p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Siapa Zarathustra dalam Filsafat Nietzsche? Yohanes Mega Hendarto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.198

Abstract

Dalam buku Demikian Zarathustra Bersabda, Nietzsche menampilkan satu tokoh yang banyak ditafsirkan oleh para pembaca sebagai seorang nabi. Para penafsir dan komentator teks Nietzsche mengatakan bahwa Nietzsche terinspirasi dari seorang nabi zaman dahulu, tapi ada pula yang menuliskan bahwa Zarathustra tidak lain ialah Nietzsche itu sendiri. Penulis akan membahas mengenai tokoh Zarathustra menurut tradisi sejarah dan kebudayaan Persia. Lalu dilanjutkan dengan latar belakang Nietzsche hingga akhirnya terinspirasi dari kebudayaan tersebut dan memilih menggunakan Zarathustra dalam karyanya. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan memasukkan beberapa penafsiran dari Martin Heidegger, Peter Levine, Gilles Delluze, dan Mazzino Montinari mengenai tokoh Zarathustra yang dimaksud Nietzsche. Di bagian akhir, penulis memberikan pertimbangan tafsiran kepada pembaca teks Nietzsche bahwa Zarathustra adalah bahasa atau selubung yang digunakan Nietzsche untuk menyampaikan gagasannya mengenai Kekembalian yang Sama Secara Abadi dan Manusia yang Melampaui (Übermench).
Kritik Nietzsche Terhadap Kebahagiaan Eudaimonia Sokrates Yohanes Mega Hendarto
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.219

Abstract

Dalam paragraf keempat “Problem Sokrates”, Nietzsche mengkritik Sokrates atas rumusan “rasio = keutamaan = kebahagiaan” sebagai persamaan yang paling aneh dan bertentangan dengan naluri. Rumusan ini menyatakan, hanya dengan rasio, manusia dapat menentukan Kebenaran dan dengan begitu menjamin hidup yang berkeutamaan serta menjamin kebahagiaannya. Nietzsche melihat adanya masalah, karena dengan begitu segala macam bentuk naluri, insting, atau hasrat manusia disingkirkan demi mencapai Keutamaan dan akhirnya Kebahagiaan. Nietzsche memperlihatkan Kebahagiaan adalah perasaan munculnya kuasa atas kontradiksi dalam diri manusia. Di bagian lainnya, Nietzsche menunjukkan adanya keterikatan antara rasa sakit (pain) dan kesenangan (pleasure), yang menjadi penegasan selanjutnya bahwa tidak ada Kebahagiaan tanpa penolakan terhadap Kebahagiaan itu sendiri. Penelitian ini akan membahas etika eudaimonia yang bermula dari Sokrates dan kemudian dikembangkan oleh Platon. Selanjutnya, penulis akan memaparkan kritikan Nietzsche terhadap konsep Kebahagiaan dalam etika eudaimonia dengan mengulas konsep Kebahagiaan menurut Nietzsche.