Muhamad Djazim Syaifullah, Muhamad Djazim
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENERAPAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC) UNTUK MENGATASI KABUT ASAP AKIBAT KEBAKARAN LAHAN DAN HUTAN DI PROVINSI JAMBI SEPTEMBER-OKTOBER 2012 Syaifullah, Muhamad Djazim
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 13, No 2 (2012): December 2012
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5728.594 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v13i2.2572

Abstract

Pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengatasi bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Jambi telah dilakukan pada tanggal 07 September sampai dengan 06 Oktober 2012.
PENERAPAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC) UNTUK MENGATASI DEFISIT INFLOW PLTA BAKARU PERIODE 15 FEBRUARI SD. 03 MARET 2012 Syaifullah, Muhamad Djazim
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 13, No 1 (2012): June 2012
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9540.623 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v13i1.2207

Abstract

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah dilakukan di DAS Mamasa Sulawesi Barat untuk mengatasi defisit inflow PLTA Bakaru. Selama pelaksanaan kegiatan ini, kondisi perawanan di DAS Mamasa menunjukan adanya fluktuasi peluang keberadaan awan-awan potensial. Potensi awan secara umum cukup baik sejak awal sampaiakhir kegiatan. Pada awal kegiatan, pertumbuhan awan relatif terjadi pada siang dan sore hari terutama terjadi di wilayah Mamasa dan Sumarorong, sementara di akhir kegiatan kondisi cuaca terjadi dengan pertumbuhan awan yang cukup cepat dan lebih banyak ditemukan awan potensial. Hasil evaluasi menunjukkan jumlah inflow selama kegiatan ini adalah sebesar 100,60 juta m3 dan rata-rata inflow sebesar 64,68 m3/detik, dengan tambahan inflow hasil TMC sebesar 16.77 juta m3. Secara umum pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca di DAS Mamasa telah berhasil meningkatkan inflow secara signifikan.Weather modification technology have been conducted in the Mamasa watershed West Sulawesi to address the deficit inflow at Bakaru Hydroelectric power plant. During the implementation of these activities the cloudiness condition in the Mamasa watershed indicated the presence of fluctuations opportunities the existence of potential clouds. In general the potential clouds is quite good enough from the beginning to the end of the activity. In early activity, cloud growth relatively happening at noon and afternoon especially was in the mamasa and sumarorong, while in the end the weather conditionsoccurring with cloud growth fast enough and more found clouds potential. Indicating the number of inflow during the evaluation of this event is worth 100,60 million cubic meter with an average inflow of 64,68 m3/second in addition to inflow 16.77 million cubic meter. In general the implementation of Weather Modification Technology in in the Mamasa watershed has had suceeded in increasing inflow  ignificantly.
PEMANFAATAN DATA SATELIT GMS MULTI KANAL UNTUK KEGIATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA Syaifullah, Muhamad Djazim; Nuryanto, Satyo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 2 (2016): December 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.446 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v17i2.525

Abstract

IntisariTulisan ini menyajikan pemanfaatan data satelit GMS (Geostationary Meteorological Satellites) multi kanal untuk informasi perawanan dalam rangka mendukung kegiatan teknologi modifikasi cuaca. Pemanfaatan data satelit meliputi proses pengunduhan data, proses kalibrasi dan visualisasi citra satelit sehingga dapat diinterpretasi. Pemrosesan data satelit juga meliputi jenis dan tipe awan serta ukuran butir awan. Dengan diketahuinya tipe dan jenis awan maka pemilihan target awan dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dapat lebih efektif. Data Satelit GMS yang berupa data PGM untuk berbagai kanal telah dimanfaatkan untuk analisis cuaca dan mendukung pelaksanaan kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Dari analisis beberapa kanal Infra Merah (IR) dapat diperoleh tipe/jenis awan dan ukuran butiran awan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan Teknologi Modifikasi Cuaca. Diperlukan pengelolaan data yang lebih intensif baik manajemen data maupun kontinuitas pengunduhan data untuk menjamin kelancaran analisis. Selain itu juga diperlukan validasi lapangan misalnya dengan data radar analisis menjadi semakin akurat.  AbstractThis paper presents the utilization of GMS (Geostationary Meteorological Satellites) multichannel satellite data for cloud cover information in order to support the activities of weather modification technology or cloud seeding. These utilizations covering the process of data downloading, process calibration and visualization of satellite imagery so that it can be interpreted. Processing of satellite data also includes the type of cloud as well as cloud grain size. By knowing the type of cloud, the cloud target selection in the execution of Weather Modification Technology can be more effective. From the analysis of several Infrared (IR) channels can be obtained type/kind of cloud and grain size of the clouds that are beneficial to the interests of cloud seeding. It is required a more intensive data management and continuity of data download. It is also necessary field validation for example with radar data. The purpose of data management was the data processing became more efficient. 
PENERAPAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC) UNTUK MENGATASI KABUT ASAP AKIBAT KEBAKARAN LAHAN DAN HUTAN DI PROVINSI JAMBI SEPTEMBER-OKTOBER 2012 Syaifullah, Muhamad Djazim
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 13, No 2 (2012): December 2012
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5728.594 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v13i2.2572

Abstract

Pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengatasi bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Jambi telah dilakukan pada tanggal 07 September sampai dengan 06 Oktober 2012.
PEMANFAATAN DATA SATELIT GMS MULTI KANAL UNTUK KEGIATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA Syaifullah, Muhamad Djazim; Nuryanto, Satyo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 2 (2016): December 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.446 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v17i2.525

