Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Efektivitas Model Pembelajaran Example Non Example, Picture and Picture dan Problem Based Learning Terhadap Pemahaman Konsep Siswa Thofil Nubatonis; Nonci Melinda Uki; Marince Inforsalina Leo
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 14, No 1 (2022): QUAGGA : Jurnal Pendidikan dan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v14i1.4827

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas Model Pembelajaran Picture and Picture, Example Non Example dan Problem Based Learning Terhadap Pemahaman Konsep Siswa. Metode yang digunakan adalah Quasi Experimental dengan desain  eksperiment pola M-G (matched group design) yang melibatkan tiga kelas. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar dan di analisis menggunakan uji Anova Satu jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa kelas example non example (Rata-rata 81.52), kelas picture and picture (rata-rata 86.47), kelas PBL (rata-rata 76.64), maka dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran Picture and picture efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa. Peningkatan pemahaman konsep siswa dibuktikan dengan analisis gain yang menunjukkan model pembelajaran example non example (rata-rata 0.69 kriteria sedang), picture and picture (rata-rata 0.86 kriteria tinggi) dan PBL (rata-rata 0.67 kriteria sedang). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Picture and picture efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa dilihat dari kriteria N-Gain.  This study aims at knowing the effectiveness of Example Non Example, Picture And Picture and Problem Based Learning (PBL) model towards students’ concept understanding. Quasi Experimental with Nonequivalent Control Group Design was used as the method by involving three classes, consisting of Example Non Example class, Picture and Picture class, and PBL class. The data were gathered from test and were analyzed using One Way Anova. The result shows that students’ concept understanding in Example Non Example class is 81.52 in the average, Picture and Picture Class is 86.47 in the average, and PBL class is 76.64 in the average. Hence it can be concluded that Picture and Picture learning model is effective to improve students’ concept understanding. The improvement of students’ concept understanding is proven with Gain Analysis which shows that Example Non Example learning model is on medium criterion with average score 0.69, picture and picture learning model is on high criterion with average score 0.86, and PBL model is on medium criterion with average score 0.67. This result shows that based on N-Gain criterion score, the application of Picture and picture learning model is effective to improve students’ concept understanding.
Identifikasi Metabolit Sekunder pada Sopi Kualin (SOKLIN) yang Dibuat Dengan dan Tanpa Fermentasi di Desa Kualin Nusa Tenggara Timur Matheos J Takaeb; Marince Inforsalina Leo
Jurnal Sains dan Edukasi Sains Vol. 6 No. 2 (2023): Jurnal Sains dan Edukasi Sains
Publisher : Faculty of Science and Mathematics, Universitas Kristen Satya Wacana, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/juses.v6i2p111-116

Abstract

Nusa Tenggara Timur memiliki berbagai kearifan lokal dan masih dipertahankan hingga sekarang. Budaya minum sopi sebagai sikap silaturahmi/kebersamaan dalam adat istiadat atau kehidupan sehari-hari. Desa Kualin, kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan menjadi produsen utama untuk minuman sopi yang dikenal dengan nama minumannya “SOKLIN”. Masyarakat desa Kualin menggunakan SOKLIN sebagai mata pecaharian utama. Akan tetapi, kajian sains tentang senyawa metabolit sekunder yang berperan sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba pada SOKLIN belum pernah dilakukan sehingga masyarakat menganggap bahwa rendaman sopi sangat berbahaya untuk tubuh. Identifikasi metabolit sekunder pada SOKLIN dengan metode ekstraksi dan fermentasi di Desa Kualin bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan dari dua metode ini. Pada proses ekstraksi maserasi, ramuan sopi direndam menggunakan etanol yang berasal dari pemurnian hasil fermentasi buah pisang kepok melalui tahap destilasi, sedangkan pada fermentasi langsung dibuat campuran antara buah pisang kepok dan ramuan sopi yang disimpan selama 6 hari. Selanjutnya, kedua sampel dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator. Hasil evaporasi kedua sampel diidentifikasi dengan cara uji fitokimia untuk menetukan golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung didalamnya menggunakan heksan. Hasil uji fitokimia membuktikan bahwa sampel ekstraksi mengandung senyawa flavonoid dan terpenoid sedangkan sampel fermentasi langsung mengandung senyawa terpenoid. Selanjutnya, proses identifikasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis diperoleh serapan panjang gelombang senyawa flavonoid yaitu 486 nm dengan absorbansi 0,499 dan senyawa terpenoid pada panjang gelombang 271 dengan absorbansi 0,40. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa senyawa metabolit sekunder dalam sopi desa Kualin lebih bagus dihasilkan melalui metode ekstraksi maserasi dari pada metode fermentasi.
Analysis of Learning Difficulties of Students in Biology Subjects in Junior High School Leo, Marince Inforsalina
Jurnal Pijar Mipa Vol. 20 No. 5 (2025)
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpm.v20i5.9822

