Lusi Ernawati
Program Studi Teknik Kimia, Institut Teknologi Kalimantan

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Edukasi Pirolisis Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif Skala Rumah Tangga Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Muhammad Imron Zamzani
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 5 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i5.17444

Abstract

Abstrak: Plastik menyumbang 17% dari produksi sampah serta menempati urutan ketiga penyumbang sampah terbesar TPA Kota Balikpapan, setelah kertas, sisa makanan dan sampah rumah tangga lainnya. Sampah plastik sangat sulit dimusnahkan, sehingga mengakibatkan penuhnya lahan penampungan sampah (landfill). Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi penerapan teknologi pirolisis sampah plastik menjadi bahan bakar. Diharapkan wawasan masyarakat tentang teknologi pirolis sampah plastik juga semakin terbuka seiring dengan issu pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dengan merujuk kota Balikpapan menjadi kota layak huni dan berwawasan lingkungan. Edukasi ini dikemas dalam bentuk sosialisasi dan demonstrasi alat pirolisis secara langsung dengan dihadiri 32 warga masyarakat Giri Mulyo RT 24. Evaluasi dilakukan dengan perhitungan hasil kuisioner kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan program kegiatan. Dari hasil evaluasi kuisioner diperoleh bahwa peningkatan wawasan warga tentang edukasi pirolisis sampah plastik baik sebesar 90% dengan indeks capaian tertinggi sebesar 96,3% dari warga memberikan respon positif pada survey akses kemudahan dalam memperoleh bahan baku sampah plastik. Sedangkan indeks capaian terendah sebesar 57,8% dari warga menilai bahwa teknologi pirolisis sampah plastik masih sulit untuk dikembangkan dan diterapkan secara massal.Abstract:  The third highest contributor to garbage in Balikpapan City TPA, behind paper, food waste, and other home waste, is plastic, which accounts for 17% of waste production. Due to how challenging it is to destroy plastic garbage, landfills are frequently filled. By using pyrolysis technology to convert plastic trash into fuel, this program aims to educate the communities. The subject of moving the National Capital (IKN) is becoming more widely discussed, and Balikpapan is being referred to as a living and environmentally friendly city, which has increased public awareness of pyrolysis technology for plastic waste. There are 32 participants from Giri Mulyo from RT 24 joined in this program, which was done as a direct socialization and demonstration. From the questionnaire evaluation, it was found that the knowledge of Giri Mulyo residents was increase regarding plastic waste pyrolysis education was good by 90% with the highest achievement index being 96.3% of residents giving positive responses to the survey on easy access to obtaining plastic waste raw materials. Meanwhile, the lowest achievement index was 57.8% of residents who considered that plastic waste pyrolysis technology was still difficult to develop on a large community.   
PELATIHAN DAN SOSIALISASI ALAT DEGRADATOR FOTOKATALITIK LIMBAH ZAT PEWARNA PUSAT KERAJINAN BATIK SHAHO BALIKPAPAN Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Musyarofah Musyarofah; Juwita Payungalo; Istiana Maulidah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.31626

