Altobeli Lobodally
Ilmu Komunikasi, Fakultas Bisnis dan Komunikasi, Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Komodifikasi Hari Raya Natal dalam Film Last Christmas Biliam Biliam; Altobeli Lobodally
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v2i2.60

Abstract

Christmas has been commodified in various mass media products. This study aims to reveal the commodification of Christmas in the film Last Christmas. This research used the Commodification Theory and a qualitative approach with Roland Barthes's Semiotics method. The results of this study indicate that there is a shift in the mythology of Christmas Day, which is a holiday for Christians in interpreting the work of salvation and the arrival of the Savior, now interpreted as a moment to do good to others, a moment where people will spend their money to buy Santa Claus trinkets and Christmas trees which are considered as a symbol of 'Christmas'. The change in people's perspective on the mythology of Christmas Day certainly did not happen by accident. Still, it was deliberately made through the policy-making process that occurred in the production of the film Last Christmas.AbstrakHari Raya Natal telah dikomodifikasi dalam berbagai produk media massa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap komodifikasi Hari Raya Natal dalam film Last Christmas. Penelitian ini dilakukan menggunakan Teori Komodifikasi dan pendekatan kualitatif dengan metode Semiotika milik Roland Barthes. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pergeseran mitologi Hari Raya Natal yang merupakan hari raya bagi umat Kristiani dalam memaknai karya keselamatan dan kedatangan Sang Juru Selamat kini menjadi sebuah perayaan yang dapat dirayakan oleh semua orang. Hari Raya Natal kini dimaknai sebagai sebuah momen untuk berbuat baik kepada orang lain, momen dimana orang-orang akan menghabiskan uangnya untuk membeli pernak-pernik Sinterklas dan pohon natal yang dianggap sebagai simbolisasi ‘Natal’, dan momen untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Perubahan sudut pandang masyarakat terhadap mitologi Hari Raya Natal tentu terjadi bukan karena tidak disengaja, melainkan adalah hal yang sengaja dibuat melalui proses penentuan kebijakan yang terjadi pada sebuah produksi film Last Christmas