Jellia Puspa Purnama
Sekolah Tinggi teologi Kharisma Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Komunitas Sel yang Memberdayakan Jemaat, Berfungsi dalam Tubuh Kristus melalui Metode Havruta Jellia Puspa Purnama
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 4, No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v4i2.213

Abstract

AbstractThis research discusses how a church can establish small groups that empower its congregation to function within the body of Christ through the implementation of the Havruta method. The research is conducted because if the congregation is left to be passive and idle, it can lead to a sick and stagnant church. Small groups are the essence of existence and a means to empower every member. Unfortunately, small groups often only become places of fellowship or Bible study, deviating from their true essence. Through this research, it is discovered that the Havruta method, an educational system originating from Jewish tradition, has advantages that can assist the church in empowering its congregation. It is found that the small group size and mission-focused approach in Havruta, which emphasizes a soul-winning system and and emphasizes on the partnership system, enables each member to effectively ignite the gifts of the Holy Spirit. This becomes crucial as it contributes to churches in empowering their congregations through small groups. AbstrakDalam penelitian ini dibahas bagaimana agar gereja bisa memiliki komunitas sel yang dapat memberdayakan jemaat sehingga dapat berfungsi di dalam tubuh Kristus, lewat penerapan metode Havruta. Penelitian ini dilakukan karena jika jemaat dibiarkan pasif dan menganggur, dapat mengakibatkan gereja menjadi sakit dan tidak bertumbuh. Komunitas sel merupakan esensi dari keberadaan serta sarana untuk dapat memberdayakan setiap jemaat. Sayangnya, komunitas sel seringkali hanya menjadi tempat persekutuan atau pendalaman Alkitab, sehingga telah menjauh dari esensi yang sebenarnya. Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa metode Havruta, sebuah sistem pendidikan yang berasal dari tradisi Yahudi, memiliki keunggulan yang dapat menolong gereja untuk melakukan pemberdayaan jemaat. Ditemukan dengan jumlah anggota yang kecil serta misi yang berfokus menjadi penjala jiwa serta sistem kemitraan yang diterapkan dalam Havruta membuat setiap anggota dapat mengobarkan karunia Roh Kudus dengan lebih efektif. Hal ini menjadi penting karena akan memberikan kontribusi bagi gereja-gereja dalam melakukan pemberdayaan jemaat melalui komunitas sel.
Model Transformasi Terhadap Budaya Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter jeung Singer Jellia Puspa Purnama; Yanto Paulus Hermanto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.460

Abstract

The Sundanese culture, known as cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer, also referred to as Gapura Panca Waluya, is deeply ingrained in the life of the Sundanese community. Unfortunately, Christianity is often perceived as a religion that opposes culture, even compelling individuals to abandon their native traditions. This perception arises because Christianity was introduced to Sundanese lands by European missionaries, who were associated with colonialism, making conversion to Christianity seem like adopting the religion of the colonizers. Through this research, the author aims to answer how the model of transformation for the Sundanese values of cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer can be achieved without opposing them but by transforming the existing understanding to help Sundanese Christians experiencing these cultural values. The data collection and analysis technique employed is a literature review. Through this research, the author hopes to ensure that the Gospel can remain relevant and contextual, especially for the Sundanese community, as God uses culture to communicate His plans and wills. Keywords: Sunda; cageur; bener; pinter; bageurAbstrak Budaya Sunda yaitu cageur, bageur, bener, pinter jeung singer, disebut juga dengan Gapura Panca Waluya merupakan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Sayangnya, kekristenan dianggap sebagai agama yang menentang budaya, bahkan dianggap memaksa seorang untuk meninggalkan budaya asal. Ini disebabkan oleh karena agama Kristen dibawa ke tanah Sunda melalui para misionaris Eropa yang identik dengan penjajah, sehingga memeluk agama Kristen dianggap memeluk agama penjajah. Lewat penelitian ini, penulis bertujuan ingin menjawab bagaimana model transformasi terhadap budaya Sunda cageur, bageur, bener, pinter jeung singer dengan tidak perlu menentang, namun mentransformasikan pengertian yang ada untuk menolong masyarakat Sunda Kristen mengalami nilai budaya tersebut. Adapun teknik pengumpulan dan analisa data menggunakan kajian literatur. Lewat penelitian ini, penulis berharap agar Injil bisa tetap menjadi relevan dan konstekstual khususnya bagi masyarakat Sunda, sebab Allah memakai budaya untuk mengkomunikasikan rencana dan kehendakNya.Kata Kunci: Sunda; cageur; bener; pinter; bageur
Teologi Kerahiman Allah: Sebuah respons teologis terhadap teknologi ektogenesis Rubin Adi Abraham; Jellia Puspa Purnama
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.486

Abstract

Ectogenesis technology, where the process of pregnancy can occur outside the human body through the use of an artificial womb, raises the question of whether the use of artificial wombs is in line with the concept of God's Womb Theology, as humans are created to reflect God's presence over this world. This study explores the theological construction of God's mercy to gain a Biblical perspective on the existence of Ectogenesis technology currently being developed. The study employs a qualitative method by conducting a literature review to find answers. Based on the conducted study, it is found that the existence of artificial wombs is not in harmony with the concept of God’s Womb Theology. The planned use of artificial intelligence in these artificial wombs does not reflect the character and power of God, which are manifested through the natural process of pregnancy within the human womb. This research aims to enable Christians to hold a firm and unified stance in responding to the existence of Ectogenesis technology while also contributing thoughtful insights to other academic disciplines. This is because the reproduction process is intertwined with God's presence as the Creator.AbstrakTeknologi Ektogenesis di mana proses kehamilan dapat terjadi di luar tubuh manusia melalui penggunaan rahim buatan menimbulkan pemikiran apakah penggunaan rahim buatan ini selaras dengan teologi kerahiman Allah, karena manusia diciptakan untuk merefleksikan keberadaan Allah atas dunia ini. Penelitian ini melakukan kajian konstruksi teologis kerahiman Allah untuk mendapatkan tinjauan Alkitab terhadap keberadaan teknologi Ektogenesis yang saat ini tengah dikembangkan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan melakukan kajian literatur untuk dapat menemukan jawaban. Berdasarkan kajian yang dilakukan ditemukan bahwa keberadaan rahim buatan tidak selaras dengan teologi kerahiman Allah, di mana rahim buatan yang juga direncanakan akan menggunakan kecerdasan buatan dalam pelaksanaannya tidak merefleksikan karakter dan kuasa Allah yang terwujud melalui proses kehamilan di dalam kandungan manusia. Melalui penelitian ini diharapkan agar umat Kristen bisa memiliki sikap yang tegas dan solid dalam menanggapi keberadaan teknologi Ektogenesis ini serta memberikan sumbangan pemikiran bagi bidang disiplin ilmu lainnya sebab proses reproduksi merupakan proses yang terintegrasi dengan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta.