Hasnah Hasnah
Staff Pengajar Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, kampus Unand Limau manih, Padang, Indonesia 25166

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Penentuan Komoditi Unggulan Berbasis Sektor Pertanian Dalam Mendorong Perekonomian Wilayah Di Kabupaten Lima Puluh Kota Ikhsan Azhari; Hasnah Hasnah; Yenni Oktavia
Journal of Socio-economics on Tropical Agriculture (Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Tropis) (JOSETA) Vol 1, No 2 (2019): August
Publisher : UNIVERSITAS ANDALAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/joseta.v1i2.153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  mengidentifikasi komoditi unggulan yang perlu dikembangkan dan menjadi pendorong perekonomian daerah dibidang pertanian. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis location quotient (LQ) dan shift-share analisis (SSA) untuk mengetahui komoditi unggulan yang dapat dikembangkan di setiap Kecamatan Kabupaten Lima Puluh Kota. Hasil analisis menunjukkan  komoditi unggulan pada prioritas pertama adalah padi, kacang panjang, manggis, duku, nenas, sirsak dan coklat. Untuk prioritas kedua adalah ketimun, buncis, papaya, kelapa dan gambir. Sedangkan untuk prioritas ketiga adalah terungKata Kunci: Komoditi Unggulan, Pusat Pertumbuhan, Perekonomian DaerahThis study aims to identify superior commodities that need to be developed and become a driver of the regional economy in agriculture. The analytical method used is descriptive quantitative method by using location quotient (LQ) and shift-share analysis (SSA) to find out the superior commodities that can be developed in each District of Lima Puluh Kota. The results of the analysis show that the main commodities in the first priority are rice, beans, mangosteen, duku, pineapple, soursop and chocolate. The second priority is cucumber, beans, papaya, coconut and gambier. Whereas the third priority is eggplant. Keywords: Superior Commodity, Center for Growth, Regional Economy
Analisis Perbandingan Usaha Tani Kakao (Theobroma Cacao l ) di Nagari Belimbing Tanah Datar (Studi Kasus : Petani Peserta dan Non-Peserta SL-PHT) Farid Rahman Tibi; Hasnah Hasnah; Yenni Oktavia
Journal of Socio-economics on Tropical Agriculture (Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Tropis) (JOSETA) Vol 1, No 2 (2019): August
Publisher : UNIVERSITAS ANDALAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/joseta.v1i2.154

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  perbandingan  antara  pertanian  kakao yang  mengimplementasikan kegiatan SLPHT dengan Non-SLPHT. Kegiatan Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu atau SLPHT adalah metode penyuluhan atau bentuk pendidikan non-formal yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik oleh andragogi, partisipasi oleh petani dan mulai dari pendekatan bottom-up. Pilihan lokasi penelitian ini diambil dengan metode purposive di Nagari Balimbiang, Kecamatan Rambatan. Metode penelitian ini menggunakan metode survei dengan sampel total 30 peserta SLPHT dalam sensus dan 30 peserta non-SLPHT secara acak dari total populasi 562 orang di Kenagarian Balimbiang Kabupaten Rambatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara teknik budidaya kakao SLPHT dengan non SLPHT, perbedaannya adalah ada teknik sambung samping dalam kegiatan SLPHT. Penghasilan rata-rata yang diterima oleh peserta SL dan peserta non-SL adalah Rp33.846.955,22 / Ha / Tahun dan Rp. 23.693.666,39 / Ha / Tahun. Keuntungan rata-rata yang diterima petani yang berpartisipasi dalam SLPHT dengan peserta non-SLPHT adalah Rp. 12.811.345,35 / Ha / Tahun dan Rp. 4.624.824.08 / Ha / Tahun. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan dan keuntungan petani kakao SLPHT dan non SLPHT karena nilai untuk T Dihitung ≥ T Tabel. Kebun kakao SLPHT dan non SLPHT  layak  karena  R  /  C  1  adalah  1,84  dan  1,38.  Berdasarkan hasil  penelitian,  disarankan  agar  petani memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan teknik budidaya dengan baik, sehingga mereka dapat mencapai hasil dan keuntungan maksimal.Kata kunci: Pertanian Kakao, Pendapatan, Untung, R / C RatioThis study aims to determine the comparison between cocoa farming that implements SLPHT activities with NonSLPHT. The activities of the Integrated Pest Management Field School or SLPHT are an extension method or a form of non-formal education that is well-designed and carried out by andragogy, participation by farmers and starting from the bottom-up approach. The choice of location of this study was taken by purposive method in Nagari Balimbiang, Rambatan Subdistrict. This research method uses a survey method with a total sample of 30 SLPHT participants in census and 30 non-SLPHT participants randomly from a total population of 562 people in the Kenagarian Balimbiang District of Rambatan. The results of this study indicate that there is a difference between SLPHT cocoa farming techniques with non SLPHT, the difference is that there are side grafting techniques in the SLPHT activities. The average income received by FFS participants and non-FFS participants is Rp33.846.955,22/ Ha / Year and Rp. 23.693.666,39/ Ha / Year. The average profit received by farmers participating in the SLPHT with non-SLPHT participants is Rp. 12.811.345,35/ Ha / Year and Rp. 4.624.824,08/ Ha / Year. Statistical test results showed that there were significant differences between the income and profits of SLPHT cocoa farmers and non SLPHT because the value for T Calculated ≥ T Table. SLPHT and non SLPHT cocoa farms are feasible because R/C 1 is 1,84 and 1.38. Based on the results of the study, it is suggested that farmers should pay attention to matters relating to cultivation techniques well, so that they can achieve maximum yields and profits.Keywords: Cocoa Farming , Revenue , Profit and R / C Ratio