Pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan bagaimana gaya hidup termasuk pola makan, danĀ aktivitas sehari-hari yang tentunya tak lepas dari peran orang tua untuk selalu mengawasi dan memperhatikan anak-anaknya. Hal ini harusnya sudah menjadi kesadaran sendiri untuk para orang tua. Namun mayoritas orang tua justru senang jika anaknya makan berlebih sehingga berpotensi untuk obesitas. Tanpa disadari, ini sangat berdampak bagi kesehatan sang anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh D Koren dkk.(Koren et al., 2015) Menyatakan adanya peningkatan obesitas pada anak-anak 16,9% disertai komorbiditas. Dari obesitas inilah juga bisa timbul penyakit lain, salah satunya yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang belum terdiagnosis banyak ataupun belum diketahui banyak oleh masyarakat Indonesia. Meskipun dikatakan penanganan dengan penurunan berat badan akan mengurangi risiko progresifitas dari komorbiditasnya, namun pada usia anak-anak sulit untuk diatur mengenai makanan yang dikonsumsi. Hal ini harus menjadi perhatian, khususnya orang tua agar bisa menurunkan angka obesitas pada anak untuk mengurangi risiko penyakit OSA dan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan OSA. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi analitik cross-sectional dengan jumlah sampel 158 responden. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna yaitu IMT obesitas dengan kejadian OSA dan hubungan yang tidak bermakna yaitu IMT underweight dengan kejadian OSA. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian OSA diantaranya yaitu usia, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan, lingkar leher dan IMT Dari beberapa faktor tersebut dapat disimpulkan pada usia anak-anak lebih rentan dengan prevalensi terbanyak pada laki-laki dan semakin tinggi IMT seseorang dan semakin lebar lingkar lehernya semakin tinggi risiko terhadap kejadian OSA.