Dinar Aulliyah Balqis
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengelolaan Sampah Rendah Karbon Menggunakan Pemodelan System Dynamics Dinar Aulliyah Balqis; Ivan Chofyan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9295

Abstract

Abstract. Waste management is a crucial sector for controlling emissions. Transferring waste to landfills will produce methane gas, which is five times more fatal than CO2. Bandung city still relies on landfills for its waste management. 70% of its waste treated by regional on overcapacity landfill. Meanwhile, the 30% reduction target cannot be achieved without the informal sector. Therefore, a waste management system strategy from the source is needed, it would reduce the waste entering landfills only and prevents methane production. This study aims to determine the impact of the current waste management system on the emissions produced, then formulate a management system scenario that can reduce this impact. To achieve the first objective, primary data through observation become input for descriptive analysis of the existing system. Then, this analysis supports quantitative analysis in system dynamics with the last seven years from the institution. The base model is intervened through scenarios, including consumption reduction, TPS4R, and cooperation. The results show that the existing waste management system has poor performance if continued, it can only handle 6% of emissions in 2041 compared to its production. In addition, from the simulated scenarios, the best one is consumption reduction because it prevents waste production itself. Actions taken include limiting spending on consumption, only buying essentials, buying overstock products sold at half price, and so on. The consumption reduction scenario can reduce waste handled by landfills by up to 67,8%, unhandled waste by up to 70%, and optimal emission production by 64,4%. Abstrak. Pengelolaan sampah adalah sektor penting untuk mengendalikan emisi. Sampah yang terus ditransfer ke TPA akan menghasilkan gas metana yang dampaknya 5 kali lebih fatal dibandingkan CO2. Kota Bandung merupakan salah satu kota yang masih mengandalkan TPA dalam pengelolaan sampahnya. Bahkan target penanganan sampah yang mencapai 70% itupun dilakukan TPA regional yang overload. Sedangkan target pengurangan 30% tidak bisa efektif tanpa sektor informal. Maka dibutuhkan strategi sistem pengelolaan sampah sedari sumber, bukan hanya mengurangi sampah di TPA tetapi juga mencegah produksi metana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak sistem pengelolaan sampah eksisting terhadap emisi yang dihasilkan, lalu merumuskan skenario sistem pengelolaan yang dapat mengurangi dampak tersebut. Untuk mencapai tujuan pertama dibutuhkan data primer, hasil observasi lapangan menjadi masukan analisis deskriptif untuk sistem eksisting. Lalu, analisis tersebut menjadi pendukung analisis kuantitatif dalam dinamika sistem dengan data sekunder 7 tahun terakhir dari instansi kebersihan Kota Bandung. Model dasar dari pengelolaan eksisting kemudian diintervensi melalui skenario-skenario tunggal yang meliputi pengurangan konsumsi, TPS4R, dan kerja sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah eksisting memiliki performa yang buruk jika dilanjutkan, bahkan di tahun 2041 hanya dapat menangani 6% emisi dibandingkan produksinya. Selain itu, dari skenario yang disimulasikan, yang paling baik performanya adalah pengurangan konsumsi karena mencegah produksi sampah itu sendiri. Tindakan yang dilakukan di antaranya, membatasi pengeluaran untuk konsumsi, hanya membeli yang esensial, membeli produk overstock yang dijual setengah harga, dan sebagainya. Skenario pengurangan konsumsi dapat menurunkan sampah yang ditangani TPA hingga 67,8%, sampah tidak tertangani sampai 70%, serta produksi emisi optimal 64,4%.