Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kolusi algoritmik sebagai bentuk baru persaingan usaha tidak sehat: tantangan pembuktian dan kebutuhan reformasi hukum di era kecerdasan buatan Ratna Dewi; Rizqi Zaenun Maulana Sofyan; Nabilla Resianadia; Safnah Arnalia Sani; Mohammad Haikel
Cessie : Jurnal Ilmiah Hukum Vol. 4 No. 6 (2026): Cessie: Jurnal Ilmiah Hukum
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55904/cessie.v4i6.2028

Abstract

Digitalisasi pasar dan penggunaan algoritma kecerdasan buatan dalam penetapan harga telah menciptakan bentuk baru koordinasi harga yang sulit dibedakan dari kolusi tradisional, sementara kerangka UU No. 5 Tahun 1999 belum secara spesifik mengatur interaksi algoritmik dalam konteks persaingan usaha. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesenjangan normatif dan tantangan praktis dalam pembuktian kolusi algoritmik di Indonesia, sekaligus merumuskan kebutuhan reformasi hukum yang adaptif terhadap dinamika pasar digital. Penelitian ini menggunakan metode hukum doktrinal dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, dilengkapi analisis komparatif terhadap perkembangan hukum persaingan Uni Eropa serta telaah kualitatif atas praktik penegakan KPPU di sektor digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan definisi eksplisit mengenai perjanjian algoritmik, ketergantungan pada pendekatan rule of reason, keterbatasan yurisdiksi terhadap pelaku usaha asing, kesulitan akses data dan transparansi algoritma, serta minimnya pedoman teknis, telah menghambat efektivitas pembuktian dan penindakan kolusi algoritmik. Dengan demikian, Indonesia memerlukan reformasi komprehensif berupa perluasan definisi perjanjian dan concerted practice, penguatan pengakuan bukti tidak langsung, penerapan kewajiban transparansi algoritma, serta penerapan prinsip compliance by design agar penegakan hukum persaingan tetap efektif sekaligus tidak menghambat inovasi di era kecerdasan buatan.
Analisis Sengketa Perdata Merek Dagang antara “MS Glow” dan “PS Glow”: Tinjauan Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual Puspa Indah Gusellina; Ratna Dewi; Yessy Fajarina; Gracia Erica; Mohamad Chotib Rahayaan
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 7 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i7.3630

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sengketa perdata merek dagang antara MS Glow dan PS Glow dalam perspektif hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah konflik antara prinsip first to file dengan konsep prior use serta klaim merek terkenal. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan studi kasus terhadap putusan Pengadilan Niaga Surabaya dan Mahkamah Agung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hukum merek di Indonesia menganut prinsip first to file, di mana hak eksklusif atas merek diberikan kepada pihak yang pertama kali mendaftarkan mereknya secara administratif. Dalam kasus ini, PS Glow dinyatakan sebagai pemilik sah merek karena telah lebih dahulu terdaftar, meskipun MS Glow telah menggunakan merek tersebut lebih lama dan memiliki reputasi yang kuat. Selain itu, majelis hakim menilai adanya persamaan pada pokoknya antara kedua merek, khususnya pada unsur dominan “Glow” dan kesamaan kelas barang, sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan konsumen. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendaftaran merek secara tepat waktu guna memperoleh perlindungan hukum serta mencegah terjadinya sengketa di kemudian hari.