Indri Heri Susanti Susanti
Universitas Harapan Bangsa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ASUHAN KEPERAWATAN PENURUNAN KAPASITAS ADAPTIF INTRACRANIAL PADA NY. T DENGAN DIAGNOSA MEDIS TUMOR OTAK DI INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUD PROF DR. MARGONO SOEKARJO Wulan Wulan Sari; Indri Heri Susanti Susanti
Journal of Nursing and Health Vol. 8 No. 3 (2023): Journal of Nursing and Health
Publisher : Yakpermas Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52488/jnh.v8i3.278

Abstract

Pendahuluan: Tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada kongenital yang menempati ruang dalam tengkorak. Tumor-tumor selalu bertumbuh sebagai sebuah massa yang berbentuk bola tetapi juga dapat tumbuh menyebar, masuk ke dalam jaringan neoplasma terjadi akibat dari komppresi dan infiltrasi jaringan. Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang ada disekitarnya, mengakibatkan gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan intracranial). Tujuan : Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan Pada Ny.T Dengan diagnosa medis Tumor Otak Di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan populasi pasien sejumlah 1 responden. Metode : Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan asuhan keperawatan yang mencakup pengkajian, penentuan diagnosa, penentuan intervensi keperawatan, implementasi hingga evaluasi. Hasil : Setelah dilakukan pengkajian terhadap Ny. T didapatkan bahwa penurunan kapasitas adaptif intracranial merupakan salah satu masalah prioritas yang sering terjadi pada pasien dengan tumor otak. Implementasi keperawatan yang dilakukan adalah memonitor tanda – tanda vital meliputi tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu. Memposisikan tinggi kepala tempat tidur 30-45° dengan menghindari fleksi leher dan mempertahankan kepatenan jalan napas. Kesimpulan : Rekomendasi dari peneliti adalah perawat agar lebih memperhatikan hambatan yang mungkin bisa terjadi. Salah satunya dalam melakukan posisi elevasi kepala 30–45º, seharusnya lebih ditingkatkan dalam memonitor posisi pasien.