Abstract

IntisariTulisan ini menyajikan pemanfaatan data satelit GMS (Geostationary Meteorological Satellites) multi kanal untuk informasi perawanan dalam rangka mendukung kegiatan teknologi modifikasi cuaca. Pemanfaatan data satelit meliputi proses pengunduhan data, proses kalibrasi dan visualisasi citra satelit sehingga dapat diinterpretasi. Pemrosesan data satelit juga meliputi jenis dan tipe awan serta ukuran butir awan. Dengan diketahuinya tipe dan jenis awan maka pemilihan target awan dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dapat lebih efektif. Data Satelit GMS yang berupa data PGM untuk berbagai kanal telah dimanfaatkan untuk analisis cuaca dan mendukung pelaksanaan kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Dari analisis beberapa kanal Infra Merah (IR) dapat diperoleh tipe/jenis awan dan ukuran butiran awan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan Teknologi Modifikasi Cuaca. Diperlukan pengelolaan data yang lebih intensif baik manajemen data maupun kontinuitas pengunduhan data untuk menjamin kelancaran analisis. Selain itu juga diperlukan validasi lapangan misalnya dengan data radar analisis menjadi semakin akurat.  AbstractThis paper presents the utilization of GMS (Geostationary Meteorological Satellites) multichannel satellite data for cloud cover information in order to support the activities of weather modification technology or cloud seeding. These utilizations covering the process of data downloading, process calibration and visualization of satellite imagery so that it can be interpreted. Processing of satellite data also includes the type of cloud as well as cloud grain size. By knowing the type of cloud, the cloud target selection in the execution of Weather Modification Technology can be more effective. From the analysis of several Infrared (IR) channels can be obtained type/kind of cloud and grain size of the clouds that are beneficial to the interests of cloud seeding. It is required a more intensive data management and continuity of data download. It is also necessary field validation for example with radar data. The purpose of data management was the data processing became more efficient. 
PENERAPAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC) UNTUK MENGATASI DEFISIT INFLOW PLTA BAKARU PERIODE 15 FEBRUARI SD. 03 MARET 2012 Syaifullah, Muhamad Djazim
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 13, No 1 (2012): June 2012
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9540.623 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v13i1.2207

Abstract

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah dilakukan di DAS Mamasa Sulawesi Barat untuk mengatasi defisit inflow PLTA Bakaru. Selama pelaksanaan kegiatan ini, kondisi perawanan di DAS Mamasa menunjukan adanya fluktuasi peluang keberadaan awan-awan potensial. Potensi awan secara umum cukup baik sejak awal sampaiakhir kegiatan. Pada awal kegiatan, pertumbuhan awan relatif terjadi pada siang dan sore hari terutama terjadi di wilayah Mamasa dan Sumarorong, sementara di akhir kegiatan kondisi cuaca terjadi dengan pertumbuhan awan yang cukup cepat dan lebih banyak ditemukan awan potensial. Hasil evaluasi menunjukkan jumlah inflow selama kegiatan ini adalah sebesar 100,60 juta m3 dan rata-rata inflow sebesar 64,68 m3/detik, dengan tambahan inflow hasil TMC sebesar 16.77 juta m3. Secara umum pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca di DAS Mamasa telah berhasil meningkatkan inflow secara signifikan.Weather modification technology have been conducted in the Mamasa watershed West Sulawesi to address the deficit inflow at Bakaru Hydroelectric power plant. During the implementation of these activities the cloudiness condition in the Mamasa watershed indicated the presence of fluctuations opportunities the existence of potential clouds. In general the potential clouds is quite good enough from the beginning to the end of the activity. In early activity, cloud growth relatively happening at noon and afternoon especially was in the mamasa and sumarorong, while in the end the weather conditionsoccurring with cloud growth fast enough and more found clouds potential. Indicating the number of inflow during the evaluation of this event is worth 100,60 million cubic meter with an average inflow of 64,68 m3/second in addition to inflow 16.77 million cubic meter. In general the implementation of Weather Modification Technology in in the Mamasa watershed has had suceeded in increasing inflow  ignificantly.
KAJIAN BANJIR BANDANG MASAMBA JULI 2020, TINJAUAN METEOROLOGIS Syaifullah, Muhamad Djazim
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol. 21 No. 2 (2020): December 2020
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v21i2.4226

Abstract

Banjir bandang dan tanah longsor telah melanda kawasan Masamba, Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan, pada Senin 13 Juli 2010. Sedikitnya puluhan warga meninggal dunia dan ratusan orang luka serta belasan ribu orang mengungsi dan kehilangan harta benda. Data satelit menunjukkan adanya titik-titik longsor yang cukup banyak di wilayah hulu Sungai Sabbang, Sungai Radda, dan Sungai Masamba. Pemerintah menyebutkan bahwa bencana banjir bandang dan tanah longsor di Masamba adalah akibat curah hujan yang tinggi yang dipicu oleh adanya pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb). Analisis lebih detail menunjukkan bahwa beberapa hari sebelumnya daerah Sulawesi Selatan bagian tengah (termasuk juga wilayah Masamba dan sekitarnya) hampir selalu tertutupi oleh tutupan awan jenis Cumulus Congestus. Namun demikian dari analisis TRMM, wilayah Masamba bukan merupakan pusat curah hujan tertinggi. Curah hujan tertinggi berada di wilayah pantai timur Sulawesi Tengah. Adanya kejadiah hujan selama beberapa hari dan struktur tanah yang tidak mendukung memungkinkan permukaan tanah menjadi cepat jenuh, sehingga diduga menyebabkan terjadinya tanah longsor.