Abstract

Abstrak: Provinsi Kalimantan Timur dikenal tidak hanya karena kekayaan alamnya, tetapi juga keragaman seni rupanya, seperti Batik Shaho dari Balikpapan yang menjadi identitas budaya lokal. Berdasarkan hasil observasi tim pengabdian masyarakat, dalam beberapa tahun terakhir, produsen Batik Shaho beralih dari pewarna alami ke sintetis seperti remasol dan naphtol demi efisiensi, meskipun bahan tersebut bersifat genotoksik, karsinogenik, dan tergolong limbah B3. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah mengusung konsep pendampingan yang berkelanjutan dengan memberikan pemahaman dan keterampilan baru bagi mitra Batik Shaho dalam menggunakan alat degradator fotokatalitik limbah zat pewarna kain batik. Pendampingan ini difokuskan pada pelatihan dan sosialisasi pengunaan alat degradator zat pewarna kain batik yang diharapkan dapat membantu para perajin dalam menangani buangan limbah zat pewarna. Mempertimbangkan efisiensi penanganan limbah di wilayah mitra masih terbatas, tim pengabdian masyarakat ITK mengusulkan diseminasi teknologi dekolorator. Alat ini dilengkapi sensor degradasi real-time, material aktif TiO₂ berkinerja tinggi, dan lampu UV untuk mendukung proses dekolorisasi limbah pewarna. Sistem ini dirancang terintegrasi dan diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam pengelolaan limbah zat pewarna. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya nyata untuk mewujudkan Gerakan peduli lingkungan melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Indikator keberhasilan kegiatan ini dibuktikan melalui pengumpulan data sebanyak 25 responden peserta pelatihan. Berdasarkan hasil evaluasi kuesioner, lebih dari 90% peserta meraih skor rata-rata di atas 80. Hal tersebut mengindikasikan efektivitas pelatihan yang diselenggarakan dalam meningkatkan kompetensi dan pengetahuan para peserta, khususnya terkait pengelolaan limbah warna kain menggunakan teknologi degradator fotokatalitik.Abstract: East Kalimantan Province is known not only for its natural wealth, but also for its diverse fine arts, such as Batik Shaho from Balikpapan which is a local cultural identity. Based on the results of observations by the community service team, in recent years, Batik Shaho producers have switched from natural to synthetic dyes such as remasol and naphtol for efficiency, even though these materials are genotoxic, carcinogenic, and classified as B3 waste. The purpose of this community service is to carry the concept of sustainable assistance by providing new understanding and skills for Batik Shaho partners in using a photocatalytic degrader for batik fabric dye waste. This assistance focuses on training and socialization of the use of a batik fabric dye degrader which is expected to help craftsmen in handling dye waste. Considering that the efficiency of waste handling in partner areas is still limited, the ITK community service team proposed the dissemination of decolorizer technology. This tool is equipped with a real-time degradation sensor, high-performance TiO₂ active material, and UV lamps to support the dye waste decolorization process. This system is designed to be integrated and is expected to have a significant impact on dye waste management. This initiative is part of a real effort to realize the Environmental Care Movement through the application of environmentally friendly and sustainable technology. The indicator of the success of this activity is proven through the collection of data from 25 training participant respondents. Based on the results of the questionnaire evaluation, more than 90% of participants achieved an average score above 80. This indicates the effectiveness of the training held in improving the competence and knowledge of participants, especially related to the management of fabric color waste using photocatalytic technology.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANGGAR MELALUI INOVASI BIOPELET SRF BERBASIS CAMPURAN LIMBAH KAYU DAN SAMPAH ORGANIK UNTUK MENDUKUNG EKONOMI SIRKULAR Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Asful Hariyadi; Rizka Lestari; Nita Ariestiana Putri; Aryo Setyo Nugroho; Azis Andi Nugroho; Arif Fadhlur Rohman; Julio Firhan Hidayat Gazali; Ariel Guntur Pamungkas
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38525

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberdayakan pekerja dan komunitas sekitar tempat pemrosesan akhir sampah (TPAS) dalam mengolah sampah organik dan limbah kayu menjadi biopelet sebagai bahan bakar alternatif co-firing biomassa pada PLTU. Metode pelaksanaan mencakup tiga tahapan, yaitu pra-kegiatan berupa identifikasi potensi dan koordinasi mitra, pelaksanaan melalui sosialisasi ekonomi sirkular dan pelatihan teknis produksi biopelet meliputi pengeringan, pencacahan, pencampuran, pencetakan, dan pendampingan operasional, serta evaluasi melalui uji mutu produk dan survei kepuasan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan biopelet yang dihasilkan memenuhi spesifikasi umum co-firing biomassa dengan kadar air 8–12%, nilai kalor 3.300–4.100 kkal/kg, dan kadar abu 7–10%. Survei terhadap 25 peserta mencatat respons positif rata-rata 80%, dengan 86% melaporkan peningkatan keterampilan teknis dan 72% menyatakan minat melanjutkan produksi secara berkelanjutan. Program ini terbukti meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, mengurangi beban timbunan sampah, serta membuka peluang usaha berbasis energi terbarukan yang berpotensi direplikasi pada TPAS lain.Abstract: This community service program aimed to empower workers and residents surrounding an urban municipal solid waste landfill (TPAS) to process organic waste and wood residue into biopellets for biomass co-firing fuel for PLTU. Implementation comprised three phases: pre-activity, involving potential identification and partner coordination; implementation, encompassing circular economy socialization and technical training in biopellet production covering drying, shredding, blending, molding, and operational mentoring; and evaluation through product quality testing and participant satisfaction surveys. Quality assessments confirmed that the biopellets produced met general co-firing biomass specifications, achieving moisture content of 8–12%, calorific value of 3,300–4,100 kcal/kg, and ash content of 7–10%. A survey of 25 participants recorded an average positive response rate of 80%, with 86% reporting improved technical skills and 72% expressing interest in continuing production. The program demonstrably enhanced human resource capacity, reduced landfill waste accumulation, and created renewable energy-based livelihood opportunities replicable at other sites.
UTILISASI LIMBAH MINYAK JELANTAH MENJADI PRODUK SABUN PADAT DAN LILIN SEBAGAI UPAYA PENERAPAN ZERO WASTE Lusi Ernawati; Rizka Lestari; Rizka Ayu Yuniar; Nita Ariestiana Putri; Asful Hariyadi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 5 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i5.25997

