ABSTRAKKesepakatan Sanitari dan Fitosanitari (SPS) erat kaitannya dengan aspek kesehatan dan perdagangan internasional. Aspek kesehatan dari kesepakatan SPS berarti setiap Negara anggota WTO dapat melindungi kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan dengan menerapkan ketentuan-ketentuan untuk mengelola risiko yang berkaitan dengan impor. Saat ini tren dari perdagangan dunia sudah mengarah menuju hambatan non-tarif, oleh karena itu karantina menjadi bagian yang penting dalam mengontrol importasi perdagangan dunia. Tujuan dari penulisan ini menjawab bagaimana harmonisasi sistem perkarantinaan ikan Indonesia dapat meminimalisasi hambatan-hambatan non-tarif yang saat ini menjadi tren di perdagangan dunia sehingga memperlancar akses pasar. Adapun upaya yang ditempuh seperti penetapan strategi dasar dan operasional kegiatan harmonisasi, kerjasama perkarantinaan ikan baik secara bilateral maupun multilateral yang melibatkan organisasi internasionalKata Kunci: harmonisasi, karantina, perdagangan, sanitari dan fitosanitari, SPS. ABSTRACTSanitary and Phytosanitary Agreements (SPS) are closely related to aspects of health and international trade. The health aspect of the SPS agreement means that each WTO member country can protect human, animal and plant life by implementing provisions to manage risks related to imports. Nowadays, the trend of world trade is towards non-tariff barriers, therefore quarantine is an important part of controlling world trade imports. The purpose of this paper is to answer how the harmonization of the Indonesian fish quarantine system can minimize non-tariff barriers which are currently a trend in world trade so as to facilitate market access. The efforts such as establishing basic strategies and operational harmonization activities, cooperation in fish quarantines both bilaterally and multilaterally involving international organizations respectively.Keywords: harmonization, quarantine, trade, sanitary and phytosanitary, SPS