Bambang Sakti Wiku Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

MAKAM-MAKAM DAN CANDI DI NEGERI BARU DALAM PERKEMBANGAN SEJARAH BUDAYA DI KABUPATEN KETAPANG Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v7i2.95

Abstract

Salah satu manfaat peninggalan budaya masa lalu adalah untuk merekonstruksi perkembangan sejarah budaya. Peninggalanbudaya baik fisik maupun non fisik banyak ditemukan di berbagai daerah, salah satunya di Desa Negeri Baru, Kabupaten Ketapang,Kalimantan Barat. Desa tersebut memiliki banyak peninggalan kepurbakalaan yang merupakan warisan budaya masa lalu, baikberupa artefak, situs, bangunan, dan struktur. Peninggalan kepurbakalaan tersebut ada yang berlatar belakang budaya Hindu dan adayang berlatar belakang budaya Islam. Adanya berbagai jenis peninggalan dengan berbagai ragam latar belakang budaya tersebutmengindikasikan bahwa dahulu desa tersebut merupakan sebuah kawasan hunian yang cukup besar pada masanya. Adanyabangunan makam yang tidak jauh lokasinya dengan candi dapat diasumsikan sebagai sebuah kerukunan antarpemeluk agama yangberbeda, yang telah terjalin sejak lama. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa keragaman budaya merupakan bagian dari kehidupanmasyarakat sejak zaman dahulu.
TINGGALAN ARKEOLOGI ISLAM SEBAGAI BAGIAN PERKEMBANGAN SEJARAH BUDAYA DI KALIMANTAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i2.86

Abstract

Abstrak. Tulisan ini mendeskripsikan beragam penelitian arkeologi dari masa pengaruh kebudayaan Islam yangtelah dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin di empat provinsi di Pulau Kalimantan sejak 1993. Penelitianpenelitiantersebut dilakukan dengan teknik survei berdasarkan tema kajian seperti arsitektur kuna, tata kota kuna,dan sejarah kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peninggalan arkeologi masa Islam bervariasi, yaitupeninggalan bendawi dan non-bendawi. Peninggalan arkeologi bendawi terdiri atas peninggalan bersifat bangunan,struktur, situs, kawasan, dan artefaktual. Rentang periodisasi peninggalan arkeologi tersebut berasal dari abad ke-15 sampai dengan ke-19 Masehi; peninggalan tertua berupa makam-makam abad ke-15 yang berada di KabupatenKetapang. Berdasarkan lokasi geografisnya, peninggalan-peninggalan monumental ataupun situs ditemukan padakawasan pantai, daerah aliran sungai, dan perbukitan.
MAKNA SUBTANTIF DAN ESTETIS PADA MAKAM RAJA-RAJA DI PANTAI TIMUR KALIMANTAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.160

Abstract

In the east coast of Kalimantan, which stretches from north to south from districts of Bulungan, Berau, Kutai Kertanegara, Paser, Kotabaru, and Tanah Bumbu, archaeological remains of the Islamic periode are abundantly founds comprising palaces and the old burials. Evidences of the old sultanate grandeur are commemorated on a number of places. For instance, based on the result of 2000-2004 research, there were 21 burial compounds of the sultans burials discovered with rich carving on their grave markers and jirat. The carving indicate 6 varieties of design i.e. geometric, floral, arabesque, Arabic calligraphy, Latin scrip and lontarak. This article will discuss about the fundamental and aesthetic significance of ornamentation on the sultans burials on the east coast of Kalimantan.
SITUS-SITUS KEAGAMAAN DI KALIMANTAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 6, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i1.83

Abstract

Abstrak.Situs-situs keagamaan di Kalimantan merupakan bukti bahwa wujud budaya bendawinya senafas denganagama-agama yang berkembang di kawasan tersebut. Pada umumnya, warisan budayan religius tersebut berupatempat peribadatan dan makam. Kajian ini dilakuan dengan pengamatan langsung di lapangan. Hasilnyamenunjukkan bahwa empat agama besar telah berkembang di keempat provinsi di Kalimantan dan memperlihatkanelemen-elemen akulturasi dengan kebudayaan setempat. Selain itu, terdapat persamaan yang menarik pada situssituskeagamaan tersebut, yaitu keletakannya yang relatif dekat aliran sungai, yang merefleksikan kesinambunganbudaya dari masa sebelumnya dalam pemilihan lokasi sakral.
PENINGGALAN KERAJAAN BANJAR DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.74

