Yahudi dewasa ini semakin menjadi momok publik akan penyerangannya terhadap tanah Palestina. Al-Quds menjadi sorotan utama kaum Yahudi Zionisme untuk mendapatkannya. Dengan berbagai dalih telah dilakukan hingga berabad-abad, dari zaman Nabi Musa a.s hingga kepada Ummat Nabi Muhammad Saw. Namun hanya dengan izin Allah lah segala sesuatu hal akan terjadi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana Alquran membahas tentang Yahudi dalam tafsir Al-Azhar? (2) Bagaimana penafsiran Hamka tentang Yahudi kaitannya terhadap Al-Quds? (3) Bagaimana aplikasi penafsiran Hamka tentang Yahudi dewasa ini?. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui Alquran membahas tentang Yahudi dalam tafsir Al-Azhar, (2) Untuk mengetahui penafsiran Hamka tentang Yahudi kaitannya terhadap Al-Quds. (3) Untuk mengetahui penafsiran Hamka tentang Yahudi dewasa ini. mengetahui corak tafsir yang digunakan Hamka dalam tafsir Al-Azhar serta metode yang digunakannya untuk memperjelas penafsirannya. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (research library). dan penelitiannya menggunakan metode tematik. Sumber data Primer dalam penelitian ini adalah Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku yang berkaitan dengan tema pembahasan. Hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: Yahudi adalah suatu kaum dari kalangan Bani Israil yang dipimpin oleh Nabi Musa untuk keluar dari kekejaman Fir’aun menuju Palestina. Alquran banyak membahas tentang Yahudi, kata اليهود disebutkan sebanyak 9x. Hamka mengatakan dalam tafsirnya bahwa Yahudi merupakan kaum pemberontak, tidak mendengarkan risalah-risalah yang disampaikan kepada para Rasulullah. Seperti dalam penafsiran Qs. al-Baqarah:120. Pemberontakan terus dilakukan kepada umat Islam khususnya di Palestina. Banyak disebutkan Karakter-karakter orang Yahudi menjadi kewaspadaan umat Islam, ayat-ayat tentang Yahudi diklasifikasikan kepada 3 bagian: berkaitan dengan keimanan, Ibadah, dan Akhlak. Hamka menegaskan agar dapat mengaplikasikan keimanan sebagai pondasi kehidupan manusia agar tidak mudah terpedaya dengan berbagai ambisi orang Yahudi hingga dewasa ini.