Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERAN KEPEMIMPINAN DAN KEBIJAKAN DISIPLIN DALAM MEMPENGARUHI KINERJA PERAWAT DI RSPAD GATOT SOEBROTO DITKESAD JAKARTA Rusman, Asep
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.854 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v13i1.35

Abstract

Salah satu penentu kinerja Rumah Sakit dalam pelayanan keperawatan yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah kinerja sumber daya manusia, dalam hal ini kinerja perawat dengan jumlah terbanyak berkisar 50-60% dibanding tenaga kesehatan lainnya dan merupakan modal sumber daya manusia yang menyusun inti dari hampir seluruh pelaksanaan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien. Kinerja perawat yang buruk akan berdampak terhadap menurunnya citra pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh dari sumber daya manusia, kepemimpinan, kebijakan disiplin, beban kerja dan motivasi terhadap kinerja perawat pelaksana.  Telah dilakukan penelitian analitik dengan desain cross sectional terhadap 70 orang perawat pelaksana di ruang rawat inap RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad. Pada periode Oktober-Nopember 2014. Dengan menggunakan alat bantu  kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis multi variat menggunakan regresi linear berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, persamaan regresi yang dirumuskan memperlihatkan model yang cocok dengan data empiris (nilai F 7,724, p-value 0,000).  Dari kelima faktor yang diteliti hanya kepemimpinan (p-value 0,043, R = 0,976) dan kebijakan disiplin (p-value 0,049, R = 0,775 ), yang secara signifikan memengaruhi kinerja perawatHasil penelitian tersebut sesuai dengan keadaan RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad yang merupakan Rumah Sakit TNI AD di dalam pengelolaan manejemen RS diwarnai dengan sistem militerisme atau sistem komando dan dengan penekanan kepemimpinan dan penetapan disiplin yang berbeda antara rumah sakit lain. Kata kunci:           Kepemimpinan, Kebijakan Disiplin, Kinerja.
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS PERUMNAS II KAYURINGIN JAYA Hikmah, Mayang Paiqohtu; Rusman, Asep
Jurnal Medika Malahayati Vol 7, No 4 (2023): Volume 7 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v7i4.10698

Abstract

Abstrak: Gambaran pengetahuan ibu tentang pertolongan pertama ISPA pada balita di Puskesmas Perumnas II Kayuringin Jaya. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah salah satu penyakit saluran pernapasan pada manusia. ISPA merupakan penyakit yang banyak dijumpai pada balita dan anak anak maka dari itu ibu harus mengetahui bagaimana cara pertolongan pertama ISPA pada balita. Dari data yang ada masih banyak kejadian ISPA dalam setahun terakhir di Puskemas Perumnas II Kayuringin Jaya yaitu sebanyak 1.512 kasus. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang pertolongan pertama ISPA pada balita berdasarkan usia, pekerjaan dan pendidikan di Puskesmas Perumnas II Kayuringin Jaya. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif observasi, populasi dalam penelitian ini yaitu ibu yang memiliki balita 1-5 tahun yang datang berkunjung ke Puskesmas Perumnas II Kayuringin Jaya pada bulan Mei - Juni 2023 dengan sampel sebanyak 48 dan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil yang di dapat yaitu ibu dengan pengetahuan baik sebanyak 26 responden (54,2%), ibu dengan pengetahuan cukup sebanyak 12 responden (25,0%) dan ibu dengan pengetahuan kurang sebanyak 10 responden (20,8%). Mayoritas ibu dengan pengetahuan baik berdasarkan usia berusia 26-30 tahun sebanyak 13 responden (27,1%), berdasarkan pekerjaan dengan pekerjaan ibu sebagai IRT sebanyak 8 responden (16,7%) dan PNS sebanyak 7 responden (14,6%), dan berdasarkan pendidikan dengan ibu berpendidikan SMA sebanyak 17 responden (35,4%), dan ibu berpendidikan PT sebanyak 7 responden (14,6%). Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan usia, pekerjaan dan pendidikan yang dijalanin ibu sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan ibu. Bagi responden diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana cara pertolongan pertama ISPA pada balita 
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN PERAWATAN LUKA TERHADAP KEMAMPUAN SISWA – SISWI KELAS 1 SMP PATRIOT BEKASI PADA PERTOLONGAN PERTAMA LUKA Rismayati, Ayu; Rusman, Asep
Jurnal Medika Malahayati Vol 8, No 1 (2024): Volume 8 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v8i1.10697

