Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Dzikir dengan Pengaturan Pernafasan dalam Pustaka Centhini Muzairi, Muzairi
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 16, No 2 (2006)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.237 KB) | DOI: 10.22146/jf.23206

Abstract

Centhini is one of the suluk literatures; its main doctrine isto reach the “perfect of life”, that is the unity of human being andGod. The ways to reach the “perfect of life” by syariat, tarekat,hakikat, and ma’rifat as them said by Seh Amongraga does not asomething new, because of which has been dealt with in theprimbon that came from XVI century and Hamzah Fansuri. Salatand dzikir and breath-ordering in Centhini are the means forhuman beings to get unity to God. It appears that dzikir in theconnection to breath-ordering is an indication of universal way inmysticism that be able find out in all religions. Double function ofSeh Amongraga who gave by authors essentially has a mission tomake harmony of religion and Javanese tradition, that is thetradition of Seh Siti Jenar, Sunan Panggung, Ki Bebeluk, and SehAmongraga with Islam that purely legalistic.
Ajaran tentang Jalan Kesempurnaan Hidup dalam Pustaka Centhini Muzairi, Muzairi
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 2, No 2 (2003)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2003.%x

Abstract

Pemikiran Mistik dalam Islam Jawa merupakan serapan dari berbagai unsur kebudayaan yang langsung tersentuh dengan budaya Jawa. Sufisme Jawa tidak semata-mata mistik murni tetapi tercampur dengan pemikiran filsafat dan nilai-nilai budaya Jawa. Salah satu karya yang mengelaborasi fenomena itu adalah Serat Centhini. Tulisan berikut akan mencoba mengangkat ide pemikiran mistik Islam Kejawen terutama yang berkaitan dengan ajaran tentang kesempurnaan hidup, yang dalam tradisi sufisme disebut dengan "insan kamil". Penulis hendak menghubungkan tradisi tarekat dalam sufi dengan pemikiran "jalan hidup" dalam sastra suluk, yakni konsep sarengat, tarekat, hakekat dan makripat.