This Author published in this journals
All Journal GIZI INDONESIA
Gorstein, J, Gorstein,
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE RESPONSE OF BITOT’S SPOT COMMUNITY VITAMIN A DEFICIENCY CONTROL PROGRAMMES IN NEPAL AMONG CHILDREN AGED 6-120 MONTHS R.L., Tilden,; G.P, Pokhrel,; J, Gorstein,; R.P, Pokhrel,; Sommer, A, West, K.,
GIZI INDONESIA Vol 27, No 2 (2004): September 2004
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v27i2.3

Abstract

Tujuan dari studi adalah untuk mereview karakteristik dan faktor risiko untuk kasus Bitot’s spotyang tidak memberikan respon terhadap terapi yang dilakukan pada saat diagnosis dan juga padasaat pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi yang dilakukan enam bulan sekali. Faktor risiko inidibandingkan juga dengan kasus bitot’s spot yang sebelumnya diidentifikasi di tempat pelayanankesehatan. Anak-anak yang terdaftar pada Nepal Vitamin A Child Survival Projectdiperiksa setiaptahun. Analisis dilakukan dengan membandingkan anak-anak dengan bitot’s spot pada saat datadasar yang selanjutnya dipisahkan antara yang memberikan respon dan yang tidak memberikanrespon terhadap terapi yang dilakukan, serta memperhatikan karakteristik menurut individu,rumahtangga, dan masyarakat. Analisis dilakukan dengan dua cara bivariate (chi square and ttest)dan multivariate (stepwise logistic regression). Dijumpai 62% anak dengan bitot’s spot padasaat data dasar yang diperiksa 12 bulan setelah mendapat terapi kapsul vitamin A dan juga yangmendapat kapsul vitamin A dua kali setahun. Ditemukan faktor yang berpengaruh pada kasusbitot’s spot yang tidak memberikan respon terhadap terapi vitamin A mempunyai karateristik padaumumnya laki-laki, kurus, tidak mendapat kapsul vitamin A yang didistribusi di tingkat masyarakat,dan bagian mata yang terkena bitot’s spot (tempotal and nasal quadrant vs temporal alone). Untukkarakteristik tingkat masyarakat, kasus bitot’s spot yang tidak memberi respon terhadap terapikapsul vitamin A pada umumnya kasus yang tidak tinggal dalam lokasi studi, tinggal di wilayahdataran rendah, dan terutama di Kabupaten Parsa. Faktor risiko yang paling berpengaruhbervariasi berdasarkan tempat tinggal dan umur. Untuk anak yang tinggal di daerah pegunungan,kurang gizi (menurut BB/U) merupakan faktor risiko yang cukup signifikan. Untuk anak yangtinggal di dataran rendah, faktor risiko yang berpengaruh adalah cara intervensi, lokasi bitot’s spot,jenis kelamin, lingkar lengan atas, dan mendapat kapsul sedikitnya dua kali. Untuk anak kurangdari 60 bulan faktor risiko yang terpenting adalah lokasi bitot’s spot di mata, sedangkan untukanak 60-120 bulan faktor risiko yang terpenting adalah tidak mendapat kapsul di lokasi studi, jeniskelamin, umur, ketebalan kulit, lingkar lengan atas, tinggi badan, berat badan menurut tinggibadan dan menerima kapsul kurang dari dua kali. Studi ini juga membenarkan faktor risikoberkaitan dengan kasus bitot’s spot yang tidak memberikan respon terhadap terapi kapsul vitaminA di pelayanan kesehatan di Indonesia terjadi juga pada pelayanan yang dilakukan langsung kemasyarakat. Studi yang dilakukan di tempat pelayanan kesehatan di Indonesia menunjukkan 25%dari anak penderita bitot’s spot tidak memberikan respon terhadap terapi yang diberikan.Sedangkan di Nepal, dari studi ini menunjukkan lebih dari 35% kasus bitot’s spot tidakmemberikan respon terhadap terapi yang diberikan melalui disitribusi kapsul vitamin A dimasyarakat. Studi ini tidak menunjukkan bahwa umur merupakan faktor yang berpengaruh untuktidak memberikan respon, yang ditunjukkan adalah untuk kelompok umur tertentu faktor risikonyayang berbeda, dimana anak yang lebih muda lokasi bitot’s spot pada mata menentukan akanmemberikan respon atau tidak terhadap terapi yang diberikan, sedangkan untuk anak yang lebihtua faktornya adalah status gizi dan juga dosis vitamin A.Key Words:Non-responsive Bitot’s spots, vitamin A deficiency, community intervention, Nepal,vitamin A supplementation
THE RESPONSE OF BITOT’S SPOT COMMUNITY VITAMIN A DEFICIENCY CONTROL PROGRAMMES IN NEPAL AMONG CHILDREN AGED 6-120 MONTHS R.L., Tilden,; G.P, Pokhrel,; J, Gorstein,; R.P, Pokhrel,; Sommer, A, West, K.,
GIZI INDONESIA Vol 27, No 2 (2004): September 2004
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.554 KB)