Abstract

Abstrak: Pengaruh Pendidikan Kesehatan Perawatan Luka Terhadap Kemampuan Siswa – Siswi Kelas 1 Smp Patriot Bekasi Pada Pertolongan Pertama Luka. Kecelakaan di Indonesia oleh World Health Organisation (WHO) dinilai menjadi pembunuh terbesar ketiga setelah penyakit jantung koroner dan tuberculosis (TBC). Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan yang lebih lanjut dari dokter atau tim medis lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan Perawatan Luka Terhadap Kemampuan Siswa – Siswi Kelas 1 Smp Patriot Bekasi Pada Pertolongan Pertama Luka. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain Pre Eksperimental Design dengan tehnik purposive sampling pre-test post-test control group desain. Jumlah responden dalam penelitian ini 28 responden. Dari hasil Analisis Bivariat menggunakan Shapiro-Wilk dengan nilai p 0,009 ( nilai P < 0,05 Lebih kecil dari alpha), atau Ho ditolak. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna  (significant) antara Pendidikan Kesehatan Perawatan Luka Terhadap Kemampuan Siswa – Siswi Kelas 1 Smp Patriot Bekasi Pada Pertolongan Pertama Luka. Dan penelitian ini perlu lebih meningkatkan dan mempertahankan pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama luka.
Studi Perbandingan Penggunaan Suction Catheter Nomor 12 dan 10 terhadap Saturasi Oksigen Pasien Pneumonia dengan Ventilasi Mekanik di Intensive Care Unit (ICU) di Tiga Rumah Sakit Jabodetabek Rusman, Asep; Pravista, Adhi; M, Leony Agista; Cholisah, Nurul
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i10.19638