Abstract

Abstrak: Limbah minyak goreng merupakan salah satu limbah rumah tangga yang berpotensi mencemari lingkungan. Residu dari proses penggorengan ini banyak mengandung asam lemak yang memiliki potensi untuk diolah menjadi produk sabun padat dan lilin. Kegiatan pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan mitra baik hard skill dan soft skill yakni mencakup: (1) mitra mampu memahami prosedur pembuatan sabun dan lilin dengan bahan dasar minyak jelantah, (2) terbentuknya ketrampilan mitra dalam membuat produk berupa sabun padat dan lilin aroma terapi, (3) mengasah kemampuan komunikasi mahasiswa ITK yang terlibat dalam tim panitia kegiatan pengabdian melalui presentasi dan hubungan sosial dengan peserta pelatihan. Selain itu kegiatan ini menjadi salah satu bentuk upaya penerapan zero waste untuk mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan bernilai ekonomi. Adapun metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui transfer of knowledge dan technology dengan langkah-langkah: (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) evaluasi kegiatan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di kampus ITK sebagai host kegiatan berlokasi di lab kimia dasar dengan peserta siswa dan guru SMP 5 Balikpapan sebanyak 20 orang. Kegiatan ini dilakukan melalui beberapa metode yaitu ceramah, tanya jawab dan diskusi kemudian dilanjutkan praktik pembuatan sabun padat dan lilin. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan disambut antusias oleh peserta pelatihan. Perubahan pemahaman peserta sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan tentang proses pembuatan sabun dan lilin dari limbah minyak minyak jelantah menjadi indikator keberhasilan kegiatan. Sebanyak 90% peserta (termasuk guru dan para siswa) belum mengetahui bagaimana cara pembuatan sabun padat dan lilin aroma terapi dari minyak jelantah sebelum mengikuti kegiatan pelatihan. Setelah dilakukan pelatihan dan praktik pembuatan, seluruh peserta telah mengetahui cara pembuatan sabun maupun lilin dari minyak jelantah serta diharapkan peserta pelatihan memiliki keterampilant memanfaatkan limbah minyak goreng di rumah.Abstract: One of the household pollutants that might contaminate the environment is cooking oil waste. Many fatty acids found in the frying residue have the ability to be converted into solid soap and wax compounds. This community service project aims to enhance partners' abilities, both hard and soft skills. These abilities include: (1) partners' comprehension of the steps involved in creating soap and candles from used cooking oil; and (2) partners' development of skills in creating solid soap and candle products. aromatherapy; (3) through presentations and interpersonal interactions with training participants, ITK students participating in the committee team for the service activity will improve their communication abilities. Aside from that, this activity is an attempt to achieve zero waste by turning rubbish into useful and valuable goods. The method for implementing activities is carried out through the transfer of knowledge and technology with the steps: (1) preparation, (2) implementation, and (3) evaluation of activities. Twenty students and teachers from SMP 5 Balikpapan participated in the program, which was hosted on the ITK campus in the basic chemistry lab. A variety of techniques were used to carry out this activity, including lectures, Q&A sessions, and group discussions. The process of creating solid soap and candles was the next step. The training participants eagerly welcomed and the activity proceeded smoothly. An indicator of the activity's success is how participants' knowledge of how to make soap and candles from leftover used cooking oil changed before and after the activity. Prior to taking part in the training session, up to 90% of participants—including teachers and students—did not know how to produce solid soap and aromatherapy candles out of spent cooking oil. All participants learned how to produce soap and candles from spent cooking oil after completing training and manufacturing practice, and it is anticipated that training participants would be able to use leftover cooking oil at home.
INOVASI EKSTRAKTOR PEWARNA ALAMI BATIK KHAS KALIMANTAN UNTUK PEMBERDAYAAN PUSAT KERAJINAN BATIK Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Rizka Lestari; Mutia Reza
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23388

