Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI TENTANG KENYAMANAN DI KAWASAN HUTAN DAN AREA TANAMAN BUDIDAYA Arum Markhatus S; Imam Santosa; Eming Sudiana
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 08 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i08.656

Abstract

Hutan merupakan bentang alam yang memiliki fungsi pada segi ekologis, sosial, ekonomi dan lainnya yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Contohnya seperti menyerap CO2 dan dapat mengurangi gas rumah kaca khususnya CO2, mencegah banjir, pencegah kekeringan, penahan angin, mencengah atau pengendali banyaknya penguapan dari tanah, dan mengendalikan iklim mikro, penunjang ekonomi kehidupan masyarakat, jasa keidahan, kenyamanan, ilmu pengetahuan, keunikan budaya bagi masayarakat yang betempat tinggal disekitarnya. Kerusakan hutan diakibatkan oleh alih fungsi lahan hutan yang dapat mempengaruhi mempengaruhi kenyamanan masyarakat disekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganailisis perbedaan persepsi kenyamanan masyarakat terhadap kawasan hutan dan area budidaya pertanian. Metode penelitian ini Pengumpulan data tingkat kenyamanan masyarakat yang diukur dengan kuesioner. Responden berjumlah 50 orang secara acak yang didapat dari masyarakat dengan beberapa kriteria. Analisis pada penelitian ini dilakukan dengan sistem penilaian skala Likert dan dilanjutkan penilaian skoring pada kategori kenyamanan. Hasil penelitian ini persepsi kenyamanan masyarakat terhadap hutan lindung yang berisikan pepohonan memiliki skor sebesar 95,40% dengan interval yang terletak antara (80%-100%) dinyatakan persepsi masyarakat sangat baik. Pada persepsi kenyamanan masyarakat terhadap tanaman budidaya pertanian memiliki skor sebesar 24,40% dengan interval yang terletak antara (21%-40%), dinyatakan bahwa persepsi kenyamanan masyarakat kurang.
Hubungan Jarak Aliran Air Lindi Terhadap Kualitas Air Tanah Dan Tindakan Masyarakat di Sekitar TPA Ciangir Kota Tasikmalaya Thyasz Spica Nurlestari; Diana Retna Utarini Suci Rahayu; Imam Santosa
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 5 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i5.3365

Abstract

The increase in the volume of waste at the Ciangir Landfill (open dumping system) has the potential to contaminate groundwater through leachate water. The distance of leachate flows is thought to determine the level of contamination, while community responses to changes in water quality have not been fully rational and adaptive. This research aims to analyze the relationship between leachate flow distance and groundwater quality, the effect of groundwater quality on community actions, and the simultaneous influence of leachate flow distance and groundwater quality on community actions around the Ciangir Landfill, Tasikmalaya City. Explanatory quantitative research with a cross-sectional approach was conducted on 35 wells dug within a radius of 1 km using stratified random sampling. Data were collected through laboratory tests (E. coli, Total Coliform, pH, BOD, COD, TSS), field observations, and questionnaires based on Max Weber's social action theory. The analysis used correlation tests, Chi-Square, and binary logistics regression at a significance rate of 95%. A total of 48.6% of groundwater did not meet the requirements, and 68.6% did not meet bacteriological standards. There was a significant relationship between well distance and Total Coliform (p=0.009) and between groundwater quality and community actions (p=0.006). Simultaneously, leachate flow distance and groundwater quality had a significant effect on community actions with a contribution of 38.8% to the model explanation and 80% classification accuracy. The distance of leachate flow and groundwater quality play a significant role in shaping community actions. The variable distance of leachate flow is the dominant factor, so strengthening the landfill management system and increasing community environmental literacy is an urgency to minimize health risks