Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penatalaksanaan Benda Asing Esofagus Ananda C. F. Maweikere; Steward K. Mengko; Olivia C. P. Pelealu
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.45224

Abstract

Abstract: Esophageal foreign bodies are common cases in hospitals and if not treated immediately, may lead to serious complications. This study aimed to determine the various methods of esophageal foreign body management that can be performed. This was a literature review study. Data were searched from three databases, namely Clinical Key, PubMed and Google Scholar. The results obtained 11 literatures to be reviewed. In addition to esophagoscopy, there were several other management techniques, including medical management using proteolytic enzymes, glucagon, and nitroglycerin, and other operative management, namely procedures with a dual-channel endoscope, Foley catheter, and double fogarty balloon catheter according to the type and location of the foreign body obstruction. In conclusion, management of esophageal foreign bodies includes both medical and operative management according to the type and location of foreign body obstruction in the esophagus. However, esophagoscopy method is the gold standard for esophageal foreign body management. Keywords: esophageal foreign body; medical management; operative management; esophagoscopy   Abstrak: Benda asing esofagus merupakan kasus yang sering ditemukan di rumah sakit yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai metode penatalaksanaan benda asing esofagus yang dapat dilakukan. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu Clinical Key, PubMed dan Google Scholar.  Hasil penelitian mendapatkan 11 literatur untuk dikaji. Selain esofagoskopi yang sering digunakan, terdapat beberapa teknik penatalaksanaan lain yaitu tatalaksana medis dengan menggunakan enzim proteolitik, glukagon, dan nitrogliserin serta tatalaksana operatif lain yaitu prosedur dengan dual-channel endoscope, Foley catheter dan double Fogarty balloon catheter yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis dan lokasi obstruksi dari benda asing. Simpulan penelitian ini ialah penatalaksanaan benda asing esofagus dapat dilakukan dengan tatalaksana medis dan operatif sesuai dengan jenis dan lokasi obstruksi benda asing di esofagus. Metode esofagoskopi merupakan baku emas untuk kasus benda asing esofagus. Kata kunci: benda asing esofagus; tatalaksana medis; tatalaksana operatif; esofagoskopi
Pendekatan Diagnostik Disfagia Orofaring dengan Pemeriksaan Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing pada Anak dan Dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Marsella P. Castendo; Steward K. Mengko; Moudi M. Mona
Medical Scope Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v6i2.53477

Abstract

Abstract: Dysphagia is a swallowing disorder that requires effort and time to digest food. It can occur in all age groups, due to damage of organ structures or certain medical conditions. The most common method of examining oropharyngeal dysphagia is Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES). This study aimed to obtain the clinical diagnosis and further management in dysphagia cases. This was a retrospective descriptive study with a cross sectional design. Samples were medical records of dysphagia patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from 2020 to 2023. The results obtained 32 cases out of 315 patients with dysphagia. Orophatyngeal dysphagia was more common in males (68.8%) and age 20-59 years (53.1%). Based on preswallowing and swallowing assessment, the characteristics that appear tend to be impaired in pharyngeal phase. The most common clinical diagnoses were aspiration pneumonia and laryngopharyngeal reflux (LPR) (each of 18.6%). Further management was diet modification and swallowing rehabilitation (78.7%). In conclusion, oropharyngeal dysphagia is common in male patients and occurs at the age of 20-59 years. The most common causes of oropharyngeal dysphagia are aspiration pneumonia and LPR. The FEES measures can determine further management, namely diet modification and swallowing rehabilitation. Keywords: oropharyngeal dysphagia; swallowing disorders; swallowing rehabilitation    Abstrak: Disfagia adalah gangguan proses menelan sehingga butuh usaha dan waktu untuk mencerna makanan yang dapat terjadi pada semua kelompok usia, akibat kerusakan struktur organ atau kondisi medis tertentu. Metode pemeriksaan disfagia orofaring yang sering dilakukan ialah Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diagnosis klinis dan manajemen lanjutan pada kasus disfagia. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah rekam medik pasien disfagia di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou sejak 2020-2023. Hasil penelitian mendapatkan 32 pasien yang memenuhi kriteria dari 315 pasien disfagia. Disfagia orofaring lebih sering dialami oleh laki-laki (68,8%) dan usia 20-59 tahun (53,1%). Berdasarkan hasil preswallowing dan swallowing assessment karakteristik yang muncul cenderung mengalami gangguan fase faring. Diagnosis klinis terbanyak ialah pneumonia aspirasi dan RLF (masing-masing 18,6%). Manajemen lanjutan yang dilakukan ialah modifikasi diet dan rehabilitasi menelan (78,7%). Simpulan penelitian ini ialah disfagia orofaring sering dialami oleh laki-laki, usia 20-59 tahun, dengan penyebab tersering yaitu pneumonia aspirasi dan RLF. Dengan tindakan FEES dapat ditentukan manajemen lanjutan yaitu dengan modifikasi diet dan rehabilitasi menelan. Kata kunci: disfagia orofaring; gangguan menelan; rehabilitasi menelan