Lusi Ernawati
Program Studi Teknik Kimia, Institut Teknologi Kalimantan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Edukasi Pirolisis Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif Skala Rumah Tangga Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Muhammad Imron Zamzani
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 5 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i5.17444

Abstract

Abstrak: Plastik menyumbang 17% dari produksi sampah serta menempati urutan ketiga penyumbang sampah terbesar TPA Kota Balikpapan, setelah kertas, sisa makanan dan sampah rumah tangga lainnya. Sampah plastik sangat sulit dimusnahkan, sehingga mengakibatkan penuhnya lahan penampungan sampah (landfill). Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi penerapan teknologi pirolisis sampah plastik menjadi bahan bakar. Diharapkan wawasan masyarakat tentang teknologi pirolis sampah plastik juga semakin terbuka seiring dengan issu pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dengan merujuk kota Balikpapan menjadi kota layak huni dan berwawasan lingkungan. Edukasi ini dikemas dalam bentuk sosialisasi dan demonstrasi alat pirolisis secara langsung dengan dihadiri 32 warga masyarakat Giri Mulyo RT 24. Evaluasi dilakukan dengan perhitungan hasil kuisioner kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan program kegiatan. Dari hasil evaluasi kuisioner diperoleh bahwa peningkatan wawasan warga tentang edukasi pirolisis sampah plastik baik sebesar 90% dengan indeks capaian tertinggi sebesar 96,3% dari warga memberikan respon positif pada survey akses kemudahan dalam memperoleh bahan baku sampah plastik. Sedangkan indeks capaian terendah sebesar 57,8% dari warga menilai bahwa teknologi pirolisis sampah plastik masih sulit untuk dikembangkan dan diterapkan secara massal.Abstract:  The third highest contributor to garbage in Balikpapan City TPA, behind paper, food waste, and other home waste, is plastic, which accounts for 17% of waste production. Due to how challenging it is to destroy plastic garbage, landfills are frequently filled. By using pyrolysis technology to convert plastic trash into fuel, this program aims to educate the communities. The subject of moving the National Capital (IKN) is becoming more widely discussed, and Balikpapan is being referred to as a living and environmentally friendly city, which has increased public awareness of pyrolysis technology for plastic waste. There are 32 participants from Giri Mulyo from RT 24 joined in this program, which was done as a direct socialization and demonstration. From the questionnaire evaluation, it was found that the knowledge of Giri Mulyo residents was increase regarding plastic waste pyrolysis education was good by 90% with the highest achievement index being 96.3% of residents giving positive responses to the survey on easy access to obtaining plastic waste raw materials. Meanwhile, the lowest achievement index was 57.8% of residents who considered that plastic waste pyrolysis technology was still difficult to develop on a large community.   
INOVASI EKSTRAKTOR PEWARNA ALAMI BATIK KHAS KALIMANTAN UNTUK PEMBERDAYAAN PUSAT KERAJINAN BATIK Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Rizka Lestari; Mutia Reza
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23388

Abstract

Abstrak: Banyak produk adat dan kebudayaan lokal terkenal di Kalimantan Timur, selain kekayaan sumber daya alam, salah satunya adalah pabrik kain batik Shaho. Berdasarkan hasil survei, pusat kerajinan batik Shaho sampai saat ini masih menggunakan pewarna kimia sintetis yang bersifat genotoksik, karsinogen dan merupakan polutan berkategori B3. Tujuan dari kegiatan adalah memperkenalkan rancangan alat ekstraktor untuk produksi pewarna alami kain batik dengan bahan baku serbuk kayu khas hutan Kalimantan (Ulin dan Bangkirai) serta memberikan wawasan dan pengetahuan kepada mitra melalui pengenalan teknologi ekstraksi modern untuk pembuatan pewarna alami kain batik. Mitra pada pengabdian ini adalah pemilik usaha batik Shaho yang berlokasi di kelurahan Batu Ampar, jalan LKMD RT. 5, No. 45 Balikpapan. Peserta terdiri dari pekerja mitra Batik shaho sebanyak 10 orang, pemilik usaha batik 2 orang dan masyarakat sekitar sebanyak 8 orang. Dari kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan kepada 20 peserta menunjukkan bahwa wawasan pekerja pusat kerajinan batik meningkat tentang pembuatan ekstrak pewarna alami dari serbuk kayu dengan alat ekstraktor sebelum demonstrasi dengan indeks capaian sebesar 60 % naik menjadi 90% sesudah demonstrasi. Peserta memberikan respon positif terutama pada inovasi alat ekstraktor dan produk pewarna kain alami. Produk pewarna cair alami dari ekstrak serbuk kayu ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk pewarna padat alami dari serbuk kayu yang pemanfaatannya lebih tahan lama serta dari segi pengemasan lebih ekonomis. Abstract: Many traditional and local cultural products are famous in East Kalimantan, in addition to the wealth of natural resources, one of which is the Shaho batik cloth factory. Based on the survey results, the Shaho batik craft center is still using synthetic chemical dyes that are genotoxic, carcinogenic and are B3 category pollutants. The purpose of the activity is to introduce the design of an extractor tool for the production of natural batik dyes with raw materials from Kalimantan forest sawdust (Ulin and Bangkirai) and to provide insight and knowledge to partners through the introduction of modern extraction technology for making natural batik dyes. The partners in this service are the owners of the Shaho batik business located in Batu Ampar Village, Jalan LKMD RT. 5, No. 45 Balikpapan. Participants consisted of 10 Batik shaho partner workers, 2 batik business owners and 8 people from the surrounding community. From the questionnaire consisting of 10 questions to 20 participants, it showed that the insight of the batik craft center workers increased about making natural dye extracts from sawdust with an extractor tool before the demonstration with an achievement index of 60% increasing to 90% after the demonstration. Participants gave positive responses especially to the innovation of extractor tools and natural fabric dye products. Natural liquid dye products from sawdust extract are expected to be developed into natural solid dye products from sawdust which are more durable and more economical in terms of packaging.
PELATIHAN DAN SOSIALISASI ALAT DEGRADATOR FOTOKATALITIK LIMBAH ZAT PEWARNA PUSAT KERAJINAN BATIK SHAHO BALIKPAPAN Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Musyarofah Musyarofah; Juwita Payungalo; Istiana Maulidah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.31626

