Lalita Vistari
STABN Sriwijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten Dengan Permainan Seni Peran Lalita Vistari
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 8, No 2 (2021): December 2021
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah mahasiswa merasa malu dan takut berbahasa Inggris dikarenakan mereka tidak terbiasa menggunakan bahasa Inggris, takut salah pengucapan, tidak terbiasa atau tidak nyaman berbicara menggunakan bahasa Inggris. Mahasiswa terbiasa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah dalam lingkungan kelas dan ketika berada di komunitasnya. Hal ini dikarenakan kosakata mahasiswa tidak banyak, yang mengakibatkan hanya beberapa mahasiswa yang berbicara menggunakan bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris mahasiswa STABN Sriwijaya melalui metode seni peran. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menggunakan model Kemmis dan Taggart. Penelitian ini dilakukan dalam empat siklus dalam empat pertemuan. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Semester II Jurusan Dharmaduta dan mahasiswa Semester II Jurusan Dharmacarya sejumlah 23 mahasiswa. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi aktivitas mahasiswa dan butir pertanyaan mengenai keterampilan berbicara mahasiswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode seni peran dapat meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa Semester II Jurusan Dharmaduta dan Semester II Jurusan Dharmacarya. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata skor, di mana rata-rata pre-test sebesar 50,81 (kategori kurang); rata-rata skor pada siklus I adalah 59,39 (kategori cukup); rata-rata skor pada siklus II adalah 61,29 (kategori cukup); rata-rata skor pada siklus III adalah 64,54 (kategori cukup); dan rata-rata skor pada siklus IV adalah 66,84 (kategori baik). Seluruh mahasiswa menuntaskan permainan seni peran dan hasilnya dalam kategori baik di akhir siklus (post-test). Kosakata mahasiswa meningkat dan mulai berbicara mengunakan bahasa Inggris dengan percaya diri di depan teman-teman mereka.
Prinsip-Prinsip Manajerial Penyuluh Agama Buddha Di Provinsi Banten Bayu Jati Pamungkas; Edi Ramawijaya Putra; Lalita Vistari
Jurnal Pelita Dharma Vol. 9 No. 2 Edisi Juni 2023
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini penyuluh agama Buddha ketika berceramah menyampaikan materi yang tidak memiliki keterkaitan dengan sutta maupun referensi dalam agama Buddha, selain itu belum diketahuinya penerapan prinsip-prinsip manajerial penyuluh agama Buddha. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan Prinsip-prinsip Manajerial Penyuluh agama Buddha di Provinsi Banten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah Pembimbing Masyarakat Buddha dan Penyuluh Agama Buddha di Provinsi Banten. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah nontes dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa pedoman observasi dan pedoman wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukan adanya penerapan prinsip-prinsip manajerial penyuluh agama Buddha, pemahaman manajerial penyuluh agama Buddha dapat dilihat dari peran dan tugas yang dilakukan sesuai dengan program kerja yang telah disusun, faktor-faktor yang mempengaruhi prinsip-prinsip manajerial penyuluh agama Buddha antara lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Penerapan manajerial di dalam penyuluh agama Buddha dilakukan dengan menjalankan peran sebagai seorang Dharmaduta maupun pemimpin untuk pembacaan paritta di suatu acara. Kendala yang dihadapi dalam penerapan prinsip manajerial antara lain kurangnya sarana prasarana, kurangnya kemampuan berceramah, kurangnya penguasaan terhadap Dhamma dan kurangnya manajemen waktu. Dari penelitian ini dapat disimpulkan penyuluh agama Buddha dalam melaksanakan kegiatan bimbingan menerapkan prinsip-prinsip manajerial, selain itu penyuluh agama Buddha memiliki pemahaman terhadap prinsip-prinsip manajerial, namun dalam pelaksanaanya terdapat beberapa kendala yang terjadi tetapi hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan evaluasi mandiri maupun evaluasi dengan komunitas penyuluh agama Buddha khususnya di Provinsi Banten.