Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Maskulinitas dalam Film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”: Sebuah Kajian Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu Sapuroh, Sapuroh
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 5, No.1: April 2021
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v5i1.45

Abstract

Marshall Clark, in the results of his article entitled “Men, Masculinities and Symbolic Violence in Recent Indonesian Cinema”, said that feminist research in Indonesian cinema still focused on female figures and their efforts to break free from the patriarchy trap. In fact, as mentioned by the French sociologist Pierre Bourdieu (2001: 114), to liberate women from male masculine domination, it is also necessary to make efforts to free men from the patriarchal structure that directs them to the imposition of domination. In this study, the writer chose the film “Marlina the Killer in Four Rounds” as a corpus because of the many reviews stating that this film succeeded in displaying the figure of Asian women who carry universal values to seek justice (Screen International, Apr. 12, 2017). This film has been a research subject a lot before, but no one has examined the work in terms of the masculinity displayed on male figures. Therefore, through Pierre Bourdieu’s genetic structuralism approach, the writer sees the characters in this film from habitus, capital, and the social arena that gave rise to social practices. The different social arenas represented by each character in the film gave rise to a struggle. This fight is what the film uses to weaken masculinity in male characters. However, efforts to weaken “masculinity” were not entirely successful because the power of the characters was also influenced by capital at least. Marlina, who was described as capable of killing a band of robbers, is still unable to defeat the domination of a steady and sturdy government. Marshall Clark, dalam hasil tulisannya yang berjudul “Men, Masculinities and Symbolic Violence in Recent Indonesian Cinema”, mengatakan bahwa penelitian feminis di sinema Indonesia masih berfokus pada tokoh-tokoh perempuan dan upaya mereka untuk membebaskan diri dari jerat patriarki. Padahal, sebagaimana disebutkan oleh sosiolog Prancis Pierre Bourdieu (2001: 114), untuk membebaskan perempuan dari dominasi maskulin laki-laki, perlu dilakukan pula upaya untuk membebaskan pria dari struktur patriarki yang mengarahkan mereka pada pemaksaan dominasi tersebut. Pada penelitian ini, penulis memilih film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” sebagai korpus karena banyaknya ulasan yang menyatakan bahwa film ini berhasil menampilkan sosok perempuan Asia yang membawa nilai-nilai universal untuk mencari keadilan (Screen International, Apr. 12, 2017). Penelitian terhadap film ini telah banyak dilakukan sebelumnya, namun belum ada yang meneliti karya tersebut dari sisi maskulinitas yang ditampilkan pada tokoh laki-laki. Oleh karena itu, melalui pendekatan strukturalisme genetik Pierre Bourdieu, penulis melihat tokoh-tokoh dalam film ini dari habitus, kapital, dan arena sosial yang memunculkan adanya praktik sosial. Perbedaan arena sosial yang diwakili dari setiap tokoh dalam film memunculkan adanya pertarungan. Pertarungan inilah yang digunakan film tersebut untuk melemahkan maskulinitas pada tokoh laki-laki. Namun, upaya melemahkan “maskulinitas” tak sepenuhnya berhasil karena kekuasaan tokoh juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kapital. Marlina yang digambarkan mampu membunuh segerombolan perampok tetap tidak mampu mengalahkan dominasi kekuasaan pemerintah yang ajeg dan kokoh.
Pengaruh Durasi Paparan Layar Gadget Terhadap Kualitas Tidur Anak Usia Prasekolah di Paud Bina Umat Kota Serang Tahun 2026 Anita, Nur; Sapuroh, Sapuroh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56308

Abstract

Latar Belakang: Anak usia prasekolah merupakan kelompok rentan yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan pesat. Penggunaan gadget yang semakin meningkat pada anak dapat berdampak terhadap kualitas tidur, terutama jika durasi paparan layar berlebihan. Gangguan tidur pada anak dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan kognitif, dan kesehatan secara umum. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh durasi paparan layar gadget terhadap kualitas tidur anak usia prasekolah di PAUD Bina Umat Kota Serang Tahun 2026. Metode: Kuantitatif dengan cross-sectional. Populasi seluruh ibu yang memiliki anak di PAUD Bina Umat Kota Serang sebanyak 30 orang yang diambil secara total sampling. Analisis data menggunakan chi square. Hasil: Dari 30 responden, sebagian besar memiliki durasi penggunaan gadget kategori sedang yaitu 19 anak (63,4%), kategori rendah 10 anak (33,3%), dan kategori tinggi 1 anak (3,3%). Sebanyak 23 anak (76,7%) memiliki kualitas tidur baik dan 7 anak (23,3%) memiliki kualitas tidur kurang. Hasil uji statistik menunjukkan nilai χ² sebesar 3,403 dengan p value 0,182 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi paparan layar gadget dengan kualitas tidur anak usia prasekolah. Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara durasi paparan layar gadget terhadap kualitas tidur anak usia prasekolah di PAUD Bina Umat Kota Serang Tahun 2026.