This Author published in this journals
All Journal Journal Psikogenesis
Amanda Diva Anggraita
Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

The Relationship of Emotion Regulation and Subjective Well-Being in Young Adulthood Who Experiences Break Up Amanda Diva Anggraita; Laurentius Sandi Witarso
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2863

Abstract

Dewasa awal memiliki tugas memenuhi kebutuhan akan keintiman dengan menjalin hubungan romantis. Hubungan romantis memiliki tantangan, termasuk putus cinta. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terdapat dampak dari putus cinta secara emosional maupun kepuasan hidup, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan seseorang, sehingga individu pada masa dewasa awal perlu mengelola atau mengatur emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat hubungan antara dimensi regulasi emosi dan aspek subjective well-being (SWB). Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional. Seratus dua puluh lima partisipan penelitian ini diperoleh dengan metode convenience sampling dengan karakteristik berusia 20-30 tahun, mengalami putus cinta dalam kurun 6 bulan terakhir, dan belum menikah atau bertunangan. Data penelitian diperoleh dengan Emotion Regulation Questionnaire, Scale of Positive and Negative Experiences, dan Satisfaction With Life Scale secara daring, kemudian dikorelasikan menggunakan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara cognitive reappraisal dengan aspek afektif positif (r = 0.320, p 0.05)  dan negatif SWB (r = -0.283, p 0.05), serta aspek kognitif (r = 0.258, p 0.05). Sementara itu, expressive suppression tidak berhubungan signifikan dengan aspek afektif positif (r = -0.024, p 0.05) dan kognitif SWB (r = 0.068, p 0.05), hanya berhubungan signifikan dengan pengaruh negatif (r = 0.178, p 0.05). Cognitive reappraisal dianggap mampu mengurangi afek negatif dan meningkatkan afek positif. Sementara itu, expressive suppression dapat menyebabkan inauthenticity. Temuan tersebut berkaitan dengan faktor budaya kolektif Indonesia sebagai negara Asia yang memperjuangkan keharmonisan. Penelitian selanjutnya dapat memasukkan aspek kepribadian dan faktor pendukung hubungan.