Abstract

Abstrak. Saat ini, Kerajaan Banjar yang termashur di Kalimantan pada abad 16-19 Masehi sudah tidak ada lagi.Namun, dari segi arkeologis, sisa-sisa eksistensi kerajaan ini masih dapat direkonstruksi dari peninggalannya yangmasih dapat ditemukan saat ini. Persebaran peninggalan tersebut terdapat di wilayah Kota Banjarmasin, Martapura,dan Karang Intan. Tulisan ini membahas berbagai peninggalan Kerajaan Banjar yang masih dapat diidentifikasisampai saat ini. Hasil kajian arkeologis menunjukkan bahwa peninggalan yang masih ada adalah sejumlah masjidserta makam raja dan ulama.
TINGGALAN ARKEOLOGI ISLAM SEBAGAI BAGIAN PERKEMBANGAN SEJARAH BUDAYA DI KALIMANTAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i2.85

Abstract

Abstrak. Tulisan ini mendeskripsikan beragam penelitian arkeologi dari masa pengaruh kebudayaan Islam yangtelah dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin di empat provinsi di Pulau Kalimantan sejak 1993. Penelitianpenelitiantersebut dilakukan dengan teknik survei berdasarkan tema kajian seperti arsitektur kuna, tata kota kuna,dan sejarah kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peninggalan arkeologi masa Islam bervariasi, yaitupeninggalan bendawi dan non-bendawi. Peninggalan arkeologi bendawi terdiri atas peninggalan bersifat bangunan,struktur, situs, kawasan, dan artefaktual. Rentang periodisasi peninggalan arkeologi tersebut berasal dari abad ke-15 sampai dengan ke-19 Masehi; peninggalan tertua berupa makam-makam abad ke-15 yang berada di KabupatenKetapang. Berdasarkan lokasi geografisnya, peninggalan-peninggalan monumental ataupun situs ditemukan padakawasan pantai, daerah aliran sungai, dan perbukitan.
PERBEDAAN PERSEPSI PENANGANAN PADA SITUS CANDl AGUNG DAN TABANIO Dl KALIMANTAN SELATAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8766.546 KB) | DOI: 10.24832/nw.v2i2.358

Abstract

There are many choices how to use and manage an archaeological site, for examples: for research purpose, just restore it for future generations or exploit the site for tourism destination. These can be managed either by government or private authority/NGO. In Candi Agung and Tabanio cases -both in Sothern Kalimantan-various interests from different authorities have caused conflict because each authority would like to manage the site according to their own interest. I am of the opinion that one important solution to minimize the negative effects is by practicing coordination between stakeholders. When this is practiced, the archaeological site will be better preserved, while other community activities also continue.
ISTANA SEBAGAI SENTRAL STRUKTUR TATA KOTA (Studi Kasus pada Lima Kota Kerajaan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7633.414 KB) | DOI: 10.24832/nw.v1i1.362

Abstract

There are many city in Kalimantan that was an old site of kingdom which own palace remainder from the past. There are the palace which located in the central of other buildings, in the end of the building line, in the riverbank, and in the river intersection or road intersection. Many factor which influence palace location among others natural condition, and social political conditions. Nevertheless, the palace still central form in the urban affair structure and kingdom political structure.
REFLEKSI HASIL PENELITIAN EKSPLORATIF DAN TEMATIS ARKEOLOGI ISLAM DI KALIMANTAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Naditira Widya No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7543.311 KB) | DOI: 10.24832/nw.v0i16.382

Abstract

The potency of archaeological remains in Kalimantan from the Islamic period in Indonesia is actually great in number; however, researches f?ave been undertaken partially. Not until 2005 that two large-scale-theme researches were carried out concerning mortuary architectureand Islamic city-plan. Researches on mortuary architecture were conducted in South and East Kalimantan, while the Islamic city-plan in Tenggarong and Paser Balengkong. Results from research on mortuary architecture are the identification of tombstone with types of Demak-Troloyo, Bugis and Aceh. On the other hand, the Islamic city-plan research indicates that the old city-plan of Tenggarong and Paser Balengkong conforms with its physiographic conditions either rivers, swamps, lowlands or hills. Archaeological reconnaissance has been carried out in Central and West Kalimantan; however, it is limited on data inventory. This article discusses the results of Islamic investigation in Kalimantan and the prospect of further archaeological researches.
ARSITEKTUR ATAP MASJID DI KALIMANTAN SELATAN Atmojo, Bambang Sakti Wiku
Berkala Arkeologi Vol. 21 No. 2 (2001)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v21i2.842

Abstract

The roofs of ancient mosques in Kalimantan based on their shape are almost all similar to each other. The similarity mainly lies in the form of multi-storey roofs known as overlapping roofs. Almost all overlapping roofs are made of shingle. The peaks are almost all in the shape of a dome, except in some mosques, such as the Wasah Hilir Mosque whose peaks are only in the form of flower arrangements. The shape of the dome is also varied, namely the shape of the onion dome, the round dome, the dome shaped like a hat, and the hexagonal dome.