Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SIMBOL DALAM SUKU DAYAK KAYAN KALIMANTAN UTARA Musa Kiring
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i2.60025

Abstract

Simbol dalam Suku Dayak Kayan. Simbol adalah tanda atau suatu isyarat dalam masyarakat Dayak Kayan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat lainnya. Selain daripada itu simbol juga menjadi alat komunikasi kepada Roh nenek moyang dari masyarakat Dayak Kayan. Penelitian ini sangat penting untuk diteliti guna untuk melestarikan kebudayaan yang dimiliki agar generasi sekarang tidak melupakan kekayaan dari kebudayaan yang dimiliki, Sehingga kebudayaan itu tidak mengalami kepunahan, dan dilupakan. Adapun tujuan dari penelitian ini dilakukan yaitu untuk mendeskripsikan makna, fungsi simbol dalam masyarakat Dayak Kayan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, sedangkan metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Objek penelitian dilakukan di Desa Naha Aya Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara suku Dayak Kayan. Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa simbol dalam masyarakat Dayak kayan merupakan alat komunikasi antar masyarakat dan alat komunikasi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada beberapa simbol-simbol yang digunakan dalam budaya Dayak kayan Yaitu; simbol Kalung (ukiran) merupakan bahasa tulis, dan sekaligus simbol keindahan dan keharmonisan dalam bermasyarakat, Malat (Parang) merupakan senjata yang digunakan untuk berburu dan berperang, serta sebagai perlengkapan tari. Parang memiliki simbol yaitu keberanian. Kelembit (Tameng) merupakan perlengkapan perang yang berfungsi sebagai pelindung diri dan sekaligus menjadi alat bantu dalam berenang di air.  Hiput (Sumpit), merupakan senjata untuk berburu binatang seperti babi, rusa serta binatang lainnya.  Iling Aru (Telinga Panjang) merupakan tanda atau pembeda antara orang dayak dan monyet, dan sekaligus menjadi  simbol kecantikan bagi wanita dan tampan bagi kaum laki-laki. ,Betik (tato). Merupakan simbol pembeda antara masyarakat biasa dengan masyarakat keturunan raja.
Metode Pembelajaran Musik Keyboard Bagi Pemula Usia 11-15 Tahun Musa Kiring
Clef : Jurnal Musik dan Pendidikan Musik Vol. 5 No. 1 (2024): Clef: Jurnal Musik dan Pendidikan Musik
Publisher : Program Studi Pendidikan Musik Gereja IAKN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/cjmpm.v5i1.1387

Abstract

Alat musik keyboard merupakan alat musik instrumen yang sering digunakan baik di panggung hiburan, Gereja atau dirumah. Yang berfungsi untuk mengiring orang dalambernyanyi. Tidak semua orang yang mampu memainkan alat musik tersebut oleh karena ketidak tahuan mereka dalam melatih diri. Serta banyak pemain keyboard yang belajar secara otodidak atau belajar sendiri, sehingga permainan musik mereka tidak berkembang oleh karena kurannya pengetahuan musik atau teori musik. Dalam penulisan ini penelitikan akan memberikan metode pembelajaran tentang dasar bermain alat musik instrumen keyboard bagi pemula. Dimulai dengan memperkenalkan alat musik, belajar teori musik dan belajar penjarian. Metode yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah metode kualitatif. Dengan menggunakan pendekatan observasi dan wawancara. Dari metode latihan yang diberikan kepada peserta didik bahwa mereka mampu mengikuti arahan dari pelatih dalam melatih tangan kanan dan tangan kiri dalam penjarian sehingga mulai terampil. Dengan melatih tangan kanan dan tangan kiri terlebih dahulu dalam permainan keyboard maka peserta didik akan terampil lembut dalam bermain alat musik keyboard. Sehingga peserta didik mampu membaca notasi musik dalam latiham musik keyboard. dengan belajar teori musik, maka peserta didik mampu mengembangkan sendiri kemapuan musik mereka dengan belajar sendiri dirumah, dengan teori yang telah diberikan oleh pelatih musik.
Organologi dan Fungsi Sape dalam Ritual Panen Raya Dayak Kayan Kalimantan Utara Musa Kiring
SENDRATASIK UNP Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/js.v12i3.125265

