Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN TERAPI RENDAM KAKI DENGAN AIR HANGAT (HIDROTERAPI) UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN PREEKLAMPSIA RINGAN DI RUMAH SAKIT UMUMASRI PURWAKARTA Yuli Erlina; Yumi Dian Lestari; Delapani Delapani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.17253

Abstract

ABSTRAKPreeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian maternal terbesar. Preeklampsia adalah komplikasi persalinan maupun kehamilan yang kita tandai karena meningkatnya tekanan darah proteinuria serta adanya penumpukan cairan didalam jaringan, sehingga kadang membuat seseorang menjadi koma. salah satu cara yang dapat menurunkan tekanan darah yaitu menggunakan terapi non farmakologi yaitu merendam kaki air hangat untuk menurunkan tekanan darah. Air hangat banyak memiliki manfaat bagi tubuh, khususnya dalam memperlancar peredaran darah. Tujuan: Mengetahui asuhan Keperawatan pada pasien yang mengalami preeklamsia dengan masalah hipertensi. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik. Hasil analisis menunjukkan terdapat beberapa diagnosis yaitu nyeri akut dan ansietas serta tekanan darah yang tinggi yaitu 200/160 mmHg. Salah satu intervensi yang dapat diberikan untuk menurunkan tekanan darah serta ansietas dan nyeri yaitu merendam kaki menggunakan air hangat. Kesimpulan: berdasarkan hasil evaluasi pada studi kasus yang dilakukan terapi nonfarmakalogi merendam kaki menggunakan air hangat dapat menurunkan tekanan darah pada ibu preklampsia karena menggunakan air hangat akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah yang dapat meningkatkan sirkulasi darah, sehingga efektif menurunkan tekanan darah ibu hamil dan di dapatkan hasil terjadi perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan perendaman kaki menggunakan air hangat dimana tekanan darah pasien menurun. Kata kunci: rendam kaki; air hangat; preklamsia ABSTRACTPreeclampsia is one of the biggest causes of maternal death. Preeclampsia is a complication of labor and pregnancy that is characterizedbyincreased BP, proteinuria and the accumulation of fluid in the tissues, so that sometimes a person goes into a coma. One way that can reduce blood pressureisusing non-pharmacological therapy, namely soaking the feet in warmwater tolower blood pressure. Warm water has many benefits for the body, especiallyinimproving blood circulation. Objective: To know nursing care in patients withpreeclampsia with hypertension problems. The method used is a case studywithdata collection techniques through observation, interviews and physical examination. The results of the analysis showed that there were several diagnoses, namely acute pain and anxiety and high blood pressure, namely 200/160 mmHg. One of the interventions that can be given to reduce blood pressure as well asanxiety and pain is soaking the feet using warm water. Conclusion: based ontheevaluation results in case studies conducted by non-pharmacological therapy, soaking the feet using warm water can reduce blood pressure in preeclampsiamothers because using warm water will cause dilation of blood vessels whichcanimprove blood circulation, so it is effective in lowering blood pressure in pregnant women and the results are obtained. there was a difference in blood pressurebefore and after soaking the feet using warm water where the patient's pressuredecreased. Keywords: foot soak; warm water; preeclampsi
SOSIALISASI LATIHAN BATUK EFEKTIF DI RSUD KARAWANG Yumi Dian Lestari; Grace Evelyn; Tasya Khoerunnisa
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.17166

Abstract

ABSTRAKPneumonia merupakan peradangan dari parenkim paru, pada asinus berisi cairan radang dengan atau  tanpa  disertai  infiltrasi  dari  sel  radang  ke  dalam  dinding  alveoli  dan  rongga  interstisium. Penyakit ini ditandai dengan batuk disertai nafas cepat dan atau nafas sesak. Sesak napas yang tidak  diatasidengan  cepat  dapat  mengakibatkan  gagal  nafasdan bisa  menyebabkan  kematian. Oleh  karena  itu  perlu  penanganan  secara  suportif  yang  salah  satunya  adalah  latihan  batuk efektif.Kegiatan dilaksanakan di Ruang Rawat Inap RSUD karawang bulan Juli 2022. Kegiatan  diawali  dengan pengukuran  frekuensi  napas, kemudian dilakukan pemberian  terapi latihan  batuk  efektif sehingga  frekuensi  napas dalam  batas  normaldengan  cara  demontrasi, diakhiri dengan posttest yaitu mengukur frekuensi napas pasien pneumonia. Hasildari kegiatan pengabdian  masyarakat  sebelum  dilakukan  latihan  batuk  efektif  didapatkan 20 orang  pasien dengan pneumonia mengalami frekuensi napas yang tinggi (lebih dari 25 kali/menit), kemudian setelah   dilakukan   penyuluhan   dan   demonstrasi   latihan   batuk efektif   terdapat   15   pasien pneumonia orang yang mengalami frekuensi napas dalam batas normalyaitu 23-25 kali/menit, dan 5 orang lainnya frekuensi napas  yang tinggi (lebih dari 25 kali/menit). Dapat disimpulkan adanya  peningkatanfrekuensisetelah  diberikan latihan  batuk  efektif. Diharapkan  kegiatan pemberian latihan batuk efektif ini dapat diterapkan dan dapat dijadikan sebagai intervensi oleh perawat tentang latihan batuk efektif pada pasien pneumonia. Kata Kunci: frekuensi napas; pneumonia; latihan batukefektif ABSTRACTPneumonia  is  an  inflammation  of  the  lung  parenchyma,  the  acini  contains  inflammatory  fluid with  or  without  infiltration  of  the  inflammatory  cells  into  the  alveoli  wall  and  the  interstitial cavity.  This  disease  is  characterized  by  coughing  with  rapid  breathing  and  /  or  shortness  of breath. Shortness of breath that is not resolved quickly can lead to respiratory failure and can lead to death. Therefore it needs supportive handling, one of which is effective cough training. The activity was carried out in the Sawahlunto Hospital inpatient room in September 2019. The activity  began  with  measuring  the  frequency  of  the  breath,  then  providing  effective  cough training  therapy  so  that  the  respiratory  rate  was  within  normal  limits  by  means  of  a demonstration,  ending  with  a  posttest,  namely  measuring  the  respiratory  rate  of  pneumonia patients. The results of community service activities before effective cough training were found that  16  patients  with  pneumonia  experienced  a  high  respiratory  rate  (morethan  25  times  / minute),  then  after  counseling  and  demonstrations  of  effective  cough  training  there  were  11 pneumonia patients who experienced breathing frequencies within the limit. normal, namely 23-25 times / minute, and 5 other people with high respiratory rates (more than 25 times / minute). It  can  be  concluded  that  there  is  an  increase  in  frequency  after  being  given  effective  cough exercises. It is hoped that the activity of providing effective cough training can be applied and can be used as an intervention by nurses on effective cough training in pneumonia patients Keywords: respiratory rate; pneumonia; cough exercises are effective