Abstract: The world of the Old Testament was a patriarchal one with a number of rules that were detrimental to women, both in family and community life. One of the practices that made it difficult for women to get their rights fairly was the division of inheritance. This paper, from a feminist perspective, seeks to examine Job's action in distributing nahala (LAI: milik pusaka) to his three daughters. Job's decision was unusual, because ideally, daughters do not received nahala as long as there are sons who are legally considered more entitled to receive it. In order to obtain comprehensive data, the research was conducted qualitatively through a literature study to find out that Job's unusual action was motivated by the renewal of mind that God granted him during his suffering. Then, the research findings will also seek implications for the lives of believers today. Abstrak: Dunia Perjanjian Lama kental dengan nuansa patriarkat yang diikuti sejumlah aturan yang bersifat merugikan perempuan, baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Salah satu praktik hidup yang membuat perempuan sukar mendapatkan haknya secara adil ialah pembagian milik pusaka. Tulisan ini dengan perspektif feminis ingin mengkaji tindakan Ayub yang membagikan nahala (LAI: milik pusaka) bagi ketiga anak perempuannya. Keputusan Ayub menjadi tidak lazim, sebab idealnya anak perempuan tidak mendapat nahala selama masih ada anak laki-laki yang secara hukum dipandang lebih berhak untuk menerima itu. Demi memperoleh data yang komprehensif, penelitian dilakukan secara kualitatif melalui studi kepustakaan untuk mengetahui bahwa tindakan tidak lazim Ayub dilatarbelakangi oleh pembaruan pikiran yang dikaruniakan Allah kepadanya semasa penderitaan terjadi. Lalu, temuan penelitian juga akan dicari implikasinya bagi kehidupan orang percaya masa kini.