Miswari, Miswari
History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

REKONSTRUKSI IDENTITAS KONFLIK KESULTANAN PEUREULAK Nasution, Ismail Fahmi Arrauf; Miswari, Miswari
Paramita: Historical Studies Journal Vol 27, No 2 (2017): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v27i2.11159

Abstract

This present paper investigates the reconstruction of identity conflict in the history of Peureulak sultanate. The construction of history in the 20th century generally described the conflict splitting the Peureulak Sultanate into Peureulak Tonong and Peureulak Baroh as the feud between Ahlus-Sunnah wa al-Jama'ah and Shi'ites. This paper wants to reinterpret the identity conflict between Ahlus-Sunnah wa al- Jama'ah and Shiites which seem to have failed in interpreting the conflict between exoteric and esoteric understanding. This study revealed a strong evidence that conflict in Peureulak Sultanate was not between Ahlus-Sunnah wa al-Jama’ah and Shiites. The study also found that (1) the title of ‘Meurah’ is not a title devoted to the royal son of the Peureulak Sultanate. The title is, in fact, a part of titles ascribed to the descendants of the Prophet Muhammad, and (2) The first Islamic kingdom in the archipelago is not Peureulak Sultanate, but Jeumpa Sultanate. Tulisan ini bertujuan melakukan rekonstruksi identitas konflik dalam sejarah Kesultanan Peureulak. Konstruksi sejarah yang dilakukan pada abad ke- 20 umumnya menggambarkan konflik yang memecahkan Kesultanan Peureulak menjadi Peureulak Tunong dan Peureulak Baroh adalah perseteruan antara Ahlus-sunnah Waljama'ah dan Syi'ah. Tulisan ini ingin mereinterpretasi identitas konflik dari pemahaman konflik Ahlus-sunnah Walja-ma'ah dan Syi'ah yang tampaknya memiliki kegalatan penafsiran sumber ke konflik antara pemahaman eksoterik dan esoterik. Selain menghasilkan bukti kuat bahwa konflik dalam Kesultanan Peureulak bukanlah konflik Ahlus-sunnah Waljama'ah dan Syi'ah, dalam proses penelitian, penulis juga menghasilkan beberapa temuan lain. Di antaranya: (1) gelar 'meurah' bukanlah gelar yang dikhususkan pada putra Peureulak asli, gelar tersebut ter-nyata adalah bagian dari ragam gelar yang disematkan kepada keturunan Nabi Muhammad, dan; (2) kerajaan Islam pertama di Nusantara bukanlah Kesultanan Peureulak, tetapi Kesultanan Jeumpa.Â