Abstract

ABSTRAK Penggunaan ventilasi mekanik dapat menyebabkan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan napas dan salah satu tindakan perawatan untuk mengatasinya  adalah dengan penghisapan lendir (suction). Perawat seringkali menggunakan ukuran suction catheter nomer 10 dan 12 untuk melakukan tindakan suction pada pasien dewasa. Adanya perbedaan diameter  suction catheter, tentunya akan mempengaruhi kondisi klinis yang salah satunya adalah saturasi oksigen pasien. Tujuan penelitian mengetahui  perbandingan penggunaan suction catheter Nomor 12 dan 10 terhadap saturasi oksigen pasien pneumonia dengan ventilasi mekanik di Intensive Care Unit (ICU) pada Rumah sakit di Jabodetabek. Desain penelitian ini menggunakan  quasi eksperimental dengan pra-pascates dalam dua kelompok (two-grup pra-post test design) dengan jumlah sampel 90 masing-masing tiap rumah sakit 30 sampel analisis bivariat menggunakan uji statistik non-parametrik Mann Whitney. Dari ketiga rumah sakit di dapatkan untuk Rumah Sakit SS Pada nilai mean rank untuk penggunaan suction catheter Nomor 12 adalah 19,63, sedangkan untuk penggunaan suction catheter Nomor 10 adalah 11,37. Rumah sakit CS Pada nilai mean rank untuk penggunaan suction catheter Nomor 12 adalah 20,13 sedangkan untuk penggunaan suction catheter Nomor 10 adalah 10,87. Rumah sakit C Pada nilai mean rank untuk penggunaan suction catheter Nomor 12 adalah 17,27, sedangkan untuk penggunaan suction catheter Nomor 10 adalah 13,73.  Hasil uji statistik didapatkan p-value = 0,006  pada RS SS, RS CS 0,03 dan RS C 0,047 ketiga Rumah sakit < 0,05 Ho di tolak, maka ada ada perbedaan signifikan antara kedua teknik tersebut antara penggunaan suction catheter Nomor 12 dan 10 dalam meningkatkan nilai saturasi oksigen di tiga rumah sakit Jabodetabek. Diharapkan perawat dalam pelaksanaan suctioning menggunakan suction catheter nomor 12 dan 10  secara terstruktur dan terencana melalui SPO rumah sakit. Kata Kunci: Suction Catheter, Saturasi Oksigen  ABSTRACT The use of mechanical ventilation can cause nursing problems of ineffective airway clearance and one of the treatment measures to overcome this is by suctioning mucus. Nurses often use suction catheter sizes number 10 and 12 to perform suction procedures on adult patients. The difference in suction catheter diameter will of course affect the clinical condition, one of which is the patient's oxygen saturation. The aim of the study was to determine the comparison of the use of suction catheters Numbers 12 and 10 on the oxygen saturation of pneumonia patients with mechanical ventilation in the Intensive Care Unit (ICU) at hospitals in Jabodetabek. Method: This research design uses a quasi-experimental with pre-post test in two groups (two-group pre-post test design) with a sample size of 90 for each hospital, 30 samples for bivariate analysis using the Mann Whitney non-parametric statistical test. Results: from the three hospitals, the mean rank value for the use of suction catheter Number 12 was 19.63, while for the use of suction catheter Number 10 it was 11.37. CS Hospital The mean rank value for use of suction catheter Number 12 is 20,13, while for use of suction catheter Number 10 is 10,87. Hospital C. The mean rank value for using suction catheter Number 12 is 17,27, while for using suction catheter Number 10 is 13,73. The statistical test results showed that p-value = 0.006 at SS Hospital, CS Hospital 0.03 and C Hospital 0.047, all three hospitals < 0.05 Ho was rejected, so there was a significant difference between the two techniques between the use of suction catheters Numbers 12 and 10 in increasing the oxygen saturation value in three Jabodetabek hospitals Discussion: It is hoped that nurses in carrying out suctioning use suction catheters number 12 and 10 in a structured and planned manner through the hospital's SOP.  Keywords: Suction Catheter, Oxygen Saturation
The Effect of Puzzle and Clock-Drawing Therapy on Cognitive Function in Ischemic Stroke Patients Zikri, Aaz Abi; Rusman, Asep
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54613

Abstract

Background: According to the World Stroke Organization (WSO), there are 13.7 million new stroke cases and around 5.5 million deaths due to stroke each year. Based on the results of the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of stroke in Indonesia is 8.7%. Meanwhile, in DKI Jakarta, the prevalence of stroke based on diagnosis among people aged ≥15 years is 13.5%. The most common type of stroke is ischemic stroke, with an increasing prevalence reaching 87% of all stroke cases. Stroke generally occurs in middle-aged and elderly populations. Stroke patients often experience cognitive impairment.Objective: To determine the effect of puzzle and clock-drawing therapy on improving cognitive function in patients with ischemic stroke. Research Method: A quasi-experimental study using a one-group pretest–posttest design. The population in this study consisted of all ischemic stroke patients treated at Jakarta Islamic Hospital Pondok Kopi, totaling 34 patients. Research Result: The results showed a significant improvement in cognitive function before and after the administration of puzzle therapy and clock-drawing therapy. The majority of participants initially had mild cognitive impairment (88.2%), and after the intervention, most participants showed no cognitive impairment (70.6%). Data analysis using the paired sample t-test revealed a p-value of 0.001 with α = 0.005, indicating that puzzle and clock-drawing therapy had a significant effect on improving cognitive function in ischemic stroke patients, with a significant difference in mean scores before and after the intervention. Conclusion: Puzzle and clock-drawing therapy have a positive effect on improving cognitive function in ischemic stroke patients. It is recommended that nurses assist ischemic stroke patients in maintaining memory by providing puzzle and clock-drawing therapy, which can help enhance cognitive function.