Abstract

Abstrak: Provinsi Kalimantan Timur dikenal tidak hanya karena kekayaan alamnya, tetapi juga keragaman seni rupanya, seperti Batik Shaho dari Balikpapan yang menjadi identitas budaya lokal. Berdasarkan hasil observasi tim pengabdian masyarakat, dalam beberapa tahun terakhir, produsen Batik Shaho beralih dari pewarna alami ke sintetis seperti remasol dan naphtol demi efisiensi, meskipun bahan tersebut bersifat genotoksik, karsinogenik, dan tergolong limbah B3. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah mengusung konsep pendampingan yang berkelanjutan dengan memberikan pemahaman dan keterampilan baru bagi mitra Batik Shaho dalam menggunakan alat degradator fotokatalitik limbah zat pewarna kain batik. Pendampingan ini difokuskan pada pelatihan dan sosialisasi pengunaan alat degradator zat pewarna kain batik yang diharapkan dapat membantu para perajin dalam menangani buangan limbah zat pewarna. Mempertimbangkan efisiensi penanganan limbah di wilayah mitra masih terbatas, tim pengabdian masyarakat ITK mengusulkan diseminasi teknologi dekolorator. Alat ini dilengkapi sensor degradasi real-time, material aktif TiO₂ berkinerja tinggi, dan lampu UV untuk mendukung proses dekolorisasi limbah pewarna. Sistem ini dirancang terintegrasi dan diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam pengelolaan limbah zat pewarna. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya nyata untuk mewujudkan Gerakan peduli lingkungan melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Indikator keberhasilan kegiatan ini dibuktikan melalui pengumpulan data sebanyak 25 responden peserta pelatihan. Berdasarkan hasil evaluasi kuesioner, lebih dari 90% peserta meraih skor rata-rata di atas 80. Hal tersebut mengindikasikan efektivitas pelatihan yang diselenggarakan dalam meningkatkan kompetensi dan pengetahuan para peserta, khususnya terkait pengelolaan limbah warna kain menggunakan teknologi degradator fotokatalitik.Abstract: East Kalimantan Province is known not only for its natural wealth, but also for its diverse fine arts, such as Batik Shaho from Balikpapan which is a local cultural identity. Based on the results of observations by the community service team, in recent years, Batik Shaho producers have switched from natural to synthetic dyes such as remasol and naphtol for efficiency, even though these materials are genotoxic, carcinogenic, and classified as B3 waste. The purpose of this community service is to carry the concept of sustainable assistance by providing new understanding and skills for Batik Shaho partners in using a photocatalytic degrader for batik fabric dye waste. This assistance focuses on training and socialization of the use of a batik fabric dye degrader which is expected to help craftsmen in handling dye waste. Considering that the efficiency of waste handling in partner areas is still limited, the ITK community service team proposed the dissemination of decolorizer technology. This tool is equipped with a real-time degradation sensor, high-performance TiO₂ active material, and UV lamps to support the dye waste decolorization process. This system is designed to be integrated and is expected to have a significant impact on dye waste management. This initiative is part of a real effort to realize the Environmental Care Movement through the application of environmentally friendly and sustainable technology. The indicator of the success of this activity is proven through the collection of data from 25 training participant respondents. Based on the results of the questionnaire evaluation, more than 90% of participants achieved an average score above 80. This indicates the effectiveness of the training held in improving the competence and knowledge of participants, especially related to the management of fabric color waste using photocatalytic technology.