Gabriella Tara Yohanessa
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mengapa Ayub Berbeda? Mengkaji Pemberian Nahala Bagi Anak-Anak Perempuan Dalam Teks Ayub 42:15 (Sebuah Tinjauan Dengan Perspektif Feminis) Gabriella Tara Yohanessa
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i1.216

Abstract

Abstract: The world of the Old Testament was a patriarchal one with a number of rules that were detrimental to women, both in family and community life. One of the practices that made it difficult for women to get their rights fairly was the division of inheritance. This paper, from a feminist perspective, seeks to examine Job's action in distributing nahala (LAI: milik pusaka) to his three daughters. Job's decision was unusual, because ideally, daughters do not received nahala as long as there are sons who are legally considered more entitled to receive it. In order to obtain comprehensive data, the research was conducted qualitatively through a literature study to find out that Job's unusual action was motivated by the renewal of mind that God granted him during his suffering. Then, the research findings will also seek implications for the lives of believers today. Abstrak: Dunia Perjanjian Lama kental dengan nuansa patriarkat yang diikuti sejumlah aturan yang bersifat merugikan perempuan, baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Salah satu praktik hidup yang membuat perempuan sukar mendapatkan haknya secara adil ialah pembagian milik pusaka. Tulisan ini dengan perspektif feminis ingin mengkaji tindakan Ayub yang membagikan nahala (LAI: milik pusaka) bagi ketiga anak perempuannya. Keputusan Ayub menjadi tidak lazim, sebab idealnya anak perempuan tidak mendapat nahala selama masih ada anak laki-laki yang secara hukum dipandang lebih berhak untuk menerima itu. Demi memperoleh data yang komprehensif, penelitian dilakukan secara kualitatif melalui studi kepustakaan untuk mengetahui bahwa tindakan tidak lazim Ayub dilatarbelakangi oleh pembaruan pikiran yang dikaruniakan Allah kepadanya semasa penderitaan terjadi. Lalu, temuan penelitian juga akan dicari implikasinya bagi kehidupan orang percaya masa kini.
Dengarlah, maka Kamu akan Hidup! (Aktualisasi Shema Yisrael dalam Hidup Remaja Kristen di Indonesia) Gabriella Tara Yohanessa
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 6, No 2 (2023): 15 Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v6i2.458

Abstract

Saat ini, kita sering mendengar atau membaca berita mengenai tindak kriminal yang dilakukan kaum remaja. Perbuatan melanggar hukum sesungguhnya mengindikasikan dekadensi moral yang dipengaruhi banyak faktor: dampak negatif teknologi, pengaruh lingkungan sekitar, dsb. Berkenaan dengan ragam faktor tersebut, penulis berfokus pada peran penting orang tua yang idealnya diharapkan hadir selaku pihak yang mengayomi sekaligus mengerti karakteristik remaja. Orang tua dan keluarga perlu membangun koneksi yang baik dengan remaja seraya menunjukkan keteladanan, kasih, dukungan serta bimbingan dalam rumah tangga. Terkait kasus darurat moral pada kaum muda di Indonesia, penulis akan menyelidiki tradisi bangsa Israel dalam mendidik iman anak. Pendidikan tersebut ditanamkan konsisten dan diberikan sedini mungkin kepada anak (berimplikasi pada terkontrolnya perilaku moral dan spiritual). Bagian terpenting yang memuat dasar pendidikan iman anak dapat disimak dalam Ulangan 6:4-9 (shema Yisrael). Lewat penelitian kualitatif yang diikuti studi kepustakaan, tulisan ini menemukan bahwa kombinasi pendidikan iman lewat pendengaran yang diikuti tindakan mengingat (memorisasi) serta kesediaan melakukan firman pada akhirnya menolong remaja Kristen membentengi diri dari ragam tindak penyimpangan yang merugikan. Lewat hidup iman, moral, dan spiritual yang terus dipupuk dan ditumbuhkan, dekadensi moral remaja dicegah terjadi.