This Author published in this journals
All Journal Linguistik Indonesia
Yusuf Willem Sawaki
(SCOPUS ID: 18635502400), CELD-UNIPA Manokwari

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Istilah Toponimi Tabui dan Humli pada Masyarakat Yali di Papua: Sebuah Kajian Semantik dan Pragmatik Yusuf Willem Sawaki
Linguistik Indonesia Vol. 41 No. 2 (2023): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v41i2.450

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara semantik dan pragmatik pada dua kata toponomi humli ‘dingin’ dan tabui ‘panas’ yang menjadi dasar pemaknaan kehidupan masyarakat Yali yang hidup di Pegunungan Tengah Papua bagian timur. Wilayah ini secara topografis merupakan wilayah yang bergunung-gunung dan curam dengan lembah yang sempit dan sungai-sungai yang besar serta tingkat kesulitan wilayah yang sangat tinggi. Dengan kondisi wilayah geografis yang demikian, masyarakat Yali memiliki pengetahuan mengenai kondisi topografi dan distribusi masyarakatnya pada wilayah topografis yang berbeda tersebut. Wilayah topografi yang dikenal oleh masyarakat Yali dinamakan humli dan tabui. Merujuk pada wilayah topografi, sufiks -mu/-mo/-ma, yang merupakan variasi alofonik, melekat pada kata, yaitu tabui-mu dan humli-mu untuk memberikan makna ‘tempat/lokasi,’ yang bermakna ‘tempat panas/hangat’ dan ‘tempat dingin/sejuk.’ Hubungan semantik, morfologi, dan sintaksis membuat kata dasar humli dan tabui memiliki aksesibilitas untuk mendapat imbuhan atau konstituen lain yang juga berkontribusi pada perluasan makna secara internal tetapi tidak mengubah kata dasar. Pada tataran pragmatik, makna kata humli dan tabui juga diperluas mengingat sistem tatanan hidup masyarakat Yali yang rumit dan abstrak. Dengan menggunakan konsep pragmatik common ground dan perangkat konteks, kedua kata ini dimaknai berdasarkan konteks penggunaannya yang bersumber dari faktor-faktor non-linguistik seperti pengetahuan geografis/topografis, botani, dan zoology, serta konsep manusia yang kemudian membentuk konsep ideologi dan religi.
Istilah Toponimi Tabui dan Humli pada Masyarakat Yali di Papua: Sebuah Kajian Semantik dan Pragmatik Yusuf Willem Sawaki
Linguistik Indonesia Vol. 41 No. 2 (2023): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v41i2.450

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara semantik dan pragmatik pada dua kata toponomi humli ‘dingin’ dan tabui ‘panas’ yang menjadi dasar pemaknaan kehidupan masyarakat Yali yang hidup di Pegunungan Tengah Papua bagian timur. Wilayah ini secara topografis merupakan wilayah yang bergunung-gunung dan curam dengan lembah yang sempit dan sungai-sungai yang besar serta tingkat kesulitan wilayah yang sangat tinggi. Dengan kondisi wilayah geografis yang demikian, masyarakat Yali memiliki pengetahuan mengenai kondisi topografi dan distribusi masyarakatnya pada wilayah topografis yang berbeda tersebut. Wilayah topografi yang dikenal oleh masyarakat Yali dinamakan humli dan tabui. Merujuk pada wilayah topografi, sufiks -mu/-mo/-ma, yang merupakan variasi alofonik, melekat pada kata, yaitu tabui-mu dan humli-mu untuk memberikan makna ‘tempat/lokasi,’ yang bermakna ‘tempat panas/hangat’ dan ‘tempat dingin/sejuk.’ Hubungan semantik, morfologi, dan sintaksis membuat kata dasar humli dan tabui memiliki aksesibilitas untuk mendapat imbuhan atau konstituen lain yang juga berkontribusi pada perluasan makna secara internal tetapi tidak mengubah kata dasar. Pada tataran pragmatik, makna kata humli dan tabui juga diperluas mengingat sistem tatanan hidup masyarakat Yali yang rumit dan abstrak. Dengan menggunakan konsep pragmatik common ground dan perangkat konteks, kedua kata ini dimaknai berdasarkan konteks penggunaannya yang bersumber dari faktor-faktor non-linguistik seperti pengetahuan geografis/topografis, botani, dan zoology, serta konsep manusia yang kemudian membentuk konsep ideologi dan religi.
Situasi Sosiolinguistik bahasa-bahasa di Tanah Papua Yusuf Willem Sawaki; Hugo Warami; Maryanti Mokoagouw; Ahmad Yani
Linguistik Indonesia Vol. 44 No. 2 (2026): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v44i2.1128

Abstract

Tanah Papua merupakan wilayah dengan keragaman bahasa tertinggi di Indonesia, yaitu sekitar 38% bahasa dari seluruh Indonesia, atau 276 bahasa dari dua rumpun utama: Papua dan Austronesia. Meskipun memiliki keragaman yang luar biasa, deskripsi sistematis dan menyeluruh tentang situasi sosiolinguistiknya dari masa ke masa masih terbatas. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan situasi sosiolinguistik di Tanah Papua dari perspektif temporal dan spasial: masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Pendekatan sosiolinguistik deskriptif digunakan dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data bersumber dari (1) penelitian lapangan langsung di berbagai wilayah ekologi di Tanah Papua, dan (2) literatur dan penelitian terdahulu yang sudah ada tentang bahasa-bahasa di Tanah Papua. Artikel ini mendokumentasikan sejarah migrasi manusia dan kontak bahasa di masa prasejarah dan kolonial, kondisi multilingualisme dan penggunaan lingua franca masa kini, perubahan sosiodemografis akibat migrasi penduduk asli Papua dan non-Papua, serta situasi keterancaman bahasa yang dialami banyak bahasa daerah di Papua. Temuan menunjukkan bahwa meskipun multilingualisme masih menjadi ciri khas Tanah Papua, meningkatnya migrasi penduduk non-Papua mengancam pemertahanan bahasa-bahasa daerah secara serius, sehingga program dokumentasi dan revitalisasi bahasa yang berkelanjutan sangat diperlukan.