Usaha ternak ayam petelur merupakan salah satu usaha yang dapat menjadi sumber pendapatan utama bagi peternak. Kecamatan Tlanakan memiliki populasi ternak ayam terbanyak dan berasal dari Desa Gugul. Populasi ternak ayam petelur sebesar 85.000 ekor, berasal dari hasil 45 peternak ayam petelur. Pada awal 2022 jumlah peternak ayam petelur tinggal 30 usaha ternak. Penurunan jumlah ternak ayam petelur saat ini menyebabkan hasil telur yang dihasilkan dan pendapatan peternak di Desa Gugul berkurang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik peternak dan usaha ternak ayam petelur dan tingkat pendapatan peternak ayam petelur di Desa Gugul Kecamatan Tlanakan. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif, dengan objek seluruh usaha ternak ayam petelur yang ada di Desa Gugul Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan terdiri dari sebanyak 10 peternak dan usaha ayam petelur yang masih aktif. Karakteristik peternak meliputi: umur, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, jenis gender, motivasi beternak, lama beternak. Karakteristik usaha ternak meliputi: skala usaha, curahan waktu dan pengetahuan beternak. Tingkat keuntungan dianalisis dari biaya produksi, penerimaan, pendapatan, BCR, dan RCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karaketristik peternak ayam petelur di Desa Gugul berusia 31- 60 tahun, dengan pekerjaan utama sebagai petani dan peternak; tanggungan keluarga berkisar antara 3 - 6 orang; berpendidikan SD - SMA; lama beternak kurang dari 10 tahun sebanyak 50% dengan motivasi yang kuat sebagai peternak. Karateristik usaha ternak: 60% peternak memiliki skala usaha kurang dari 500 ekor, 30% memiliki 500- 1200 ekor, dan 10 % memiliki skala usaha sebesar 20.000 ekor. Curahan waktu terhadap usaha ternak selama kurang dari 5 jam/hari sebanyak 90%. Pengetahuan tentang usaha ternak 90% diperoleh dari belajar sendiri. Komponen biaya total terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel dan biaya total sebesar 1.82%, dan 98.18%. Penerimaan berkisar antara Rp 2.016.656,00 hingga Rp 628.603.711,00; Keuntungan antara Rp -17.754.711.289,00 hingga Rp -63.626.291,00 dengan BCR antara -0.99 hingga -0.39; sedangkan R/C rasio antara 0,01 dan 0,61. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ternak saat ini masih merugi akibat biaya pakan dan bibit yang tinggi, sedangkan produksi dan harga telur yang rendah