Abstract

Abstrak: Banyak produk adat dan kebudayaan lokal terkenal di Kalimantan Timur, selain kekayaan sumber daya alam, salah satunya adalah pabrik kain batik Shaho. Berdasarkan hasil survei, pusat kerajinan batik Shaho sampai saat ini masih menggunakan pewarna kimia sintetis yang bersifat genotoksik, karsinogen dan merupakan polutan berkategori B3. Tujuan dari kegiatan adalah memperkenalkan rancangan alat ekstraktor untuk produksi pewarna alami kain batik dengan bahan baku serbuk kayu khas hutan Kalimantan (Ulin dan Bangkirai) serta memberikan wawasan dan pengetahuan kepada mitra melalui pengenalan teknologi ekstraksi modern untuk pembuatan pewarna alami kain batik. Mitra pada pengabdian ini adalah pemilik usaha batik Shaho yang berlokasi di kelurahan Batu Ampar, jalan LKMD RT. 5, No. 45 Balikpapan. Peserta terdiri dari pekerja mitra Batik shaho sebanyak 10 orang, pemilik usaha batik 2 orang dan masyarakat sekitar sebanyak 8 orang. Dari kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan kepada 20 peserta menunjukkan bahwa wawasan pekerja pusat kerajinan batik meningkat tentang pembuatan ekstrak pewarna alami dari serbuk kayu dengan alat ekstraktor sebelum demonstrasi dengan indeks capaian sebesar 60 % naik menjadi 90% sesudah demonstrasi. Peserta memberikan respon positif terutama pada inovasi alat ekstraktor dan produk pewarna kain alami. Produk pewarna cair alami dari ekstrak serbuk kayu ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk pewarna padat alami dari serbuk kayu yang pemanfaatannya lebih tahan lama serta dari segi pengemasan lebih ekonomis. Abstract: Many traditional and local cultural products are famous in East Kalimantan, in addition to the wealth of natural resources, one of which is the Shaho batik cloth factory. Based on the survey results, the Shaho batik craft center is still using synthetic chemical dyes that are genotoxic, carcinogenic and are B3 category pollutants. The purpose of the activity is to introduce the design of an extractor tool for the production of natural batik dyes with raw materials from Kalimantan forest sawdust (Ulin and Bangkirai) and to provide insight and knowledge to partners through the introduction of modern extraction technology for making natural batik dyes. The partners in this service are the owners of the Shaho batik business located in Batu Ampar Village, Jalan LKMD RT. 5, No. 45 Balikpapan. Participants consisted of 10 Batik shaho partner workers, 2 batik business owners and 8 people from the surrounding community. From the questionnaire consisting of 10 questions to 20 participants, it showed that the insight of the batik craft center workers increased about making natural dye extracts from sawdust with an extractor tool before the demonstration with an achievement index of 60% increasing to 90% after the demonstration. Participants gave positive responses especially to the innovation of extractor tools and natural fabric dye products. Natural liquid dye products from sawdust extract are expected to be developed into natural solid dye products from sawdust which are more durable and more economical in terms of packaging.
IMPLEMENTASI FILTER CERDAS BERBASIS IoT DENGAN MEDIA CERAMSITE UNTUK PENGOLAHAN AIR SUMUR WISATA EDUKASI KM12 Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Riza Alviany; Abdul Kahfi; Catherina San Gabrelia; Elshanda Nur Alifiyani; Ferry Ramadhan; Hafidz Syaifullah; Khairiyah Maulidia Al Faiza; Majesty Heral Torambung
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40422

