Hanafi Hanafi
Magister UIN Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Genealogi Kajian Hadis Ulama al-Banjari Hanafi Hanafi
Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017): Millati
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.784 KB) | DOI: 10.18326/mlt.v2i2.169-194

Abstract

Since the 16th century, Middle East became a scientific destination for the scholars of Nusantara. The network of Middle Eastern scholars has contributed greatly to the development of various Islamic intellectual traditions in the archipelago, even the case happened in Banjar society. In the process of transmitting scholars, the scholars of al-Banjari (scholars from Banjar, South Kalimantan) are heavily influenced by Islamic ideas derived therein, including kalam, jurisprudence, tasawwuf, and hadith studies. This article will prove to what extend the influence of Middle Eastern scholars on the development of intellectual traditions of al-Banjari scholars in the study of hadith is. The research method in this paper is by reading the primary sources, in the form of Hadith texts by al-Banjari scholars, and then the genealogy of the sanad and their Hadith diplomas connected with the scholars of hadith study in the Middle East. The reading of the sanad and the certificate will prove that their scholarship is connected to authoritative scholars of hadith. Al-Banjari scholars who became the research object is a scholar from the tribe of Banjar which has a script in the field of hadith or hadith study using Arabic or Malay Arabic. From the standardization used, seven scholars became the object of the research, namely Muhammad Arsyad al-Banjari, Muhammad Kasyful Anwar, Muhammad Anang Sya’rani Arif, Abdul Wahid, Muhammad Syukeri Unus, Fahmi Zamzam, and Muhammad Nurdin Marbu.
ETIKA BAHASA KATO NAN AMPEK DALAM ADAT MINANGKABAU Izzi Fikri; Hanafi Hanafi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 01 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i01.33025

Abstract

Kato Nan Ampek merupakan aturan atau kaidah berbahasa dalam minangkabau, artinya tata Bahasa atau etika berbicara dalam adat Minangkabau berpedoman pada kato nan ampek. Dalam kato nan ampek diajarkan bagaimana seharusnya kita berbicara kepada orang yang lebih besar dari kita, orang yang lebih kecil, orang yang sama besar bahkan berbicara dengan orang yang kita segani. Permasalahan yang dibahas penulis dalam skripsi ini adalah bagaimana aturan seseorang Ketika berkomunikasi dengan lawan bicaranya, bagiamana komukasi itu tidak membuat lawan bicara kita tersinggung dan sakit hati. Adat Minangkabau berlandaskan pada ajaran agama Islam yang tertuang dalam istilah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang intinya dalam hal ini adat Minangkabau tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Penelitian ini mengulas tentang bagaimana etika bahasa dalam adat minangkabau yang ada dalam tatanan kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research), adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana etika berbahasa atau berbicara yang benar dengan menggunakan kato nan ampek dalam kehidupan, serta memahami nilai-nilai dari etika kato nan ampek, seperti nilai-nilai sopan santun ketika berkomunikasi.  
Falsafah Haji Ali Syari'ati Ahmad Aji Kosasih; Hanafi Hanafi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.32973

Abstract

Abstrak: Penelitian ini hendak menghadirkan bagaimana pandangan falsafah haji Ali Syari’ati. Meskipun Ali Syari’ati lazim dikenal sebagai seorang sosiolog dan teolog pembebasan, tapi bukan berarti pemikirannya hanya berkutat pada sosiologi dan teologi saja. Dalam Haji, buku yang merupakan hasil renungannya atas pengalaman personalnya menjalankan haji sebanyak tiga kali dan kunjungannya ke Mekah sekali, Ali Syari’ati menuangkan penafsirannya mengenai haji. Penafsirannya itu memuat dimensi yang bersifat filosofis yang menjadikannya sebuah penafsiran filosofis atas haji. Dalam skripsi ini, penulis hendak menghadirkan penafsiran haji Ali Syari’ati yang bersifat filosofis itu. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penafsiran haji Ali Syari’ati memuat dimensi filosofis di dalamnya. Elemen-elemen dalam haji ditafsirkannya dengan penafsiran yang filosofis. Kemudian, penafsiran haji Ali Syari’ati juga memiliki signifikansi praktis di dalamnya yang merupakan implikasi dari core dalam penafsirannya itu. Ini membuat penafsiran haji Ali Syari’ati tidak hanya bernuansa filosofis dalam artian teoritis, tapi juga politis dan humanis dalam artian praktis. Penafsirannya ini dapat menjelaskan kepada kita mengapa haji merupakan rukun Islam yang wajib dijalankan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Syari’ati sendiri dalam Haji. Abstract: This research aims to present the views of Ali Shari'ati's philosophy of Hajj. Even though Ali Shari'ati is commonly known as a sociologist and liberation theologian, this does not mean that his thinking only focuses on sociology and theology. In Hajj, a book which is the result of his reflection on his personal experience of performing the Hajj three times and his visit to Mecca once, Ali Shari'ati expresses his interpretation of the Hajj. This interpretation contains a philosophical dimension which makes it a philosophical interpretation of the Hajj. In this thesis, the author wants to present a philosophical interpretation of Ali Shari'ati's Hajj. The result of this research is that Ali Shari'ati's interpretation of Hajj contains a philosophical dimension in it. He interpreted the elements of the Hajj with a philosophical interpretation. Then, Ali Shari'ati's interpretation of the Hajj also has practical significance in it which is the core implication of his interpretation. This makes Ali Shari'ati's interpretation of Hajj not only philosophical in a theoretical sense, but also political and humanist in a practical sense. This interpretation can explain to us why the Hajj is a pillar of Islam that must be carried out, as Ali Shari'ati himself said in the Hajj.