Papua memiliki riwayat konflik berkepanjangan dimulai sejak awal berdirinya RI sebagai suatu negara merdeka dan berdaulat penuh hingga pada masa pembangunan saat ini, konflik terjadi akibat dari keinginan Kerajaan Belanda untuk tetap menguasai wilayah Indonesia menjadi bagian dari negaranya, Papua sebelumnya dibawah kekuasaan kerajaan Belanda di wilayah Hindia Belanda yang terakhir bergabung kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui konfrotasi fisik dengan pengerahan kekuatan bersenjata maupun konfontasi komunikasi melalui langkah-langkah diplomasi kenegaraan. Penelitian ini mengkaji tentang peristiwa komunikasi yang terjadi di Papua dimana melalui komunikasi yang dijalankan oleh prajurit TNI AD baik secara pribadi indifidu maupun secara kesatuan dalam upayanya mengembalikan anak bangsa kedalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa komunikasi yang dibahas merupakan komunikasi sebagai praktek nyata dalam kehidupan prajurit TNI AD ketika melaksanakan interaksi sosial dengan masyarakat Papua, yang memiliki latar belakang yang berbeda terutama latar belakang budaya yang akan dipadukan dengan teori komunikasi sehingga menjadi suatu karya yang bermanfaat sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas pembinaan territorial di daerah rawan Papua. Komunikasi melalui Interaksi sosial dilakukan dengan menggunakan symbol symbol verbal yaitu melalui penyampaian pesan dengan symbol symbol bahasa kata kata langsung kepada masyarakat maupun secara non verbal dengan memperhatikan symbol symbol yang berlaku dalam masyarakat. Simbol simbol yang digunakan baik melalui symbol keagamaan Nasrani yang memiliki penganut terbesar di daerah tersebut, symbol symbol yang berlaku dalam masyarakat adat maupun symbol symbol kebersamaan.