Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pendugaan Air Tanah (Akuifer) dengan Metode Vertical Electrical Sounding (VES) di Kelurahan Medan Baru Nabilah Rofifah; Muhammad Siaman; Ronni Samuel Saragih; Suhendra Suhendra; Jesika Erni Elfrita Sinaga; Halauddin Halauddin
Jurnal Penelitian Sains Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v25i2.760

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebaradaan akuifer air tanah di Kelurahan Medan Baru Kecamatan Muara Bangka Hulu yang di setiap perumahan mengalami masalah air tanah yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode VES (vertical elektrical sounding) geolistrik resistivitas sebanyak 15 titik pengukuran dengan konfigurasi schlumberger. Tahapan penelitian ini yaitu proses akuisisi data lapangan di 15 titik pengukuran kelurahan Medan Baru, kemudian pengolahan data dan interpretasi sehingga didapatkan hasil berupa keberadaan akuifer air tanah di bawah permukaan. Hasil penelitian di dapatkan yaitu pada lintasan pertama di titik VES 3 di depan Masjid lapisan akuifer terdapat pada kedalaman (8-60) meter, pada titik VES 6 lapisan akuifer terdapat pada kedalaman (7-80) meter, pada titik VES 15 lapisan akuifer terdapat di kedalaman (17-30) meter. Adapun jenis mineral yang terkandung di daerah Kelurahan Medan Baru yaitu lempung, pasir, dan kerikil. Kata kunci: akuifer, air tanah, geolistrik, medan baru, ves AbstractThis study aims to determine the existence of groundwater aquifers in Medan Baru Village, Muara Bangka Hulu Subdistrict, where each housing estate experiences different groundwater problems. This research uses the VES (vertical electrical sounding) geoelectrical resistivity method as many as 15 measurement points with schlumberger configuration. The stages of this research are the process of field data acquisition at 15 measurement points in Medan Baru village, then data processing and interpretation so that the results are obtained in the form of the presence of groundwater aquifers in the subsurface. The results of the research obtained are on the first track at VES point 3 in front of the Mosque the aquifer layer is at a depth of (8-60) meters, at VES point 6 the aquifer layer is at a depth of (7-80) meters, at VES point 15 the aquifer layer is at a depth of (17-30) meters. The types of minerals contained in Medan Baru Urban Village area are clay, sand, and gravel.Keywords: aquifers, groundwater, geoelectrical, medan baru, ves
Identifikasi Potensi Daerah Rawan Banjir Berdasarkan Nilai Resistivitas dan Porositas Batuan Dengan Menggunakan Metode VES di Desa Batik Nau Kabupaten Bengkulu Utara Nesti Fazeza; Suhendra Suhendra; Habel Barasa; Halaudin Halaudin
Jurnal Fisika Unand Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.13.3.343-350.2024

Abstract

Penelitian dilakukan di Desa Batik Nau,Kabupaten Bengkulu Utara, yang rentan terhadap banjir. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi resitivitas dan porositas batuan serta kondisi geologi untuk menilai potensi daerah yang rentan terdampak banjir.Dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger untuk Metode Vertical Electrical Sounding (VES) pada 30 titik penelitian di sepanjang daerah rawan banjir. Data utama diperoleh menggunakan alat Geolistrik IP Meter MAE X612-EM, kemudian diproses dengan perangkat lunak Progress 3.0 untuk menghasilkan gambaran Resistivity Log 1D,yang kemudian diinversikan dan dianalisis untuk menyesuaikan dengan peta geologi. Selanjutnya dilakukan analisis matematis secara 3D dengan menggunakan perangkat lunak Voxler 4.0 untuk mendapatkan hasil gambaran porositas secara lapisanan. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa lapisan bawah permukaan tanah di Desa Batik Nau rata – rata di penuhi dengan batuan alluvium yang berjenis lempung(tanah liat), kerikil pasiran, dan napal. Porositas yang memiliki rata-rata rendah, menunjukkan bahwa daerah penelitian ini cenderung jenuh terhadap udara, sehingga menyebabkan terakumulasi saat musim hujan.
MODEL 3D SEBARAN HIDROTERMAL BERDASARKAN NILAI RESISTIVITAS DI DAERAH GEOWISATA TAMBANG SAWAH, LEBONG BENGKULU Sendiya Verentina; Suhendra Suhendra; Refrizon Refrizon; Intan Gayatriani; Halauddin Halauddin
Jurnal Geosaintek Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v11i2.2677

Abstract

3D MODELING AND DERIVATIVE ANALYSIS OF THE KETAHUN SEGMENT BASED ON GGMPLUS AND SRTM2 DATA FOR DISASTER MITIGATION Clora Ulandari; Halauddin Halauddin; Refrizon Refrizon; Hilmi Zakariya; Suhendra Suhendra; Muchammad Farid; Alda Sulistiani; Hana Raihana; Nurul Apriyanti
Jurnal Geosaintek Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v12i2.9106

Abstract

interaction between the Sumatra subduction zone and the Sumatra Fault, resulting in high seismic activity. One of the important segments with the potential to cause earthquakes is the Ketahun Segment in Lebong Regency, Bengkulu Province. This study aims to map the three-dimensional (3D) fault structure and identify lithological density contrasts to support disaster mitigation efforts. The methods used include processing GGMPlus and SRTM2gravity satellite gravity data, complete Bouguer correction, regional-residual anomaly separation, first horizontal derivative (FHD) and second vertical derivative (SVD) analysis, and 3D inversion modeling using Grav3D software. The CBA analysis results show anomaly values of –8 to 50 mGal with sharp gradations indicating the presence of major fault structures. SVD and FHD analyses show the dominance of dip-slip faults with significant density contrasts. The 3D inversion modeling shows a density range of 1.02–3.52 g/cm³ with an average value of 2.27 g/cm³, where the low-density zone is at a shallow depth (0–1500 m) and the high-density zone is at a depth of 500–2000 m. The sharp boundary between the two zones indicates an active fault plane at a depth of 1000–2500 m. These findings provide a more representative picture of the fault geometry and can be used as a basis for developing earthquake mitigation strategies and spatial planning based on actual geological conditions in the Bengkulu region.