Abstract

Abstrak: Air sumur bor di Kebun Wisata Edukasi KM 12 selama ini digunakan tanpa pengolahan memadai, sehingga kualitasnya sangat bergantung pada kondisi alami yang sering berubah, ditandai dengan kekeruhan tinggi, kandungan padatan terlarut (TDS) tinggi, serta belum adanya sistem pemantauan real-time. Kegiatan pengabdian ini menerapkan filter cerdas berbasis IoT dengan media ceramsite, melalui perancangan dan pemasangan unit filtrasi, integrasi sensor pH dan TDS, pengujian kinerja, serta sosialisasi dan pelatihan kepada pengelola dan masyarakat. Evaluasi dilakukan melalui dua pendekatan: (1) evaluasi teknis berupa pengukuran kualitas air sebelum dan sesudah filtrasi menggunakan parameter pH, TDS, dan kekeruhan, serta (2) evaluasi sosial menggunakan kuesioner skala Likert 1-5 yang mengukur kepuasan, kemudahan penggunaan, dan dampak program terhadap 21 responden. Hasil implementasi menunjukkan peningkatan signifikan: pH meningkat ke rentang netral 7,1–7,4 (memenuhi standar), TDS turun 63,7% dari 512 mg/L menjadi 186 mg/L, dan kekeruhan turun 100% dari 5 NTU menjadi 0 NTU. Sistem IoT memungkinkan monitoring real-time melalui platform digital mudah diakses. Evaluasi terhadap 21 responden menunjukkan kepuasan tinggi (skor 4,62 dari 5,00); 93,3% menyatakan bermanfaat, 90 % merasakan peningkatan kualitas, dan 96,7% mendukung keberlanjutan. Teknologi ini efektif dan berpotensi direplikasi di wilayah lain.Abstract: At KM 12 Educational Tourism Garden, well water has been used untreated, making its quality dependent on fluctuating natural conditions, marked by high turbidity, high Total Dissolved Solids (TDS), and no real-time monitoring. This program implemented an IoT-based smart filter using ceramsite media, covering filtration unit design, pH and TDS sensor integration, performance testing, and community training for managers and locals. Evaluasi dilakukan melalui dua pendekatan: (1) evaluasi teknis berupa pengukuran kualitas udara sebelum dan sesudah filtrasi menggunakan parameter pH, TDS, dan kekeruhan, serta (2) evaluasi sosial menggunakan kuesioner skala Likert 1-5 yang mengukur kepuasan, kemudahan penggunaan, dan dampak program terhadap 21 responden. Results showed major improvements: pH rose to 7.1–7.4 (meeting standards), TDS dropped by 63.7% from 512 mg/L to 186 mg/L, and turbidity fell by 100% from 5 NTU to 0 NTU. The IoT system enabled real-time monitoring via an accessible digital platform. Surveys from 21 respondents indicated high satisfaction (average score 4.62/5.00); 93.3% found it beneficial, 90 % perceived quality enhancement, and 96.7% supported program continuity. This technology is effective and replicable for similar clean water challenges in other regions.
PENGOLAHAN SAMPAH PADAT TPAS MANGGAR MENJADI PRODUK BIOPELLET (REFUSE-DERIVED FUEL) DENGAN MESIN PELLETIZER BERBASIS SISTEM PENGGERAK ROLLER Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Rizka Lestari; Muhammad Raihan; Hizkia Gunawan Parulian Sianturi; Diniar Mungil Kurniawati; Apip Amrullah; Obie Farobie; Pandji Prawisudha
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.31314

Abstract

Abstrak: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan memperingatkan bahwa kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar diperkirakan akan mencapai batas maksimal pada tahun 2026 apabila tidak dilakukan upaya pengelolaan yang lebih optimal. Beberapa cara mengkonversi limbah padat menjadi bahan bakar telah dilakukan untuk mengurangi volume sampah padat yang semakin meningkat. Namun, tidak menunjukkan hasil yang signifikan, sehingga upaya pengolahan sampah padat terus dilakukan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, khususnya komunitas pengelola sampah TPAS Manggar, dengan melatih mereka membuat produk biopellet menggunakan mesin pelletizer yang berbasis sistem penggerak roller. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan melibatkan 25 peserta dari komunitas pengelola sampah TPAS Maggar. Kegiatan ini mencakup penyampaian materi teori, yang meliputi sosialisasi mengenai sampah padat, pemilahan sampah, dan manajemen pengolahannya. Selain itu, dilakukan demonstrasi penggunaan alat pelletizer, praktik langsung pembuatan biopellet, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Dengan menggunakan analisis statistik Paired Two Sample for Means, terdapat peningkatan yang signifikan dalam tingkat pengetahuan serta keterampilan anggota kelompok pelatihan. Perbedaan rerata skor pre-test dan post-test yang secara statistik signifikan mengindikasikan bahwa program pelatihan tersebut memiliki dampak yang positif terhadap kemampuan para peserta. Dengan hasil evaluasi ini, pelatihan serupa diharapkan dapat direplikasi di komunitas lain sebagai upaya peningkatan kesadaran lingkungan dan penerapan teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah.Abstract: The Balikpapan Environmental Agency (DLH) has issued a warning that the Manggar Final Waste Processing Site (TPAS) may reach full capacity by 2026 unless more effective waste management strategies are implemented. Although various methods of converting solid waste into fuel have been attempted to address the growing waste volume, these efforts have yet to produce significant results. Consequently, solid waste processing initiatives remain ongoing.In response, a community service program was initiated to enhance the capabilities of local residents, particularly members of the Manggar TPAS waste management team. This initiative focused on training participants in the production of biopellets using a pelletizer machine equipped with a roller drive system. A total of 20 community members took part in this program. The training included the presentation of theoretical material covering topics such as solid waste management, sorting procedures, and waste processing techniques. It also featured hands-on sessions where participants practiced operating the pelletizer and producing biopellets. To assess the program’s effectiveness, participants underwent pre- and post-training evaluations. Using the Paired Two Sample for Means statistical method, the data revealed a significant improvement in the participants’ knowledge and skills. The measurable increase in average test scores demonstrates the positive impact of the training. Based on these findings, it is advisable to implement similar initiatives in other communities to encourage environmental awareness and the use of sustainable waste management technologies.