Abstract

This article aims to provide understanding and knowledge to the younger generation about the organology and function of Sape music used in the Dayak Kayan harvest ritual in North Kalimantan. This research uses a qualitative descriptive research method with data collection techniques through observation, interviews and documentation steps. Observations were carried out on the Kayan tribe in Naha Aya Village, Peso Hilir District, Bulungan Regency, North Kalimantan. To analyze the results of this research, the researcher carried out data reduction, then the data was presented in the form of descriptions and images, and finally concluded. The results of the research explain that the organology of the Sape music used in the harvest ritual is Sape with 3 strings and was studied in terms of organology, how to make it and how to play the stringed musical instrument. Apart from that, Sape music has a role and function in the Dayak community's harvest rituals, including: 1) functioning as a medium for religious rituals; 2) functions as an entertainment medium, as a dance accompaniment medium, 3) functions as a communication medium, 4) functions as a self-expression, 5) functions as an economic means, and 6) functions as a symbolic offering. By providing understanding and knowledge to the younger generation regarding the form and function of Sape music in harvest rituals, it is hoped that the younger generation will preserve and preserve traditional Sape music.
Kontekstualisasi Musik Tradisional Sape Dalam Ibadah di Gereja Kemah Injil Indonesia Kalimantan Utara Musa Kiring
Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni Vol. 1 No. 2 (2023): Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jmcd.v1i2.20

Abstract

Sape adalah alat musik petik yang berasal dari suku Dayak Kalimantan. Alat musik sape berfungsi sebagai media hiburan serta mengiring tarian dalam acara ritual adat. Namun gereja cendrung tidak menggunakan musik sape dalam ibadah. Oleh sebab itu penulis akan membahas dengan topik kontekstualisasi musik sape dalam ibadah di Gereja Kemah Injil Indonesia Kalimantan Utara. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberi pemahaman kepada gereja pengaruh dari penggunaan alat musik sape terhadap jemaat memberi motivasi kepada pemusik gereja untuk menggunakan musik sape dalam ibadah. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjawab permasalah yang ada. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mencapai data yang akuratmaka peneliti menggunakan beberapa metode atau teknik pengumpulan data, berupa metode wawancara, dan metode observasi. Penelitian ini peneliti akan melakukan penelitian kepada Gereja Kemah Injil Indonesia Kalimantan Utara tentang kontekstualisasi alat musik sape dalam ibadah.  Penelitian ini mampu memberi pemahaman kepada jemaat, hamba-hamba Tuhan tentang fungsi dan dampak dari kontekstualisasi alat musik sape dalam ibadah, sehingga jemaat senang atau bersuka cita dalam bernyanyi dan setia beribadah.
Pengaruh Skill Musik dalam Ibadah di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Parousia Makassar Musa Kiring
Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni Vol. 2 No. 2 (2024): Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jmcd.v2i2.194

Abstract

Musik merupakan salah satu unsur terpenting dalam gereja atau ibadah. Karena musik memiliki peran penting dalam ibadah yang mampu memberi dampak positif dalam ibadah terutama mengiring jemaat dalam bernyanyi. Namun ada sebagian gereja yang tidak memperhatikan musik dalam ibadah. Sehingga musik bukan menjadi media pengiring untuk membawa jemaat untuk menghadap Tuhan tetapi malah mengganggu jemaat dalam bernyanyi atau menyembah Tuhan. Untuk itu dalam penulis ini  penulis atau peneliti akan membahas dengan topik Pengaruh Skill musik dalam ibadah di gereja kemah injil indonesia jemaat parousia Makassar. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberi pemahaman kepada pemusik dan jemaat pengaruh skill musik dalam ibadah dan memberi motivasi kepada pemusik gereja untuk lebih lagi berlatih musik. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjawab permasalah yang ada. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mencapai data yang akurat maka peneliti menggunakan beberapa metode atau teknik pengumpulan data, berupa metode wawancara, dan metode observasi. Penelitian ini lakukan di Gereja Kemah Injil Indonesia jemaat parousia Makassar. Kiranya penelitian ini mampu memberi pemahaman kepada pemain musik untuk lebih lagi menambah pengetahuan dan skill dalam bermain musik terutama menguasai teori musik, menguasai alat musik. Sehingga jemaat dapat merasakan pengaruh musik yang dimainkan dalam ibadah sehingga jemaat dapat bergairah dalam bernyanyi dan membentuk spritual jemaat dalam memuji Tuhan.