Yehuda Mandacan
Sekolah Tinggi Teologi Erikson Tritt

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Teologi Hosea sebagai Tipologi Konsep Keselamatan dalam Perjanjian Baru Kornelius Sutriono; Donna Crosnoy Sinaga; Yehuda Mandacan
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.128

Abstract

Soteriology is one of the most significant doctrines in Christianity. The theological concept of salvation stands as a central focus within Christian theology. Interestingly, the notion of salvation taught in modern Christian theology relies upon the systematic process of interpreting Biblical teachings. Of course, this dependence rests upon the interpreter's perspective regarding a particular scripture or topic within the Bible. Within Christian literature, there is still a scarcity of biblically-centered investigations into the concept of salvation. This study delves into the theological meaning of salvation based on Old Testament literature, specifically the book of Hosea. Employing a qualitative approach that examines religious documents, this research employs textual and intertextual analysis to construct the concept of salvation within the theology of the book of Hosea. Through a thorough investigation of prophetic actions and orations, it is evident that the theology of the book of Hosea serves as a typology of salvation within the New Testament and is even regarded as a doctrine of Christian salvation in the present day. The emphasis on the theology of reconciliation, redemption, and God's grace emerges as primary values within the theology of the book of Hosea. Despite humanity's inclination towards wrongdoing, God steadfastly commits Himself to bestowing grace, forgiveness, and reconciliation upon them. This is the essence of the Christian concept of salvation.Soteriologi merupakan salah satu doktrin terpeting dalam kekristenan. Konsep teologis tentang keselamatan ini merupakan salah satu pusat dalam teologi Kristen. Menariknya, konsep keselamatan yang diajarkan dalam teologi Kristen modern bergantung pada proses sistematisasi ajaran Alkitab. Tentu saja hal ini bergantung pada sudut pandang penafsir tentang suatu teks atau topik kitab. Dalam literatur Kristen, masih jarang ditemukan adanya penyelidikan secara biblika tentang konsep keselamatan. Penelitian ini mengksplorasi makna teologis tentang keselamatan berdasarkan literatur Perjanjian Lama, yaitu kitab Hosea. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang meneliti dokumen keagamaan. Analisis tekstual dan intertekstual digunakan untuk mengkonstruksi konsep keselamatan dalam teolog kitab Hosea.  Melalui penyelidikan mendalam terhadap tindakan dan orasi profetik, ditemukan fakta bahwa teologi kitab Hosea menjadi tipologi keselamatan dalam Perjanjian Baru, bahkan diyakini sebagai doktrin keselamatan Kristen pada masa kini. Penekanan pada teologi rekonsiliasi, penebusan dan anugerah Allah menjadi nilai utama dalam teologi kitab Hosea. Meskipun manusia menetapkan diri pada kejahatan, Allah tetap menetapkan diriNya memberikan anugerah, pengampunan dan pendamaian bagi mereka. Inilah hakikat konsep keselamatan Kristen.
Bersama bersaudara dalam kesatuan: Kerukunan sebagai kebajikan publik melalui pemaknaan paradigmatis-teologis Mazmur 133 Yehuda Mandacan; Federans Randa; Donna Crosnoy Sinaga; Rifky Serva Tuju
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1499

Abstract

This article constructs a Christian public theology of harmony (kerukunan) by employing Psalm 133 as a theological paradigm for understanding Indonesian cultural values within a biblical framework. While Indonesian rukun has been critiqued as promoting conflict avoidance that perpetuates structural injustices, this study argues for a theological reconstruction that retrieves its generative potential as a public virtue. Through historical-critical exegesis of Psalm 133, anthropological-theological analysis of the rukun concept, and comparative theological methodology placing both in critical correlation, this article demonstrates how the psalmist's vision of unity (yachad) provides a biblical-theological foundation for kerukunan that transcends passive tolerance. The analysis reveals that authentic rukun, informed by the covenantal and eschatological dimensions of Psalm 133, functions as active peacebuilding that honors both unity and justice. This research contributes to contextual theology by demonstrating how indigenous cultural values, when critically appropriated through biblical hermeneutics, can enrich both local Christian witness and international theological discourse.   Abstrak Artikel ini mengkonstruksi teologi publik Kristen tentang kerukunan dengan menggunakan Mazmur 133 sebagai paradigma teologis untuk memahami nilai budaya Indonesia dalam kerangka alkitabiah. Meskipun rukun Indonesia telah dikritik sebagai sikap menghindari konflik yang melanggengkan ketidakadilan struktural, penelitian ini berargumen untuk rekonstruksi teologis yang mengambil kembali potensi generatifnya sebagai kebajikan publik. Melalui eksegesis historis-kritis terhadap Mazmur 133, analisis antropologis-teologis terhadap konsep rukun, dan metodologi teologi komparatif yang menempatkan keduanya dalam korelasi kritis, artikel ini menunjukkan bagaimana visi kesatuan (yachad) sang pemazmur menyediakan fondasi biblis-teologis untuk kerukunan yang melampaui toleransi pasif. Analisis mengungkapkan bahwa rukun autentik, yang diinformasikan oleh dimensi perjanjian dan eskatologis Mazmur 133, berfungsi sebagai pembangunan perdamaian aktif yang menghormati kesatuan dan keadilan sekaligus. Artikel ini berkontribusi pada teologi kontekstual dengan mendemonstrasikan bagaimana nilai-nilai budaya indigenous, ketika diapropriasi secara kritis melalui hermeneutika biblika, dapat memperkaya kesaksian Kristen lokal dan diskursus teologis internasional.