Nyoman Lia Susanthi
ISI DENPASAR

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Destilasi Arak Bali Sebuah Alternatif Pencegahan Covid-19 Dalam Film Dokumenter Ida Bagus Hari Kayana Putra; Nyoman Lia Susanthi; I Nyoman Payuyasa
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Destilasi adalah kunci utama dalam pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi. Teknik destilasi pada minyak-minyak ini sekiranya dapat menumbuhkan ide pengembangan proses destilasi pada arak sebagai salah satu media kearifan lokal masyarakat Bali. Teknik pengobatan destilasi arak bali telah dimiliki oleh kearifan lokal masyarakat Bali sejak lama, sehingga metode pengobatan tradisional kini mulai dijamah kembali untuk menanggulangi kasus penyakit pernafasan yang marak beredar saat ini. Ditengah pendemi Covid-19 beberapa tokoh masyarakat mengungkapkan bahwa, secara Pharmatology pengobatan ini diformulasikan secara khusus oleh beliau dilakukan untuk membantu memudahkan oksigen masuk ke dalam tubuh penderita penyakit pernafasan. Masalah yang dirumuskan dalam artikel ini adalah bagaimanakah memvisualisasikan arak Bali sebagai alternatif pengobatan covid-19 Secara lebih khusus masalah yang diangkat adalah mengungkap rahasia dibalik arak sebagai obat tradisional hingga uji klinis arak yang dijadikan obat alternativ covid-19. film dokumenter berdurasi 30 menit metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara. Tahap penciptaan dalam pembuatan film dokumenter ini meliputi tiga poin utama, yaitu tahap praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Ketiga tahapan ini akan menjadi poin penting dalam penciptaan film Destilasi Arak Bali Sebuah Alternatif Pencegahan Covid-19 Dalam Film Dokumenter.
EXTRA-MUSICAL ELEMENTS OF THE MUSIC FILM KAWYAGITA MANDALA Nyoman Lia Susanthi; I Nyoman Payuyasa; Ida Bagus Hari Kayana Putra; Ketut Hery Budiyana
ARTISTIC : International Journal of Creation and Innovation Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/artistic.v7i1.7697

Abstract

This study examines the extra-musical elements of the music film Kawyagita Mandala, which highlights gong luang as a sacred and increasingly rare Balinese gamelan. The novelty of this research lies in conceptualizing extra-musical elements not merely as cultural background, but as structuring principles that shape cinematic form. Data were collected using a qualitative descriptive method through interviews with karawitan experts and the production team, supported by a literature review and observation. The findings identify four interrelated dimensions: tattwa (philosophy), susila (ethics), lango (aesthetics), and gegebug (technique), which guide the film’s mise-en-scène, cinematography, montage, and sound. Tattwa dictates ritual-based visual construction; susila regulates ethical production practices; lango shapes visual and sonic harmony; and gegebug reflects reconstructed performance techniques at Apuan Singapadu Studio. By framing these elements as cinematic structures, the study offers a novel perspective on translating sacred musical ontology into contemporary audiovisual practice while supporting cultural preservation.