Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Daya Dukung Ketersediaan Lahan Untuk Pembangunan Perumahan di Perkotaan: ( Studi Kasus : Ketersediaan Lahan di Kota Depok ) Zulkarnain
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah ARJOUNA
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daya dukung ketersediaan lahan untuk pembangunan perumahan di perkotaan perlu di perhitungkan, apalagi perkotaan tersebut memiliki ketersediaan lahan potensial untuk perumahan yang tidak dapat mengimbangi kebutuhan luas lahan untuk perumahan yang cukup tinggi akibat dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Jika analisis daya dukung ketersediaan lahan tidak dilakukan dengan benar, maka akan terjadi pembangunan perumahan yang tidak sesuai dengan kaidah tata ruang, seperti berdirinya kawasan perumahan di lokasi yang mempunyai potensi rawan bencana banjir dan longsor. Permasalahan kurang diperhitungkannya daya dukung ketersediaan lahan untuk pembangunan perumahan terjadi juga di Kota Depok, Kota Depok yang berstatus sebagai Kota satelit, Kota yang ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional dan kota mandiri menyebabkan pertumbuhan penduduknya tinggi sedangkan ketersediaan lahan terbatas. Sehingga perlu adanya analisis yang dapat menghitung daya dukung ketersediaan lahan untuk pembangunan perumahan yang menyesuaikan pertumbuhan penduduk di Kota Depok. Kurang diperhitungkannya daya dukung ketersediaan lahan di kota depok lebih disebabkan karena factor sosial yaitu jumlah penduduk yang cepat pertumbuhannya sehingga membutuhkan lahan hunian, factor ekonomi yaitu harga lahan potensial cukup tinggi dan factor kelembagaan yaitu lemahnya pengawasan dan pengendalian pembangunan perumahan serta kurang cermatnya dalam menetapkan kawasan perumahan dalam pola ruang. Timbulnya kawasan perumahan yang tidak sesuai kaidah tata ruang dapat terjadi, jika kebutuhan lahan potensial sudah tinggi harga tanah menjadi tinggi dan pengawasan serta pengendalian yang dilakukan pemerintah kota lemah. Pemerintah Kota Depok dalam mengatasi tekanan ketersedian lahan potensial ini mengeluarkan kebijakan dalam RDTR tentang arah pengembangan perumahan dan mengeluarkan Perda yang mengatur tentang batas minimal kavling 120 M2 untuk perumahan, tentu kebijakan tersebut perlu di kaji lagi apakah sesuai dengan kondisi existing dan dapat menjawab permasalahan Kota Depok. Tujuan penelitian ini adalah tercapainya pemanfaatan lahan untuk perumahan yang sesuai dengan kaidah tata ruang, dengan sasarannya adalah analisis daya dukung lahan untuk mengetahui lahan potensial, analisis daya tampung lahan dan analisis penduduk untuk mengetahui daya tampung lahan terhadap perumahan dan penduduk. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif, dengan analisis tersebut diketahui jumlah dan proyeksi penduduk, jumlah kebutuhan rumah, jumlah kebutuhan lahan, daya tampung lahan dan analisis daya dukung ketersediaan lahan dengan menggunakan teknik overlay peta, dengan pendekatan Software ArcGIS. Lalu menggunakan analisis kualitatif dengan pendekatan kuesioner dan juga menggukanan analisis Kebijakan untuk mengetahui apakah arahan dari RTRW Kota Depok 2012-2032 dan RDTR Kota Depok 2018-2038 tentang arahan pengembangan kawasan perumahan yang tertuang di pola ruang sesuai dengan kaidah tata ruang. Hasil dari penelitian di lokasi sampel yang dapat merepresentasikan wilayah Kota Depok menunjukkan, ketersediaan lahan potensial yang dapat dikembangkan untuk perumahan horisontal di tahun 2038 sudah sangat terlampaui, artinya ada sejumlah perumahan dan sejumlah penduduk sudah tidak tertampung. Dan saat ini saja berdasrkan hasil tinjauan lokasi sudah ada beberapa kawasan perumahan yang berada pada lokasi yang tidak sesuai dengan kaidah tata ruang, temuan tersebut membuktikan hipotesis dalam penelitian ini Manfaat penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk instansi pemerintahan yang terkait, akademisi dan masyarakat yang mempunyai permasalahan perkotaan dan karakteristik lahan yang hampir sama dengan lokasi penelitian ini.
Analisis Pencahayaan Buatan untuk Mencapai Kenyamanan Visual di Ruang Laboratorium Arsitektur (Studi kasus : Gedung H Laboratorium di Universitas Krisnadwipayana) Andi Abdullah Firdaus; Zulkarnain
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/jia.v9i1.790