Abstract

Students' learning difficulties are generally influenced by two aspects, namely internal factors and external factors. Internal factors involve a lack of interest in learning, a lack of natural talent in a particular field, and health problems that can hinder the learning process. This study aims to analyze the learning difficulties of eighth-grade students in biology at Satap Penmina Junior High School. Data analysis was conducted using descriptive qualitative methods, with data obtained from student learning outcomes and questionnaire responses. The analysis identified factors contributing to learning difficulties among students at SMP Satap Penmina, including both internal and external factors. Internal factors included health issues, self-readiness, and difficulties, while external factors included school facilities and family support. Based on the research findings, it was concluded that the factors causing students' difficulties in learning biology are internal factors such as health (32%), self-readiness (30%), and difficulties (32%) (low category). External factors include family (32%) in the low category and school (35%) in the moderate category.
A Quantitative Ethnobotanical Analysis of Medicinal Plant Use in the Treatment of Skin Diseases among the Amanuban Community, Indonesia O.F.I Tefu, Meti; I. Leo, Marince; J. Takaeb, Matheo; Rafael, Andriani
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 17 No 1 (2026): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v17i1.30931

Abstract

Traditional medicinal knowledge represents an important biocultural resource for community-based healthcare and biodiversity conservation. This study quantitatively analyzed the use of medicinal plants for treating skin diseases among the Dawan (Amanuban) community in South Central Timor, Indonesia. A descriptive quantitative ethnobotanical design was applied through semi-structured interviews, field observations, and plant documentation involving 40 purposively and snowball-selected informants. Plant importance and knowledge consensus were assessed using Use Value (UV), Relative Frequency of Citation (RFC), Fidelity Level (FL), and Informant Consensus Factor (ICF). The study recorded 17 medicinal plant species used to treat seven categories of skin diseases, including dermatitis, boils, scabies, acne, itching, chickenpox, and cracked heels. A total of 276 use reports were documented, with leaves being the dominant plant part used. High ICF values (0.93–1.00) indicated strong consensus among informants. These findings demonstrate a structured traditional knowledge system and suggest priority species for future phytochemical, pharmacological, and conservation studies. Analisis Etnobotani Kuantitatif Penggunaan Tumbuhan Obat dalam Pengobatan Penyakit Kulit pada Masyarakat Amanuban, Indonesia ABSTRAK: Pengetahuan pengobatan tradisional merupakan sumber daya biokultural penting bagi kesehatan berbasis masyarakat dan konservasi keanekaragaman hayati. Penelitian ini menganalisis secara kuantitatif pemanfaatan tumbuhan obat untuk pengobatan penyakit kulit pada masyarakat Dawan (Amanuban) di Timor Tengah Selatan, Indonesia. Penelitian menggunakan desain etnobotani deskriptif kuantitatif melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi tumbuhan terhadap 40 informan yang dipilih secara purposive dan snowball sampling. Tingkat kepentingan tumbuhan dan konsensus pengetahuan dianalisis menggunakan Use Value (UV), Relative Frequency of Citation (RFC), Fidelity Level (FL), dan Informant Consensus Factor (ICF). Hasil penelitian mencatat 17 spesies tumbuhan obat yang digunakan untuk mengobati tujuh kategori penyakit kulit, yaitu dermatitis, bisul, kudis, jerawat, gatal, cacar air, dan tumit pecah-pecah. Sebanyak 276 laporan penggunaan terdokumentasi, dengan daun sebagai bagian tumbuhan yang dominan digunakan. Nilai ICF tinggi (0,93–1,00) menunjukkan konsensus kuat antar informan. Temuan ini menunjukkan sistem pengetahuan tradisional yang terstruktur dan penting untuk penelitian lanjutan.