Pengertian anak tunagrahita menurut American Association on Mental Deficiency (AAMD) mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian diri dan semua ini berlangsung (termanifestasi) pada masa perkembangannya. Pendidikan matematika yang dilakukan pada anak tunagrahita sedikit berbeda dengan anak lainnya sehingga topik pembicaraan penelitian ini adalah bagaimana proses pembelajaran anak tunagrahita dalam mengenal angka dengan hal tersebut pun menjadi rumusan masalah pada penelitian ini. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses belajar anak tunagrahita adalam mengenal angka. Metode yang digunakan adalah observasi lapangan yang melibatkan objek (siswa, guru, dan orang tua), wawancara yang dilakukan oleh peneliti, orang tua, dan guru, dokumentasi untuk memperkuat penelitian, serta studi literatur guna menambah wawasan dan informasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah anak tunagrahita memiliki beberapa kekurangan diantaranya adalah lemahnya daya serap/ingatan yang menyebabkan sulitnya mereka untuk mengingat angka yang telah diajarkan sehingga guru harus sekreatif mungkin untuk membantu siswa dapat mengingat materi pelajaran. Tak hanya itu, guru dan orang tua juga wajib bekerja sama demi kelancaran selama pembelajaran terlebih lagi anak tunagrahita yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.