Abstract

Kenyamanan visual merupakan salah satu aspek penting dalam desain ruang, terutama dilingkungan pendidikan seperti laboratorium. Ruang laboratorium dengan pencahayaan buatan berkisar antara 300–500 lux dengan distribusi yang tidak menimbulkan bayangan keras memberikan persepsi visual yang lebih nyaman dan mendukung produktivitas pengguna. Menilai Apakah tingkat Pencahayaan pada Labolatorium telah memenuhi standar kenyamanan visual Memiliki faktor yang berupa jarak antar lampu ke meja, dimensi meja dan bangku, dimensi ruang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif, dengan menggunakan alat luxmeter, untuk pengukuran kuat cahaya yang menghasilkan angka pada alat tersebut, bahan baterai untuk mengaktifkan alat luxmeter mendapatkan hasil angka pengukuran kuat cahaya. Rata – rata nilai Luxmeter pada ruang lab arsitektur 116 Lux, hasil rata – rata ini masing sangat jauh dari standar SNI 16-7062-2004 yang mendapatkan 300 – 350 Lux. Pengukuran meja existing Tinggi=75cm, kemiringan = 60- 65 derajat, Berdasarkan standar buku Data Arsitek oleh Ernst Neufert mengatur bahwa Tinggi = 70-90cm, Kemiringan = 5-30 derajat. Kesimpulan nya tinggi sudah mencukupi namun dan kemiringan meja gambar belum mencukupi pada Data Arsitek oleh Ernst Neufert. Warna pada Ruang sudah sesuai, Spesifikasi material meliputi warna material dinding, warna plafon, dan warna material lantai. Sehingga dapat disimpulkan Intensitas penerangan rata-rata di ruangan laboratorium arsitektur dan pengukuran untuk tiap titik meja mendapatkan rata-rata sebesar 116 lux sehingga intensitas/kuat penerangannya masih rendah. Hasil pengukuran tiap titik menurut standar SNI 16-7062-2004 diperoleh nilai intensitas ratarata ruang laboratorium arsitektur dan pengukuran sebesar 116 Lux dan nilai intensitas penerangan tersebut tidak memenuhi standar SNI 16-7062-2004 yaitu 300-350 lux. Pengukuran hasil meja masih tidak memenuhi dengan standar meja (Berdasarkan standar buku Data Arsitek oleh Ernst Neufert). Speksifikasi warna pada ruangan lab arsitektur sudah sesuai traffic white, meliputi warna dinding, warna plafon, dan warna material lantai.
EKSPLORASI NILAI VERNAKULAR PADA BANGUNAN KOLONIAL (Studi Kasus : Gedung Arsip Nasional) Dimas Adhi Prasetyo; Zulkarnain
Jurnal Ilmiah Arjouna: Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana Vol 9 No 2 (2025): ARJOUNA : Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana
Publisher : Universitas Krisnadwipayana, Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61488/jia.v9i2.798

Abstract

Vernacular architecture represents an organic form of architecture that evolves through human adaptation to climate, environment, and local culture. In Indonesia, vernacular principles were often adopted in colonial buildings as a response to tropical climatic conditions. This study aims to identify and analyze vernacular architectural values applied in colonial architecture, using the National Archives Building in Jakarta as a case study. This research employs a qualitative descriptive method, with data collected through literature review, visual documentation, and secondary-based observation. The analysis refers to Paul Oliver’s (1997) theory of vernacular architecture, which outlines six principal characteristics.The findings reveal that the National Archives Building fulfills four of the six vernacular characteristics: climate responsiveness, use of local materials, natural and honest aesthetics, and efficiency and sustainability. However, local wisdom–based and participatory aspects were not identified due to the colonial construction process. This study demonstrates that colonial architecture in Indonesia reflects a hybrid adaptation rather than a purely European architectural expression.