Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI MALAM SATU SURO PADA MASYARAKAT DESA GIRI SAKO KECAMATAN LOGAS TANAH DARAT KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Roni Ferianto; Teguh Widodo
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1125

Abstract

Tradisi Malam Satu Suro (Suroan) pada masyarakat Jawa perantauan di Desa Giri Sako merupakan tradisi yang masih dipertahankan di tengah perubahan sosial dan penguatan nilai keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan tradisi Suroan dari masa awal hingga sekarang, serta menganalisis upaya masyarakat dalam mempertahankannya dengan menggunakan perspektif Teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons (AGIL). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi, berlokasi di Desa Giri Sako, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi. Informan ditentukan dengan teknik purposive sampling, terdiri dari 4 informan utama dan 1 informan kunci. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Suroan mengalami transformasi dari ritual bernuansa kejawen dengan sesaji, ngumbah gaman, dan peran dominan sesepuh desa, menjadi kenduri dan doa bersama yang dipimpin ustaz dengan penekanan pada nilai-nilai keislaman, namun tetap dipertahankan di simpang empat sebagai lokasi pelaksanaan. Upaya pelestarian tradisi tampak melalui praktik gotong royong dan rewang, konsistensi lokasi ritual, motivasi spiritual, kesadaran kolektif, pewarisan nilai budaya kepada generasi muda, serta pemaknaan Suroan sebagai identitas budaya Jawa di perantauan. Dalam perspektif AGIL, tradisi Suroan berfungsi sebagai mekanisme adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola budaya yang menopang kohesi sosial dan identitas masyarakat Jawa di Desa Giri Sako.
PELAKSANAAN SOSIALISASI PENCEGAHAN STUNTING DAN PMT DI POSYANDU DESA SUNGAI TARAP KABUPATEN KAMPAR Yanuar Al Fiqri; Mawar Risa Dwi Santika; Nabila Fitriska; Annisa Dwi Afika; Tri Cahyo Prayogo; Salma Irba Arwani; Assilah Putri Aritonang; Dwi Ulfha Bakri; Naura Quratuain; Roni Ferianto; Zhoga Putra Pratama
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Keguruan dan Pendidikan (JPM-IKP) Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM-IKP)
Publisher : FKIP Universitas Trilogi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31326/jmp-ikp.v6i2.1747

Abstract

Stunting merupakan kondisi di mana tinggi badan anak tidak mencapai indeks tinggi atau panjang badan menurut umur. Upaya dalam mencegah stunting sudah sering dilakukan oleh beberapa pihak. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada anak-anak ataupun balita di Indonesia yang dikategorikan stunting ataupun yang berisiko stunting. Di Sungai Tarap, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar, ditemukan terdapat dua anak yang dikategorikan stunting dan dua anak yang berisiko stunting. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah hal ini terjadi  adalah dengan melakukan sosialisasi pencegahan stunting pada ibu-ibu yang memiliki anak balita serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada anak. Metode yang dilakukan untuk dapat memecahkan masalah ini adalah observasi, yang kemudian pengumpulan data didukung dengan melakukan wawancara pada beberapa sumber, dan pelaksanaan sosialisasi pencegahan stunting yang dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan (PMT). Tujuan dari dilakukannya kegiatan ini adalah untuk mengurangi tingkat anak yang berisiko stunting dan anak yang dikategorikan stunting di Desa Sungai Tarap, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar