Baju Widjasena
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Usia, Jenis Pekerjaan, Kepatuhan Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD), dan Kelayakan Alat Pelindung Diri terhadap Keluhan Dermatitis pada Pekerja Pembuatan Timbangan PT. A Kabupaten Tangerang Audhina Putri Rusdhianata; Baju Widjasena; Ida Wahyuni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 3 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.3.204-208

Abstract

Latar belakang: Terjadinya peradangan kulit yang disebabkan oleh paparan pekerjaan ditempat kerja disebut penyakit kulit yang timbul akibat pekerjaan (occupational dermatoses). Dermatitis kontak ialah setengah dari seluruh penyakit akibat kerja dengan jumlah paling banyak yang bersifat non-alergi atau iritan. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, maka semakin meningkat juga kerentanan seseorang terhadap penyakit. Pada kaitannya dengan Dermatitis, apabila pekerja tidak menggunakan APD ketika melakukan pekerjaan atau APD yang digunakan tidak layak maka dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan usia, jenis pekerjaan, kepatuhan pemakaian alat pelindung diri (APD), dan kelayakan alat pelindung diri (APD) terhadap keluhan dermatitis kulit pada pekerja pembuatan timbangan di PT. A.Metode: Dengan menggunakan pendekatan cross sectional dan survei analitik, penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif. Semua tenaga kerja di PT. A yang berjumlah 50 orang menjadi populasi dalam penelitian ini. Kemudian digunakan metode total sampling untuk mendapatkan 50 orang pekerja sebagai sampel penelitian ini.Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kepatuhan pemakaian APD (p=0,000) terhadap terjadinya keluhan dermatitis dan tidak terdapat hubungan antara usia (p=0,870), jenis pekerjaan (p=0,732), dan kelayakan APD (p=0,783) terhadap terjadinya keluhan dermatitis.Simpulan: Tidak ada hubungan antara usia, jenis pekerjaan, dan kelayanan APD, tetapi ada hubungan antara kepatuhan pemakaian APD dengan kejadian keluhan dermatitis.Kata kunci: kepatuhan pemakaian APD; kelayakan APD; keluhan dermatitis; pekerja pembuatan timbangan Title: Relationship between Age, Type of Work, Compliance with Use of Personal Protective Equipment (PPE), and Eligibility of Personal Protective Equipment Against Dermatitis Complaints in Weighing Workers at PT. A Tangerang RegencyBackground: Occupational skin diseases (occupational dermatoses) are skin inflammation caused by occupational exposure in the workplace. Contact dermatitis is half of all occupational diseases with the largest number being non-allergic or irritant. As a person gets older, the person's susceptibility to disease also increases. In relation to Dermatitis, if workers do not use PPE when doing work or the PPE used is inappropriate, it can increase the risk of disease. The purpose of this study was to analyze the relationship between age, type of work, adherence to the use of personal protective equipment (PPE), and the appropriateness of personal protective equipment (PPE) against skin dermatitis complaints among workers making scales at PT. A.Method: By using a cross sectional approach and an analytical survey, this research is included in the quantitative research. All workers at PT. A which amounted to 50 people became the population in this study.Then the total sampling method was used to get 50 workers as the sample of this study.Result: The results of this study indicate that there is a relationship between compliance with the use of PPE (p=0.000) and the occurrence of dermatitis complaints and there is no relationship between age (p=0.870), type of work (p=0.732), and appropriateness of PPE (p=0.783) to dermatitis complaints.Conclusion: There is no relationship between age, type of work, and PPE services, but there is a relationship between compliance with the use of PPE and the incidence of dermatitis complaints.Keywords: compliance with the use of PPE; PPE eligibility; dermatitis complaints; scales manufacturing worker
Analisis Tingkat Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Pekerja Pabrik Roti di Jakarta Lu'lu Hanifah; Baju Widjasena; Ida Wahyuni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 3 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.3.189-197

Abstract

Latar belakang: Keluhan musculoskeletal disorders menjadi salah satu penyakit akibat kerja yang perlu mendapatkan perhatian lebih khususnya pada pekerja sektor informal. Keluhan musculoskeletal disorders merupakan keluhan yang dapat dirasakan pada beberapa bagian otot skeletal. Proses pembuatan roti pada dua pabrik roti di Jakarta masih dilakukan secara manual, dimana pekerja cenderung melakukan pekerjaanya dalam posisi berdiri, melakukan kegiatan berulang, melakukan pengangkatan secara manual, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja pabrik roti di Jakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Subjek penelitian yang digunakan sebanyak 4 pekerja di bagian produksi sebagai informan utama dan 2 orang pekerja di bagian administrasi sebagai informan triangulasi. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu pedoman wawancara dan kuesioner Nordic Body Map.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan keluhan musculoskeletal disorders yang dialami oleh pekerja pabrik roti pada 12 bulan terakhir diantaranya pada bagian leher, bahu, punggung atas, punggung bawah, pergelangan tangan/tangan, engkel/kaki. Keluhan musculoskeletal disorders disebabkan oleh faktor individu, yaitu umur, masa kerja, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga dan faktor pekerjaan, yaitu beban kerja fisik, postur kerja, frekuensi gerakan berulang, dan durasi kerja.Simpulan: Keluhan musculoskeletal disorders yang tidak menyebabkan adanya pengurangan aktivitas kerja ataupun hilangnya hari kerja yang berarti keluhan tergolong ringan hingga sedang.Kata kunci: keluhan musculoskeletal disorders; pekerja produksi roti; penyakit akibat kerja Title: Analysis the Levels of Musculoskeletal Disorders (MSDs) Complaints in Bread Factory Workers in JakartaBackground: Complaints of musculoskeletal disorders are one of the occupational diseases that need more attention, especially in informal sector workers. Complaints of musculoskeletal disorders are complaints that can be felt in several parts of the skeletal muscles. The process of making bread at two bakeries in Jakarta is still done manually, where workers tend to do their work in a standing position, do repetitive activities, do manual lifting, and so on. This study aims to analyze the level of musculoskeletal disorders complaints among bakery workers in Jakarta.Method: This research is a qualitative study using the descriptive analysis method. The research subjects used were 4 workers in the production department as the main informant and 2 workers in the administration department as triangulation informants. The research instruments used were interview guidelines and the Nordic Body Map questionnaire.Result: The results showed that the complaints of musculoskeletal disorders experienced by bakery workers in the last 12 months including neck, shoulder, upper back, lower back, wrist/hand, and ankle/leg. Complaints of musculoskeletal disorders are caused by individual factors, namely age, length of service, smoking habits, exercise habits, and work factors, namely physical workload, work posture, frequency of repetitive movements, and duration of work.Conclusion: Complaints of musculoskeletal disorders do not cause a reduction in work activity or loss of working days, which means complaints are classified as mild to moderate.Keywords: musculoskeletal disorders complaints; bread factory workers; occupational health