Iqrina Widya Zahara
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Metode Diagnostik dan Pengobatan Trichomonas Vaginalis di Indonesia Iqrina Widya Zahara
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 6, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v6i3.15758

Abstract

Trikomoniasis adalah merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit protozoa Trichomonas vaginalis. Infeksi trikomoniasis dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Trikomoniasis memiliki gejala keputihan patologis dan disuria. Untuk menegakkan diagnosis trikomoniasis dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan sederhana secara langsung dengan membuat sediaan basah melalui secret vagina. Selain itu dapat juga melakukan pemeriksaan kultur yang merupakan standard uji baku emas untuk pemeriksaan trikomoniasis. Penyakit trikomoniasis sendiri dapat diberikan pengobatan dengan menggunakan metronidazole yang merupakan terapi pilihan utama dalam pengobatan trikomoniasis dengan dosis tunggal atau metronidazole multidosis.Kata kunci: trichomonas vaginalis, trikomoniasis, diagnostik, pengobatan
Perbedaan Jumlah Eosinofil Sebelum dan Sesudah Pemberian Pyrantel Pamoate pada Anak Sekolah Dasar yang Terinfeksi Cacing Soil Transmitted Helminths (STH) Dede Ulfiani; Iqrina Widya Zahara
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 5, No 3 (2024)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v5i3.20682

Abstract

Kecacingan merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan terutama pada cacing Soil Transmitted Helminth (STH). Cacing STH merupakan cacing golongan. Infeksi cacing STH merupakan infeksi yang berhubungan dengan adanya respon tubuh yang menghasilkan beberapa substansi mediator penyebab hipersensitivitas tipe 1 seperti eosinofil. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah eosinofil sebelum dan sesudah pemberian Pyrantel pamoate pada anak sekolah dasar yang terinfeki cacing STH. Metode : Pre eksperimental design dengan pretest-posttest without control grup design dengan melihat perbedaan jumlah eosinofil sebelum dan sesudah pemberian pyrantel pamoate pada anak anak yang terinfeksi cacing STH. Hasil : Hasil pemeriksaan tinja didapati murid yang positif terinfeksi cacing STH sebanyak (14,5%) dan negatif sebanyak (85,5%). Pada pemeriksaan jumlah eosinofil sebelum pemberian pyrantel pamoate dijumpai eosinofilia ringan (88,9%) dan eosinofilia sedang (11,1%). Pemeriksaan jumlah eosinofil sesudah pemberian pyrantel pamoate dijumpai eosinofil normal (94,4%) dan eosinofilia ringan (5,6%). Kesimpulan : Terdapat perbedaan jumlah eosinofil sebelum dan sesudah pemberian pyrantel pamate pada anak sekolah dasar yang terinfeksi STH.