Padi merupakan tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat dayak kalimantan utara, padi juga terkadang menjadi mata pencaharian masyarakat dayak kalimantan utara pada umumnya. Beras miau merupakan beras gunung dengan masa panen lima bulan, tinggi beras bisa mencapai dada orang dewasa, memiliki aroma yang harum seperti beras gunung pada umumnya, bentuk bulir beras miau ramping atau ramping dan bulirnya berwarna kuning jerami , namun permasalahan yang ada pada padi jenis ini adalah padi kosong yang cukup banyak, mudah terserang hama. Zat pengatur tumbuh berperan penting dalam pengendalian proses biologis pada jaringan tanaman. Perannya antara lain mengatur laju pertumbuhan setiap jaringan, mempercepat pembungaan, merangsang pertumbuhan akar, memutus masa dormansi, memperpendek masa panen, dan meningkatkan hasil produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis yang tepat untuk memperbaiki kekurangan yang terdapat pada beras miau. Penggunaan dosis yang tepat diyakini dapat memperbaiki masalah pada beras miau seperti banyaknya gabah kosong, umur panen 6 bulan dengan penggunaan hormon diharapkan dapat memperpendek umur panen. Penelitian dilaksanakan di Desa Jelarai, penelitian dimulai dari bulan Maret sampai September 2020. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dosis pertama 5 ml, dosis kedua 10 ml, dan dosis ketiga 15 ml dan pembandingnya adalah kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis H2 dan H3 memiliki peran masing-masing, H2 dalam proses pembungaan dan umur panen. Sedangkan H3 berpengaruh terhadap panjang malai, jumlah gabah terisi penuh dan kosong. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis (H2) ZPT 10 ml pada tanaman berpengaruh terhadap tanaman padi pada umur berbunga dan panen, dan H3 dapat meningkatkan produksi tanaman padi.