Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Confucian Historical Narratives and Misogynic Culture in South Korea Bernadine Grace Alvania Manek
Journal of Asian Social Science Research Vol. 5 No. 1 (2023): Journal of Asian Social Science Research
Publisher : Centre for Asian Social Science Research (CASSR), Faculty of Social and Political Sciences, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jassr.v5i1.73

Abstract

President Yoon Suk-yeol's campaign for the presidency embraces the anti-feminism movement that has further fueled the misogynistic culture in South Korea. South Korea is quite thick with patriarchy and misogyny because there is a lot of criticism of women, especially feminists. This article analyses the phenomenon of misogynistic culture in South Korea using document-based research and internet-based research techniques. It employs Foucault's discourse of power and the concept of misogyny to analyse the impact of history on misogynist culture in contemporary South Korea. The findings show that as Confucian teachings are the basis of state ideology in South Korea, Korean society believes in the chastity of women. In the Koran history, a negative connotation was given to women who are considered to have damaged the country’s ‘Joseon-ness’ and the standard of femininity in South Korean society. Given South Korea's high level of sexism and low level of female empowerment, the representation of males in dramas as caring and empathetic is unfortunately not representative of the real world. Sexist behaviour in South Korea is founded on Confucian ideology.
Strategi Pertahanan Udara Indonesia: Kasus Sengketa Laut Natuna Utara Bernadine Grace Alvania Manek
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i2.431

Abstract

Sengketa Laut Cina Selatan telah membawa dampak bagi Indonesia. Akibat dari sengketa tersebut, ZEE Indonesia di Laut Natuna Utara terancam karena meningkatkan agresivitas Cina. Upaya perundingan yang semakin memperkeruh hubungan Cina dan Indonesia menjadikan Indonesia harus waspada terhadap ancaman Cina. Dengan demikian Indonesia perlu untuk mempertahankan Laut Natuna Utara dari ancaman Cina. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penulis mengkaji fenomena sengketa Laut Cina Selatan yang kemudian menggunakan teknik document-based research dan internet-based research dalam memaparkan mengenai strategi yang dapat diterapkan oleh Indonesia khususnya pada pertahanan udara dalam menangkal operasi strategis dari Cina di Laut Natuna Utara. Dalam artikel ini penulis membahas mengenai perbandingan dari kekuatan militer Cina dan Indonesia khususnya pada kemampuan Angkatan Udara. Berdasarkan data yang didapatkan, Cina memiliki kekuatan militer yang lebih unggul dibandingkan dengan Indonesia sehingga menjadikan Indonesia perlu untuk memiliki strategi dalam menangkal operasi strategis Cina. Indonesia dapat menggunakan strategi A2/AD dengan level strategis militer yang mana Indonesia perlu dalam melakukan perencanaan, pengaturan dan pengadaan sehingga mampu untuk menangkal operasi strategis Cina.