan tangan yang paling sering ditemukan, dengan insidens sebesar 24% di antara populasi pekerja, dimana fraktur yang melalui radius menyebabkan bagian distalnya tergeser secara radial dan dorsal. Fraktur Colles juga merupakan fraktur yang paling sering terjadi pada orang dewasa berusia lebih dari 50 tahun dan lebih sering terjadi pada wanita dibadingkan dengan pria. Hal ini disebabkan karena dimulainya osteoporosis pasca menopause dimana jatuh dengan tangan terjulur merupakan penyebab tersering. Komplikasi frkatur Colles antara lain adalah mal-union, robekan ekstensor polisis longus yang tertunda, distrofi refleks simpatis pasca trauma, gangguan saraf (terutama nervus medianus), kekakuan jari dan bahu, arteritis radiokarpal, dan fraktur skafoid yang berkaitan. Penatalaksanaan Fraktur Colles' umumnya adalah dengan reduksi tertutup·dan aplikasi gips dengan latihan untuk mengembalikan dan mempertahankan mobilitas pergelangan tangan serta fungsi penuh dari tangan. Namun, kadang-kadang bedah ortopedik melalui fiksasi eksternal atau internal diperlukan.
USIA DAN GULA DARAH PUASA SEBAGAI PREDIKTOR KELEMAHAN GENGGAMAN TANGAN: STUDI MULTISENTER DI ENAM KELURAHAN DKI JAKARTA Tjie Haming Setiadi; Alexander Halim Santoso; Daniel Goh; Gracienne
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.38472

Abstract

Kekuatan genggaman tangan merupakan indikator penting dalam menilai status fungsional dan kesehatan umum, serta menjadi salah satu komponen dalam diagnosis sarkopenia. Usia dan gangguan metabolik seperti hiperglikemia diduga berperan dalam menurunkan fungsi otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran usia dan kadar gula darah puasa sebagai prediktor kelemahan genggaman tangan pada laki-laki dewasa. Penelitian ini merupakan studi potong lintang multicenter yang melibatkan 121 laki-laki dewasa berusia ≥18 tahun di enam kelurahan wilayah DKI Jakarta. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan kadar gula darah puasa dan profil lipid menggunakan metode dry strip chemical analyzer, serta pengukuran kekuatan genggaman tangan menggunakan dynamometer digital. Analisis statistik dilakukan dengan metode Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menilai nilai prediktif masing-masing variabel terhadap kelemahan otot. Rerata usia responden adalah 48,06 tahun dan rerata kadar gula darah puasa 107,35 mg/dL, dengan nilai maksimum mencapai 524 mg/dL. Sebanyak 34,7% responden mengalami kelemahan genggaman tangan. Analisis ROC menunjukkan bahwa usia merupakan prediktor paling kuat (AUC = 0,763; p < 0,001), diikuti oleh kadar gula darah puasa (AUC = 0,647; p = 0,008), sedangkan parameter lipid tidak menunjukkan signifikansi (p > 0,05). Usia dan kadar gula darah puasa merupakan prediktor signifikan terhadap kelemahan genggaman tangan pada laki-laki dewasa, sehingga dapat dijadikan indikator klinis dalam deteksi dini penurunan fungsi otot. Pemeriksaan sederhana ini sebaiknya dimasukkan ke dalam skrining rutin, khususnya pada populasi usia paruh baya, guna mendukung upaya preventif terhadap gangguan muskuloskeletal.