Abstract

Tujuan dari studi adalah untuk mereview karakteristik dan faktor risiko untuk kasus Bitot’s spotyang tidak memberikan respon terhadap terapi yang dilakukan pada saat diagnosis dan juga padasaat pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi yang dilakukan enam bulan sekali. Faktor risiko inidibandingkan juga dengan kasus bitot’s spot yang sebelumnya diidentifikasi di tempat pelayanankesehatan. Anak-anak yang terdaftar pada Nepal Vitamin A Child Survival Projectdiperiksa setiaptahun. Analisis dilakukan dengan membandingkan anak-anak dengan bitot’s spot pada saat datadasar yang selanjutnya dipisahkan antara yang memberikan respon dan yang tidak memberikanrespon terhadap terapi yang dilakukan, serta memperhatikan karakteristik menurut individu,rumahtangga, dan masyarakat. Analisis dilakukan dengan dua cara bivariate (chi square and ttest)dan multivariate (stepwise logistic regression). Dijumpai 62% anak dengan bitot’s spot padasaat data dasar yang diperiksa 12 bulan setelah mendapat terapi kapsul vitamin A dan juga yangmendapat kapsul vitamin A dua kali setahun. Ditemukan faktor yang berpengaruh pada kasusbitot’s spot yang tidak memberikan respon terhadap terapi vitamin A mempunyai karateristik padaumumnya laki-laki, kurus, tidak mendapat kapsul vitamin A yang didistribusi di tingkat masyarakat,dan bagian mata yang terkena bitot’s spot (tempotal and nasal quadrant vs temporal alone). Untukkarakteristik tingkat masyarakat, kasus bitot’s spot yang tidak memberi respon terhadap terapikapsul vitamin A pada umumnya kasus yang tidak tinggal dalam lokasi studi, tinggal di wilayahdataran rendah, dan terutama di Kabupaten Parsa. Faktor risiko yang paling berpengaruhbervariasi berdasarkan tempat tinggal dan umur. Untuk anak yang tinggal di daerah pegunungan,kurang gizi (menurut BB/U) merupakan faktor risiko yang cukup signifikan. Untuk anak yangtinggal di dataran rendah, faktor risiko yang berpengaruh adalah cara intervensi, lokasi bitot’s spot,jenis kelamin, lingkar lengan atas, dan mendapat kapsul sedikitnya dua kali. Untuk anak kurangdari 60 bulan faktor risiko yang terpenting adalah lokasi bitot’s spot di mata, sedangkan untukanak 60-120 bulan faktor risiko yang terpenting adalah tidak mendapat kapsul di lokasi studi, jeniskelamin, umur, ketebalan kulit, lingkar lengan atas, tinggi badan, berat badan menurut tinggibadan dan menerima kapsul kurang dari dua kali. Studi ini juga membenarkan faktor risikoberkaitan dengan kasus bitot’s spot yang tidak memberikan respon terhadap terapi kapsul vitaminA di pelayanan kesehatan di Indonesia terjadi juga pada pelayanan yang dilakukan langsung kemasyarakat. Studi yang dilakukan di tempat pelayanan kesehatan di Indonesia menunjukkan 25%dari anak penderita bitot’s spot tidak memberikan respon terhadap terapi yang diberikan.Sedangkan di Nepal, dari studi ini menunjukkan lebih dari 35% kasus bitot’s spot tidakmemberikan respon terhadap terapi yang diberikan melalui disitribusi kapsul vitamin A dimasyarakat. Studi ini tidak menunjukkan bahwa umur merupakan faktor yang berpengaruh untuktidak memberikan respon, yang ditunjukkan adalah untuk kelompok umur tertentu faktor risikonyayang berbeda, dimana anak yang lebih muda lokasi bitot’s spot pada mata menentukan akanmemberikan respon atau tidak terhadap terapi yang diberikan, sedangkan untuk anak yang lebihtua faktornya adalah status gizi dan juga dosis vitamin A.Key Words:Non-responsive Bitot’s spots, vitamin A deficiency, community intervention, Nepal,vitamin A supplementation