Gregorius Sigit Triwayudi
Faculty of Theology, Universitas Sanata Dharma

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sai Bumi Nengah Nyappur Filsafat Praktis Persatuan Dalam Masyarakat Adat Di Tulang Bawang Lampung dalam Perspektif Yin dan Yang Gregorius Sigit Triwayudi
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.13682

Abstract

Sai Bumi Nengah Nyappur is a local Lampung philosophy adopted as the regional motto of Tulang Bawang Regency. Literally meaning "One Earth Becomes Mixed", its purpose is to encourage the community to live blended and united despite ethnic differences, due to frequent inter-ethnic conflicts in the area. Strong primordialism poses a significant challenge to its implementation. Unity is achieved through consensus deliberation and mutual cooperation. To understand unity amidst differences, this philosophy can be linked to the harmonization teachings of Confucianism and the 'Yin and Yang' principle. The Yin and Yang principle illustrates how two different or opposing elements interact to form harmony or unity. The diverse ethnic groups in Tulang Bawang must achieve this harmony and recognize their interdependence. This philosophy remains relevant as a guide for anticipating and overcoming conflicts and fostering openness.AbstrakSai Bumi Nengah Nyappur adalah falsafah asli Lampung yang diadopsi sebagai semboyan daerah di Kabupaten Tulang Bawang. Secara literer, falsafah ini berarti Satu Bumi Menjadi Bercampur. Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk hidup membaur dan bersatu meskipun terdapat beragam perbedaan, terutama suku. Falsafah ini muncul karena adanya kesadaran akan potensi selisih paham dan konflik antar suku yang kerap terjadi di daerah tersebut. Sikap primordialisme yang kuat antar suku di Tulang Bawang menjadi tantangan berat dalam penerapannya. Persatuan ini direalisasikan melalui musyawarah mufakat dan gotong royong. Untuk memahami persatuan di tengah perbedaan, falsafah ini dapat dihubungkan dengan ajaran Konfusianisme dan prinsip 'Yin dan Yang'. Prinsip Yin dan Yang menggambarkan interaksi dua unsur yang berbeda, bahkan bertolak belakang, yang membentuk harmoni atau kesatuan. Masyarakat Tulang Bawang, dengan perbedaan suku yang kental, harus membentuk harmoni dan menyadari ketergantungan antar suku. Falsafah ini tetap relevan sebagai pedoman untuk mengantisipasi dan mengatasi konflik, serta mendorong keterbukaan.