Khozinatul Asrori
STAI Darussalam Nganjuk

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Choosing Not to Have Children in the Perspective of Hadits and Maslahah Khozinatul Asrori
Law and Justice Vol. 8 No. 1 (2023): Law and Justice
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/laj.v8i1.2070

Abstract

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memiliki anak. Seiring waktu, memiliki anak tidak lagi menjadi tujuan dalam pernikahan, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang mendasar baik secara internal maupun eksternal. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan posisi fenomena childfree dalam pandangan maslahah dan hubungannya dengan hadis yang menjelaskan anjuran untuk menambah keturunan. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, terdapat nasihat dalam pernikahan untuk memilih wanita yang penuh cinta dan kasih sayang serta wanita yang subur dengan tujuan dan niat untuk menciptakan generasi berkualitas. Bagi Muslim yang memiliki komitmen untuk tidak memiliki anak setelah menikah, perlu dipertimbangkan apakah pilihan tersebut didasarkan pada dharurot atau tidak, jika terkait dengan hadis mengenai anjuran untuk menambah jumlah keturunan, pilihan untuk tidak memiliki anak setelah menikah (childfree) dianggap makruh. Namun, jika terdapat faktor-faktor lain yang bersifat dhoruriyah, seperti ancaman terhadap kelangsungan hidup, maka status hukum childfree dapat berubah, yang awalnya makruh menjadi diperbolehkan karena 'ilat' di baliknya.   One of the goals of marriage is to have children. Over time, having children is no longer a goal in marriage, this is due to the underlying factors both internally and externally. This article aims to explain the position of the childfree phenomenon in the view of maslahah and its relation to the hadith which explains the recommendation to increase offspring. This research is a literature research using descriptive analysis method. In the hadith narrated by Imam Ahmad there is advice in marriage to choose women who are filled with love and affection as well as women who are fertile with the aim and intention of trying to create a quality generation. For Muslims who have a commitment not to have children after marriage, it is necessary to consider whether the choice is based on dharurot or not, if it is related to the hadith regarding the recommendation to increase the number of offspring, the choice not to have children after marriage (childfree) is considered makruh . Nevertheless, if there are other factors that are dhoruriyah in nature , such as the threat of survival, then the legal status of childfree can change, which was originally makruh to become permissible due to the 'ilat' behind it.
Kondisi dan Tantangan Pesantren di Era Millenial Khozinatul Asrori; Khuzaimatul Baroroh; Muhammad Mahmudi
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 5 No 1 (2024): Education and Islamic Studies (Januari-Juni)
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v5i1.300

Abstract

Pesantren merupakan sistem pendidikan khas di Indonesia yang berakar sejak sebelum tersebarnya Islam. Meskipun sering diasosiasikan dengan karakteristik tertentu yang menunjukkan variasi tipe dan dianggap kurang terstruktur serta mungkin kumuh, pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan tradisional. Di pesantren tradisional, santri diberi kebebasan dalam belajar tanpa penekanan pada seleksi kualitas. Dengan masuknya Era Reformasi dan milenial, pesantren mengalami perubahan signifikan yang membawa peluang dan tantangan baru, terutama melalui otonomi daerah yang mendorong agenda pembaruan. Pesantren juga dianggap sebagai agen pembangunan yang berorientasi pada kepentingan rakyat, dipercaya untuk menyalurkan dana ekonomi dengan akar bawah yang kuat dan mentalitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun pesantren menunjukkan ketahanan dalam perannya sebagai institusi pendidikan Islam, untuk memenuhi kebutuhan pembangunan, pesantren perlu diperbarui agar dapat berfungsi sebagai pusat penting dalam pembangunan masyarakat secara keseluruhan.